Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 178


__ADS_3

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku ... ?" ucap Veni seraya membelakangi Dani.


Tangannya Veni sendekapkan di depan dada, pandangan nya lurus menatap taman yang indah di ruangan itu.


"Aku hanya memiliki 10 menit untuk bicara dengan mu, apakah kau tidak merindukan kakak mu ini ... ?" mata Dani sudah berkaca-kaca, Veni terkejut mendengar perkataan itu.


Dani menghadap kan tubuhnya Veni kearahnya.


"Maafkan kakak ... ini adalah uang yang selama ini kau kirimkan ke Ibu, aku bukannya tidak mengurus Ibu, tapi Ibu tidak ingin berobat" Dani memberikan sebuah kartu pada Veni


"Semua uangmu ada dalam kartu itu, kau periksa lah, jika kurang, kakak akan menambahkan nya untukmu, jangan benci kakak" Ucap Dani akhirnya.


Wajah Dani tertunduk, ia tidak bisa melihat mata wanita yang begitu ia cintai sejak dati kecil.


Cinta antara kakak dan adik.


"Maafkan kakak saat itu, tapi percayalah ... kau adalah adik terbaik untuk kakak, tetaplah jadi kebanggaan Ibu dan Kakak, dimana pun kamu berada semoga kau selalu bahagia" Dani membelai kepala Veni.


Veni yang masih syok dengan perkataan dan tingkah Dani membuatnya semakin bingung.


"Kau ingin membawa Ibu kan ... ? bawalah ... jika kakak ada waktu, pasti kakak akan menjenguk nya di sana " ucap Dani


Saat Dani ingin melangkah kan kakinya, Veni bersuara.


"Kau ... !"


"Panggil aku kakak sama seperti dahulu, kita saudara maka akan tetap jadi saudara " ucap Dani yang kini telah berbalik menatap Veni.


"Veni ... kau tetap gadis kecil bagiku, andai aku bisa meminta, aku ingin memutar waktu agar kembali pada masa lalu, dimana aku dan kau hanya tahu bermain dan bermain saja" ucap Dani.


"Aku harap kau melupakan hari itu, meski ku tahu itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi mu" Dani berkata dengan masih menundukkan kepalanya.


Ia berusaha menguatkan dirinya agar tidak rapuh di hadapan Veni.


"Sudah 10 menit, waktuku sudah habis, pergilah ... " Kepala Dani terangkat untuk menatap adiknya yang masih terdiam.


Dani tersenyum pada Veni, senyum yang duku selalu Veni lihat, sehingga Veni jatuh hati padanya.


*****

__ADS_1


"Apakah kau beecanda, kakak akan 1 bulan di sana ... ?" ucap Marissa


"Ya, bisa di bilang begitu, apalagi sekarang perginya bersama Angelina, doble kan tujuan kakak mu" ucap Alan yang kini duduk di atas meja kerja Marissa


"Tapi, menurut ku enak juga, kita bisa Ehem ... ehem kan kalau tidak ada kakak mu hehehhe" tawa Alan yang langsung mendapatkan pukulan dari Marissa.


"Alan ... " pekik Marissa saat Alan membalas pukulan Marissa dengan kecupan di pipinya.


"Sudah jangan emosi, aku bercanda ... aku tidak akan melakukan hal begituan dengan orang yang aku cintai, sebelum kita sah dalam ikatan pernikahan " ucap Alan


"Jadi ... kalau sama orang yang tidak kau cintai kau tidak akan melakukan nya ... ?" tanya Marissa namun dengan nada kesal


"hei, mana bisa seperti itu ... jika aku bisa manahan nya pada orang yang aku cintai, apakah aku masih minat dengan mereka ... ? sudah jangan melotot begitu ... !" Alan berkata seraya memeluk Marissa.


"Kau tahu ... ! ini adalah keinginan ku, bisa memeluk mu setiap saat, bisa ada di saat kamu membutuhkan aku, aku ingin selalu menjadi yang pertama untukmu, pertama saat kau sedih atau bahagia, aku ingin menjadi orang yang selalu bisa kau andalkan, Marissa kau memiliki aku sekarang, jika ada apapun beritahu aku, jangan kau simpan sendiri lagi" ucap Alan seraya meletakkan dagunya di atas kepala Marissa


"Aku tahu, terimakasih ... ku harap aku juga bisa ada untuk mu" Marissa membalas pelukan Marissa


"eh, aku dengar-dengar Veni berhasil menaklukkan hati Asisten Li benarkah ... ?" tanya Alan


"Iya, dia hebat kan ... ? padahal ... Veni selalu tampil bar-bar dan juga penampilan nya terlihat ke kanak-kanakan" ucap Marissa


"Hahahha kau benar, padahal awalnya Leona hanya ingin membuat taruhan saja, ternyata Veni benar-benar mampu menaklukkan nya, Hebat ... hebat" Marissa tertawa seraya melepaskan pelukannya.


"Bagaimana ya ... cara pacaran Asisten Kaku itu, apalagi di sisinya ada si bar-bar ... ?" ucap Marissa yang terlihat sangat berfikir.


Alan langsung menjitak keningnya Marissa sehingga ia sadar.


"Kau lagi membayangkan apa ... ?" ucap Alan


"Alan ... ! sakit tau ... " Marissa memegang keningnya pura-pura sakit.


Lalu Alan menangkup kedua pipi Marissa dan mencium kening yang tadi sudah ia jitak.


"Bagaimana ... ? apa masih sakit ... ?" Alan berkata setelah mencium kening Marissa


"Masih ... lagi ... " ucap manja Marissa seraya menyentuh keningnya agar di cium lagi oleh Alan.


Mereka pun berpelukan penuh dengan mesra.

__ADS_1


Andaikan waktu bisa berhenti saat ini juga, maka Alan dan Marissa sudah merasakan kebahagiaan.


Cinta datang tanpa mereka sadari kapan ... dimana ... dan pada siapa ... ?


Orang hebat seperti Tian Alvaro bisa jatuh pada Janda seperti Leona.


Si Kaku tak kalah hebat bisa jatuh pada si cewek bar-bar.


Bukankah itu sudah menunjukkan bahwa bukan kita lah yang memilih cinta, tapi hati ... hatilah yang akan memilih dimana ia akan berlabuh dengan rasa nyaman.


*****


"Apakah kau masih belum tenang ... ? ibu sudah ada bersama kita" ucap Asisten Li seraya menyetir mobilnya.


"Aku tahu ... aku tenang, terimaksih tanpamu aku tidak akan bisa melakukan ini" ucap Veni


"Tetaplah ceria, hanya itu yang aku harapkan darimu" Li berkata seraya melihat wajah Veni dari spion depannya.


Ya kini Veni duduk di belakang menemani Ibunya.


Ibunya yang tertidur, seraya bersandar ke sandaran kursi mobil.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dimana Ibunya Leona di rawat dulu.


"Asisten Li, siapa dia ... ?" tanya Dokter Jimmy


"Namanya Bu Rosma ..., kau tangani dia dengan baik " ucap Asisten Li tanpa melihat ke arah Jimmy


"Jangan bilang kau sudah ketularan Tian, iss ... wanita mana yang sudah menaklukkan mu Li ... semoga dia bukan wanita jadi-jadian " ucap Jimmy yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Asisten Li.


"Kalau wanita normal, dia tidak bisa berinteraksi dengan orang se kaku kamu, senyum saja tidak " ucap lirih Jimmy namun masih terdengar jelas oleh Asisten Li.


"Oke ... oke ... kami akan menangani Ibu mertuamu, kau jangan melotot seperti itu, nanti wanita mu akan pergi" Jimmy berkata seraya melangkah kan kakinya dengan cepat, karena ia tahu ... Asisten Li tidak akan melepaskan nya setelah ini, jadi dia harus cari bantuan terlebih dahulu.


Jimmy yakin bahwa wanita nya Asisten Li sudah ada di ruangan dimana Ibunya di bawa.


Sedangkan Asisten Li mengurus biaya administrasi agar bisa tenang.


Mata Asisten Li terkunci saat melihat Veni sudah ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2