![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Tian menatap wanita itu dengan seksama.
"Biarkan aku membalut lukanya" wanita itu tertunduk seraya memakai kan perban di lengan Leona
Leona meringis sakit, saat lukanya tersentuh.
"Hati-hati, kau menyakiti istriku ...!" Tian menatap tajam ke arah wanita itu.
"Sudah Nona, sebaiknya langsung di bawa kerumah sakit" ucap Wanita itu.
"Terimakasih" Leona tersenyum pada Wanita itu.
"Seharusnya kamilah yang mengucapkan terimakasih, akulah wanita yang kau selamat kan tadi, semoga kalian selalu di beri kebahagiaan, Tuan ... anda beruntung memiliki wanita ini di samping Tuan" ucap wanita itu seraya berlalu.
Tian langsung membawa Leona turun dari gedung itu, Sedangkan Asisten Li mengikuti para ******* itu ke kantor polisi, ia memastikan kalau mereka tidak akan melawan sesuai perintah Tian dan paman nya Tian.
Sedangkan sopirnya Leona terluka parah, tangannya kena tembakan saat melawan.
Namun Mora sudah menyobek rok yang ia pakek, lalu mengikat kan pada luka sopir itu.
"Kakak, maafkan aku ..." ucap Mora takut.
"Kita bahas nanti, kau bawa dia kerumah sakit, aku akan membawa kakak iparmu juga" Tian berjalan seraya memeluk Leona.
Seluruh keluarga sudah melihat aksi Leona, ada rasa cemas dan juga haru, serta sedih semuanya bercampur.
Mereka tidak menyangka kalau menantu nya memiliki keberanian sebesar itu.
Mereka tahu kalau Leona bisa bela diri, tapi ... mereka tidak bisa menyangka, bahwa Leona bisa melawan para *******.
"Bagaimana ... apakah Bom nya sudah jauh dari anak dan menantu ku ...?" tanya Papinya Tian.
"Mereka selamat, Al ... kau seharusnya bangga memiliki menantu seperti itu, jiwanya seakan mengalir darah seorang Mafia, kelak cucumu pasti akan mewarisi keahlian kedua orang tuanya"
"Apa yang kau katakan, kami sedang cemas kau malah membual" Papinya Tian langsung mematikan ponselnya.
"Bagaimana Pi ... ?" tanya Maminya Tian
"Tian sudah membawa Leona kerumah sakit, dia tidak apa-apa, hanya sedikit tergores di bagian lengan" ucap sang Papi.
"Aku tahu ... pilihan Tian memang yang terbaik, tapi Leona terlalu baik ... kenapa ia rela mengorbankan dirinya untuk orang lain, dulu juga begitu ... padahal kan Mami hanya bersandiwara dulu" ucap Maminya Tian lagi.
"Dia hebat karena memiliki hati, banyak krang yang hebat, tapi tidak memiliki hati ... itu alan percuma Mi ... " sang papi sidah meraih kunci mobilnya, namun ada telfon yang masuk.
__ADS_1
"Hallo, "
"Pi, Papi dan Mami tidak usah kerumah sakit, Leona minta fi rawat di rumah, aku sudah menelfon bagian rumah sakit, untuk membawa peralatan lengkap kerumah" Ternyata Tian yang menghubungi nya.
"Kalau begitu kami akan menunggumu di sini" ucap sang Papi, yang mana layar nya sidah menjadi gelap kembali.
"Kenapa Pi,?" tanya Mami
"Tian akan membawa pulang Leona, dia tidak ingin di rawat di rumah sakit, sebentar lagi para orang rumah sakit akan datang kemari, kita tunggu saja"
Benar saja, baru Papi nya Tian ingin mendaratkan bokong nya di sofa, suara bel rumah nya membuat ia berdiri kembali, seorang pembantu berlari kecil untuk membuka kan pintu.
Ada beberapa dokter dan suster yang sudah berdiri, dengan beberapa alat yang mereka bawa.
"Silahkan masuk, Dok " ucap pembantu itu.
Para dokter itupun masuk dengan senyuman nya.
"Kalian langsung saja ke atas, siapkan semua alat yang kemungkinan akan di gunakan"
Saat Papi nya Tian berkata demikian, terlihat Tian yang menggendong tubuh Leona masuk kedalam rumahnya.
Sebenarnya tidak ada yang terjadi pada Leona, hanya saja, Tian khawatir karena ia dalam keadaan hamil.
Meskipun berulang kali Leona meyakinkan bahwa ia baik-baik saja, tetap saja Tian merasa tidak tenang, jika Dokter belum memeriksa nya.
"Mam ... Leona tidak apa-apa, Tian hanya terlalu khawatir" ucap Leona saat sidah di baringkan di atas ranjang.
"Cepat, periksa istriku" Tian berkata tanpa expresi, hanya wajah khawatir nya yang terlihat jelas.
Dokter spesialis kandungan pun memeriksa Leona.
"Tidak ada yang perlu di cemaskan, seperti nya Bayi kalian mendukung aksi Mama nya" Dokter itu tersenyum bangga pada Leona.
Sedangkan suster membuka luka Leona, lalu memberikannya obat, Bibir Leona tergigit di bagian bawah, melihat itu Tian langsung duduk di sebelah nya seraya berkata :
"Apakah sangat sakit ... ?" tanya Tian seraya menggenggam tangan Leona yang satunya.
"Suster, pelan-pelan ... hati-hati mengobati nya, dia kesakitan" Tian berucap tanpa menatap kearah Suster, yang ia tatap wajah sang istri selalu.
"Aku baik-baik saja" Leona berkata dengan berusaha tersenyum.
Ia sangat tahu sebesar apa kecemasan Tian.
__ADS_1
Ia tidak ingin Tian semakin mencemaskan nya.
*****
"Kalina sudah berani bermain dengan Tuan Tian, tidak akan ada jaminan untuk kalian bebas darinya" ucap Asisten Li.
"Kami tidak merasa menyinggung nya" bela salah satu orang itu.
"Wanita yang kalian kawan dan kalian berikan Bom itu adalah istrinya, tentu bukan hanya menyinggung nya, tapi juga melukai nya" Asisten Li berkata, namun tiba-tiba ada yang mati salah satu dari mereka.
"Asisten Li melihat nya, ternyata ia sudah meminum obat saat baru di bawa ke kantor polisi, Asisten Li yakin, mereka semua juga punya obat untuk mengakhiri hidupnya.
*****
Arsa kini sering menghabiskan waktu bersama Arita dan Kamila.
Arita kini sudah berada di ruangan khusus untuk penyakit nya.
"Terimakasih karena kakak ada di dekat ku" ucap Arita pada Kamila.
"Aku kakakmu, tentu aku akan menjagamu ... kau harus sembuh,lalu kita akan hidup bersama" Ucap Kamila.
Kamila tahu ... kalau ANAK candra sudah di temukan, namun ... meskipun Candra enggan melepas kan Arita, tapi Kamila yakin ... wanita yang menjadi anaknya Candra akan merasa tidak nyaman jika masih ada Arita di rumah papanya.
Di saat Arsa, Kamila dan Arita sedang terdiam, suara pintu terbuka membuat pandangan mereka teralihkan.
Arita terkejut saat melihat siapa yang datang, Papanya dan juga Dinda.
Papa Candra dan Dinda mendekati ranjang Arita.
"Bagaimana keadaan mu sekarang ...?" ucap Candra pada Arita
"Sudah membaik, Pa ..." Arita menatap papanya bergantian dengan menatap Dinda.
Arsa juga heran, kenapa Dinda ada di sini, dia bahkan tidak bicara padanya jika ingin menjenguk Arita.
"Hai, Rit ..., bagaimana keadaan mu sekarang ...?" tanya Dinda dengan wajah cerianya.
"Seperti yang kau lihat, tapi aku sudah mulai membaik" Arita menatap lekat pada Dinda.
"Jangan pasang wajah musuh terhadap ku, kau yang mengambil punyaku kan ... ? aku biasa saja kok, Heheheh" ucap Dinda.
"Dan juga, mengenai Papa Candra ..." ucapan Dinda terhenti lalu menatap kearah Papanya.
__ADS_1
Sedangkan Arita terkejut, dengan sebutan papa Candra.
"Seperti yang kau fikirkan, akulah anak kandung papamu, Tapi kau tenang saja, aku tidak akan mengambil papa sepenuhnya darimu, dia akan tetap menjadi papamu, papa kita berdua"