Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 152


__ADS_3

Banyak mata yang menatap ke arah Asisten Li, kini bukan hanya karena ketampanannya dan ke kakuannya. Tapi ... karena adanya seorang wanita yang berjalan di sisinya, bukan di belakang nya.


Awalnya Veni berjalan di belakang Asisten Li, namun ... Asisten Li berhenti dari langkahnya, lalu menyeimbangi langkah Veni seraya berkata.


"Kamu bukan pengikut ku, sehingga kamu harus berjalan di belakang ku " hanya kata itu yang Asisten Li katakan.


Tidak ingin berdebat di depan banyak karyawan, Veni lebih memilih diam, ia merasa risih saat semua mata Karyawan tertuju padanya.


'Ah, Veni ... kau kan sudah tahu ... meskipun dia kaku, tapi dia Asisten Li, pria hebat setelah Tuan Tian, sudah pasti banyak juga wanita yang menginginkan nya' bathin Veni seraya menunduk.


"Angkat kepalamu, mereka bukan siapa-siapa jika di bandingkan dirimu" ucap pelan Asisten Li, sehingga hanya Veni yang mendengar ucapannya.


Seketika Veni menatap kearah Asisten Li, ia tersenyum seraya berjalan menatapnya.


Kini sampai lah mereka di ruangan Asisten Li, Asisten Li menyuruh Veni untuk duduk dan menikmati apa yang sudah di siapkan di meja.


"Makanlah, aku akan melihat berkas-berkas ini" Asisten Li duduk dengan serius di mejanya, sedangakan Veni terus menatapnya.


'Ah keren juga kan dia ... beda tipis lah sama Tuan Tian heheheh' bathin Veni seraya terus menatap Asisten Li.


"Sudah jangan memandang ku terus, aku jiga tidak bisa konsentrasi kalau kau terus menatap ku seperti itu" Asisten Li berkata tanpa melihat kearah Veni, tentu Veni menjadi salah tingkah, dan langsung memakan apa yang ada di hadapan nya dengan wajah yang merona.


Asisten Li tersenyum seraya terus membuka setiap berkas yang akan menjadi bahasan di rapat nantinya.


*****


"Tuan, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda" ucap Sekertaris Galla.


"Siapa ... ?" tanya Galla tanpa melihat kearah Sekertaris nya.


"Dia menyebutkan namanya Nona Angelina" ucap Sekertaris itu menunduk kan kepala nya.


Mendengar nama itu, Galla langsung meletakkan Bulpoin yang ia pegang, menutup semua berkasnya.


"Suruh dia masuk sekarang, jangan buat dia menunggu" Galla berkata


Sekertaris itu langsung berlalu, ada rasa kesal di hati sekertaris itu, namun ... ia bisa apa ...


"Silahkan Nona" ucap sekertaris itu tanpa senyuman.

__ADS_1


"Terimakasih ... " Angelina tersenyum ramah menunjukkan gigi gingsul nya yang indah.


Angelina pun segera masuk kedalam ruangan Galla, ini pertama kalinya Angelina masuk kedalam ruangan Presdir itu.


Galla berdiri menyambut kedatangan Angelina.


"Kenapa tidak bilang, kalau mau kesini ... ?" Galla merentangkan tangannya, memeluk Angelina.


"Aku sekedar lewat, selesai bertemu klien, melewati perusahaan mu, sekalian mampir" Angelina melepaskan pelukannya.


Galla menarik tangan Angelina untuk duduk di sofa.


"Duduklah .. kau sudah makan ... ? mau minum apa ... ?" tanya Galla menepuk tangan Angelina dengan lembut.


"Tidak usah, aku hanya sebentar kok, lagian kau sibuk kan ... ?" Angelina menatap Galla.


Entah apa hubungan mereka, mereka terlihat begitu mesra satu sama lain, tapi belum ada yang mengungkapkan perasaan, mereka hanya berjalan sesuai alur yang sudah ada.


Angelina juga tidak menolak pelukan Galla, bahkan Galla sering kali memberikan ciuman di kening Angelina.


Meskipun Angelina menolak untuk minum, namun ... Galla tidak akan membiarkan Angelina pergi dengan cepat.


Galla pun memerintahkan sekertaris nya untuk membawakan dua minuman dan juga cemilan.


"Minumlah ... " Galla menyerahkan gelas itu pada Angelina.


Seperti dugaan Angelina, dalam minuman itu tidak ada gula sama sekali, namun Angelina ingin menjaga perasaan Galla, Angelina tetap meminum minuman itu meski sedikit.


"Sudah, cukup" ucap Angelina meletakkan gelas itu kembali.


Tapi Galla bukan lelaki yang bodoh, apalagi minuman itu adalah minuman kesukaan Angelina.


"Bagaimana ... ?" tanya Galla pada Angelina, seraya mengusap bekas kopi susu di bibir Angelina.


Tentu itu masih menjadi perhatian Sekertaris Galla.


"Semuanya berjalan dengan lancar, proyek kita tidak ada kendala lagi, begitu juga dengan proyek Tian" ucap Angelina dengan senyum puas.


"Kau sudah bekerja keras, jika nanti aku dan kamu jodoh, kuharap kau tidak bekerja sekeras ini lagi" Ucap Galla yang membuat mata Angelina berkaca.

__ADS_1


"Semakin hari kau semakin pintar, apakah Alan yang mengajarkan mu ... ?" Angelina memukul lengan Galla dengan lembut.


"Itu dari hatiku, jika sudah dari hati ... tidak perlu di ajari, Angelina aku serius, seperti Tian yang tidak ingin berpacaran terlalu lama, begitu juga dengan aku" Galla kembali meyakinkan Angelina.


"Memangnya kita pacaran ... ?" goda Angelina dengan tersenyum.


"Setelah proyek kita selesai, baru kita bicarakan ini ... bagaimana ...?" ucap Angelina menatap Galla


"Aku sendiri.yang akan datang padamu" Angelina semakin menatap Galla dengan dalam.


"Jika aku tidak ingat apa yang Tian katakan, aku.pasti sudah menerkam mu" Ucap Galla dengan tawa nya.


"Memangnya apa yang Tian katakan ...?"


"Dia berkata, kehormatan wanita tergantung dari sang pria yang menjaganya, jika mencintai nya, maka jagalah kehormatan nya ... sampai kau halal untuk menyentuhnya secara utuh" Galla berkata seraya membayangkan wajah Tian yang berkata saat itu.


Angelina tersenyum, ia tahu ... dirinya sudah tertarik pada pria yang ada di hadapannya, meski belum saling mengungkapkan tapi ... mereka sama-sama berjanji untuk menjaga komitmen di antara mereka.


*****


Sore telah tiba, Asisten Li dan Veni sudah sampai di rumah sakit, untuk mengurus kepulangan Tuan muda dan Nyonya muda nya.


"Ciee ... bagaimana tadi di perusahaan ... ? apakah dia memarahimu ...?" goda Leona pada Veni


"Mana ada, yang ada semua tatapan karyawan wanita di sana seakan ingin membunuhku tau ...! ternyata dia populer juga di kalangan wanita" ucap kesal Veni.


Tentu itu bisa di dengar oleh Asisten Li.


"Sudah, jangan di hiraukan ... mereka iri padamu, karena kamu dengan mudah ada di sisi lelaki seperti nya, bukankah kau hebat ..." puji Leona


Veni tersenyum mendengar ucapan Leona


"Apa kau berkata jujur, Na ... aku ... aku memikirkan apa yang kau ucapkan dulu, tentangnya" ucap ragu Veni.


"Tapi, aku bukanlah orang yang berada, yang pantas ada di sisinya, aku hanyalah wanita biasa" Veni menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan, seperti Tian, tidak memandang materi terhadap ku, aku yakin Asisten Li juga demikian, mereka itu pasangan komplit, jika Tian A maka Asisten Li juga A, yakinlah dengan perasaan mu" ucap Leona seraya memegang tangan Veni.


Sayangnya n Asisten Li sudah keluar dari ruangan itu, sehingga tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


Veni tersenyum kearah Leona, ia memeluk sahabatnya sekaligus atasannya itu.


Ia merasa sangat beruntung karena di dekat kan dengan wanita sebaik Leona.


__ADS_2