Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 143


__ADS_3

Malam ini ... Leona begitu prihatin dengan kondisi Tian.


"Jangan terlalu memikirkan pekerjaan mu, masih banyak orang hebat seperti Asisten Li di sisimu, jangan sakit begini lagi" leona menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


"Aku tidak sakit, hanya lelah saja ... istirahat sebentar saja akan sembuh, jangan khawatir begitu"Tian mengelus kepala Leona.


"Tunda dulu ya keberangkatan kita ke negara mu, kau belum sehat" Leona menatap Tian.


"Tidak bisa di tunda lagi, ini sudah tiga bulan pernikahan kita, mereka sudah sangat menantikan kita di sana, apalagi Mora ... di cemberut terus padaku" Tian tersenyum saat melihat wajah cemberut adik sepupu.


"Sayang ... aku akan selalu mencintaimu, walau aku mati ... cintaku takkan berkurang. .


Jika ku ingat dirimu, air mataku selalu terjatuh, Saat jauh darimu, hatiku selalu merindu, waktu demi waktu aku selalu yakin ... jika kita akan bertemu.


Apakah dalam hidup ini hanya ada cerita mu, cerita cinta kita ... ,tapi hanya itu yang ingin ku tahu" Tian berkata seraya menatap lekat manik mata Leona.


Leona tersenyum seraya berkata


" Kata-kata mu, ikatan cintamu, janji - janjimu dan sumpahmu apakah semua itu benar ... ?


Katakan padaku ... jika semua yang kau katakan itu benar, kau sudah melihat akibat cinta pertamaku, jangan sampai kepercayaan itu hilang, aku selalu mencintaimu ... mintalah sumpah apapun sekiranya itu bisa menjadi keyakinan dalam hatimu. Karena aku tahu ... kaulah yang membuat mawarku berseri kembali dengan mu aku memiliki tujuan hidupku lagi, aku mencintaimu Tian Alvaro"


Mereka salin berpelukan dalam rasa yang dalam.


Yang akhirnya mereka sama-sama terlelap dalam mimpi indahnya.


*****


"Kau istirahat lah, aku kan lebih sering kesini nantinya, jaga kesehatan ... karena kau sudah banyak mengalami derita" ucap Arsa.


"Baiklah, kau juga pulang lah," ucap Arita yang sedikit tersenyum dengan bibir pucat nya.


Arsa kini telah berlalu dari rumah Candra dan langsung menuju kerumah Dinda, karena sebelumnya Dinda susah menelfon nya.


Arsa juga ingin bicara dengan Dinda, perihal jati dirinya yang ternyata adalah anaknya Candra, ternyata takdir bisa bermain semenarik ini.


*****

__ADS_1


"Kau sudah tiba, ayo masuklah" ucap Dinda kala membuka pintunya


"Ada apa ...? tadi sore sepertinya kau baik-baik saja, kenapa sekarang murung begitu, jangan bilang kalau kau di tolak oleh cowok ... ?" goda Arsa


"Duduklah Arsa ... aku butuh teman sekarang" ucap serius Dinda


"Ada apa ... ?" tanya Arsa seraya memegang kedua tangan Dinda.


Dinda langsung meletakkan kepala nya di paha Arsa, ia setengah tertidur dalam pangkuan Arsa.


"Apakah benar aku adalah anaknya Om Candra ... ? mengapa begini Ar ...? apakah kau sudah tahu ... ?" tanya Dinda yang terus tertidur di paha Arsa, Arsa tahu ... air mata Dinda kini sudah terjatuh.


"Apakah kau kecewa mendengar kebenaran itu ... ? apakah kau tidak bahagia memiliki ayah seperti Candra ... ?" bukannya menjawab Arsa malah balik bertanya.


"Aku tidak tahu, apakah aku kecewa atau bagaimana ... ? tapi hatiku masih belum bisa percaya akan hal itu ... , Arsa ... apa yang harus saya lakukan ... ? lalu Arita ... ? bagaimana dengan nya ...?" Dinda terus meneteskan air matanya.


"Arita lah yang tahu akan hal ini, tapi ... Arita tidak tahu kalau kaulah anak kandung Candra, Dinda ... Arita sudah berubah, dia tadi sudah minta maaf langsung pada Leona, kau juga ... kau harus bisa maafkan apa yang Arita lakukan, jika kau lihat kondisinya sekarang, kau bahkan sangat memprihatinkan nya"ucap Arsa.


"Apakah dia menerima keadaan kalau ternyata dia bukan anak kandung papanya ... ?" Dinda bangun dan menatap Arsa.


Arsa menghapus air mata Dinda yang masih mengalir di pipinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ... ? aku tidak bisa menghadapi Om Candra ... aku belum siap" ucap Dinda


"Kau adalah wanita periang, penuh tawa ... jika kau begini ... hilang sudah kekaguman ku padamu, bersikap lah, sebagaimana anak pada papanya, aku tahu ... awalnya akan masih canggung, tapi cobalah ... kini aku mengerti kenapa akhir-akhir ini Candra sering kekantor, itu karena dia ingin dekat dengan mu, sama seperti mu, dia juga grogi tapi ... kerinduan nya sebagai seorang ayah yang mampu membuat nya melangkah hingga bertemu dengan mu" Arsa berbicara panjang lebar.


Dinda kini bisa tersenyum lagi, kala mendengar semua ucapan Arsa.


Arsa pun berpamitan pulang, masih ada Kamila yang harus ia pastikan keadaan nya.


Apalagi setelah seharian tidak bertemu dengan Laksya ...


"Kok belum tidur ... ?" tanya Arsa saat masih melihat Kamila menggendong bayinya, seraya memberi Asi.


"Iya, Laksya kayaknya belum mengantuk, jadi kubawa saja keluar, bagaimana keadaan papamu ... ?" Tanya Kamila.


"Besok sudah bisa pulang, Hai Laks ... kau belum mengantuk, mau gendong Om ... ?" ucap Arsa dalam keadaan penatnya.

__ADS_1


Tangannya kini telah mengambil Laksya dalam gendongan Kamila.


"Eh, dia tersenyum padaku ... " ucap Laksya


"Dia tahu, kalau yang menggendong nya adalah orang uang telah baik padanya"ucap Kamila memegang tangan mungil Laksya.


Mengapa ... mengapa harus banyak uji pada setiap manusia ...?


Karena dengan ujian, kita bisa tahu sebesar apa hati kita ingat pada sang penciptanya.


Malam makin larut, kegelapan makin membuat semua manusia merasa kantuk.


Menyadari Laksya sudah tidur dalam pangkuan Arsa, Kamila pun meminta agar Arsa memberikan Laksya padanya, namun ... Arsa menolak, ia ingin menaruh sendiri Laksya di kasur yang Kamila tempati.


Arsa pun teringat, saat Leona meminta untuk memiliki anak, namun ... Arsa menolak karena ingin sukses terlebih dahulu, Kini penyesalan makin terasa, andaikan ada anak, perpisahan itu pasti tidak akan pernah terjadi.


Pagi menyapa dengan hangat, Kini Tian merasa sehat kembali.


"Hallo, Bu ..."ucap Leona


"Sayang, Ibu dengar kalau suamimu sakit, benarkah ... ? bagaimana sekarang keadaan nya, kau harus merawatnya dengan baik, Nak" ucap cemas ibunya Leona


"Saya baik-baik saja, Bu ... anakmu sidah merawat saya dengan sangat baik, Ibu jangan cemas"Tian mengambil alih ponsel sang istri.


"Syukurlah, Nak ... jaga kesehatan kalian, maafkan ibu belum bisa pulang"ucap Ibunya Leona.


"Seharusnya saya yang minta maaf sama Ibu, karena saya sudah memberi ibu pekerjaan yang berat" ucap Tian.


"Tidak, Ibu benar-benar menyukai nya"


"Bu, besok kami akan ke rumah Mami dan Papi, kami mohon ijin pada Ibu" ucap Tian.


"Ibu sudah tahu, Mami mu sudah menelpon Ibu kemaren, kalau masih sakit jangan di paksakan, Nak"


Perbincangan berakhir dengan saling menitip pesan untuk jaga diri baik-baik.


Tian mencium pipi Leona yang masih berada di sampingnya.

__ADS_1


"Sayang ... Ponsel memang benda privasi milik kita, tapi ... kita sudah menjadi pasangan suami-istri, apapun milikku, adalah milikmu juga, termasuk ponsel" ucap Tian seraya memindahkan rambut Leona yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


"Kau semakin hari kenapa semakin cantik saja" goda Tian.


__ADS_2