![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Saat Tian tiba di perusahaan, semua mata masih tertuju padanya, bukan karena hanya ketampanannya saat ini, tapi ... karena senyum yang tidak pernah terlihat kini berseri di bibir sang Presdir.
Asisten Li tiba menjemput Tuannya yang berada di bawah.
"Di mana dia?" tanya Tian pada asisten Li.
"Tuan Galla ada di ruangan Anda tuan" jawab asisten Li seraya masih mengikuti langkah Tian.
"Apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Tian Seraya masuk ke dalamnya lift khususnya.
"Tidak ada Tuan, hanya saja tadi Tuan Galla sempat berkata ini demi pertemanan Anda dengannya"ucap asisten Li.
Terlihat Tian yang tersenyum mengejek.
"Apakah orang egois seperti dirinya masih ingat dengan sebuah pertemanan?"ucap Tian seraya mengejek pada dirinya sendiri.
Asisten Li kini hanya diam tidak menjawab.
Benar saja ... apa yang Galla lakukan itu seperti seorang anak kecil, tidak ada kedewasaan sama sekali.
Suara notifikasi lift berbunyi pun menghentikan pembicaraan mereka.
Tian memasukkan kedua tangan nya kedalam saku celananya lalu Asisten Li membukakan pintu untuk Tuannya.
Terlihat Galla yang langsung berdiri saat mendengar suara pintu terbuka.
Pandangan kedua manusia itu saling beradu tanpa ada yang mau berkedip, biasanya ini adalah pertarungan saat mereka masih di zaman kuliah dulu.
Tian pun duduk dengan mata masih terus menatap kearah Galla begitupun dengan Galla.Mereka masih sama-sama terdiam dengan pandangan mata mereka.
"Ckkk ... ada apa kau kemari?"tanya Tian mengakhiri acara pandangan mata itu dengan mengambil sebuah dokumen di aisi kirinya.
"Apakah tidak boleh aku bertemu temanku? bagaimana keadaan mu? "ucap Galla dengan kepala tertunduk.
Tian terdiam sejenak.
"Teman ... temanmu? dimana ...?"tanya Tian.
__ADS_1
"Ayolah Tian, maafkan aku ... aku sudah salah selama ini, sudah 3 tahun kita menjadi musuh, aku minta maaf tulus ingin minta maaf"ucap Galla.
Tian berdiri dari duduknya seraya berjalan menuju ke jendela ruangan itu.
"Tian ... bisakah kau menyuruhnya pergi sebelum kau memakiku"ucap Galla pada Tian seraya melihat ke arah Asisten Li.
"Anggap saja dia tidak ada, dia tidak akan bersuara, bahkan nafasnya pun kau tidak akan mendengar nya"ucap Tian.
"lagian Aku bukan orang gila yang ingin memaki seseorang tanpa alasan"ucap Tian.
"Kau berhak marah atas sikap ku selama ini, ayolah ... maafkan aku, aku sungguh tidak tahu alasan mu melakukan itu pada adikku, kau tahu sendiri aku begitu menyayangi nya"ucap Galla.
"Mencintai dan Menyayangi seseorang itu sangatlah wajar, apalagi pada seorang adik, tapi ... mendukung m
kesalahan orang yang kita sayang itu adalah kesalahan besar, apalagi sampai bermain dengan nyawa"ucap Tian yang kini melihat kearah Galla.
Galla tertunduk bagaikan kucing yang tak di kasih makan.
"Galla ... kau sangat mengenalku dengan baik, aku bahkan tidak mungkin menyakiti Marissa, dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, tapi kalian ... malah mencelakai beberapa orang yang dekat dengan ku, kalian sangat lah keterlaluan"ucap Tian
"Aku minta maaf ... salahku terlalu memanjakan Marissa, kau tahu sendiri, kami sudah tidak ada orang tua, kalau bukan aku yang memanjakan nya lalu siapa lagi ..."
"Oke ... oke ... aku salah, aku minta maaf"ucap Galla sambil mengatupkan kedua tangan nya di depan wajah Tian.
"Kau harus mendatangi setiap rumah orang yang sudah kalian sakiti, baru aku bisa memaafkan kalian"ucap Tian.
"Harus semuanya ya ...?"ucap lirih Galla.
Namun Tian tidak menjawab malah ia menatap lekat pada pria yang sok angkuh namun penakut.
"Oke baiklah ... aku akan datangi semuanya, semuanya ... tapi ... maafkan aku dan Marissa, oh iya sakit mu itu .... ?"ucap Cerocos Galla.
"Sejak kecil ... kau bahkan tidak memberiku kesempatan saat aku ingin mengatakan ini padamu dulu, kau main memukul ku tanpa mendengar penjelasan ku, iss ... aku sangat marah padamu saat itu Gal ..."umpat Tian.
Terlihat wajah menyesal Galla.
"Apa kau kemari hanya ingin mengatakan semua ini atau ada hal lain yang membuat mu penasaran ... ?"ucap Tian yang bisa membaca raut wajah lawannya.
__ADS_1
"Ini ni ... ini yang membuat aku kalah saing dengan mu"ucap Galla.
"Katakan ... tentang Angelina atau tenang wanita ku"ucap Tian seraya melirik kearah Galla.
"Keduanya ... "ucap Galla serius.
"Angelina ... mengakui perasaannya padaku, namun ... aku suka berteman dengan nya, akhirnya aku menceritakan kelemahan ku padanya, seperti yang aku fikirkan, dia jauh lebih dewasa daripada yang aku fikirkan, dia memberikan Leona padaku, membantuku untuk meyakinkan Leona kalau aku hanya menginginkan nya, dan kau ... dengan dasar apa kau menatap Leona dengan tatapan itu"ucap Tian.
"Cih ... tapi wanita itu cantik loh ... meski tanpa make up kayak Marissa dan Angelina tapi ... sumpah ia bagaikan ratu"puji Galla yang mana membuat tangan Tian terkepal.
"Keluarlah ... dan jangan sekali-kali menatap wanita ku, apalagi mengusiknya dan oh iya ... sampai kan ke Marissa jika ia ingin menjebak Leona dengan menyuruhnya mendesain perhiasan milik Nona Rosa de maka ... dia harus melawan ku terlebih dahulu, sebelum ia menyentuh Leona maka lewati aku dulu"ucap Tian dengan sinis.
"Eh Tian ... alu kemari mau berdamai tapi ... kenapa nada mu dari tadi selalu mengancam ...?"ucap Galla.
"Damai ... benarkah? kalau begitu katakan Marissa apa yang tadi aku sampaikan padamu"ucap Tian.
"Baiklah ... akan aku sampaikan, Marissa masih seperti dulu, ia tidak akan melakukan itu padanya, yakinlah ... "ucap Galla.
"Aku alan yakin jika semuanya akan baik-baik saja saat desaine itu selesai"ucap Tian.
"Oke ... Oke aku pergi ..., jadi tidak apa-apa dong kalau aku deketin Nona Angelina?"goda Galla pada Tian.
"Silahkan ... mungkin kau masih di minati olehnya"ucap sinis Tian seraya duduk kembali di kursi kebesaran nya.
"Cih ... biar begini aku masih tampan, meski masih di bawahmu sedikit" ucap Lirih Galla.
"Baiklah ... Tian ... aku permisi dulu, jangan.luoa undang aku saat mau meresmikan hubungan kalian"ucap Galla seraya berlalu dari ruangan Tian, sejenak Tian menatap pada arah Galla, terlihat senyum di bibir Tian seraya menggelengkan kepalanya.
*****
"Bagaimana ...?"tanya Dinda saat mereka pulang bersama dari perusahaan
"Arita ... tidak ingin hidup melarat Din ... "ucap Arsa dengan tawanya.
"Eh ... kau tidak melarat kali Ar ... kau masih bisa bangkit, aku yakin bibik mu tidak sejahat itu untuk meletakkan mu di bagian OB selamanya kan ...? tapi ... untung juga kau dan Arita jauh, carilah wanita yang lebih baik, meski kau tidak bisa menemukan yang lebih baik dari bu Leona setidaknya, lebih baik dari Arita, karena tidak mungkin kan ... kau akan terus-menerus bersama dengan wanita yang tidak tentu pasangan nya?"ucap Dinda.
"Aku kira hanya aku pria satu-satunya dalam kehidupan Arita, yang membuat aku kasihan adalah Candra ..., dia sekarang kehilangan muka di kota ini, padahal kita sangat tahu ... bagaimana karier Candra, semua hancur karena perbuatan aku dan Arita.
__ADS_1
Dinda ... di saat begini kenapa aku teringat sama Leona ... apakah sesakit ini saat Leona mengetahui perselingkuhan ku dengan Arita?"tanya Arsa.
"Jauh lebih sakit bu Leona Ar, ini masih tidak sebanding dengan apa yang bu Leona rasakan saat itu, tapi ... dia begitu kuat menghadapi kalian yang tidak tahu diri, mungkin jika wanita lain, kalian sudah habis"ucap Dinda.