Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 164


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9, Tian dan Asisten Li sudah keluar dari ruang rapat, dengan cepat Tian menuju keruangannya.


Saat ia masuk ... ia mendapati Veni yang memijit kaki Leona.


"Apa ada yang sakit ...?" tanya khawatir Tian di dekat Leona.


Mendengar suara itu Leona langsung bangun dan duduk bersandar.


"Tidak, aku hanya lelah saja, Veni dengan baik hati memijit kakiku, jadi membuat aku ngantuk "Leona tersenyum, sedangkan Veni sudah berdiri.


Ia mundur menjauh dari jarak Tian dan Leona


"Keluarlah ... aku akan istirahat bersama istriku, Li ... kabarkan jika sudah tiba" ucap Tian


"Baik Tuan"


Asisten Li dan Veni pun undur diri, mereka keluar dari ruangan Tian, tapi ada hal yang membuat Asisten Li bingung, Expresi wajah Veni seakan terlihat begitu sedih dan banyak fikiran.


Menyadari akan banyak karyawan yang berlalu lalang, Asisten Li menarik tangan Veni masuk kedalam ruangannya fan mengunci pintunya.


"Kau kenapa ...? apakah ada yang menyakitimu ...?" tanya Asisten Li, ia menyandarkan tubuh Veni ke dinding.


Veni bukannya menjawab ia langsung memeluk tubuh Asisten Li, membuat Asisten Li semakin yakin kalau ada hal yang terjadi.


Veni ... sebesar apapun masalah yang ia hadapi ia masih terlihat ceria dan tersenyum, lalu apa yang membuatnya menangis seperti ini.


Inilah sakit hati seorang pria, kala melihat orang yang kita cintai menangis, hatinya pasti merasa sakit.


Dan pria semacam ini kayaknya hanya ada di dunia novel ya ... kalau di dunia nyata malah kebanyakan sang pria yang membuat si wanita menangis hehehhehe.


"Katakan padaku, kau punya aku sebagai sandaran dan keluhan mu" Asisten Li mengelus kepala Veni yang masih memeluk nya.


"Kau masih ingat, uang yang kau berikan di kartu itu, aku gunakan untuk pengobatan ibuku, tapi ternyata .. ternyata ..." tangis Veni semakin pecah saat ingin mengatakan apa yang Ridwan katakan tadi.


"Ternyata apa ... katakanlah ... !" Asisten Li semakin cemas saat mendengar tangisan pertama Veni dalam dekapannya


"Kak Dani mengambil uang itu dan tidak pernah menggunakan nya untuk Ibu, ia pakai sendiri, sekarang ibu semakin sakit, aku ... aku harus apa ...?" ucap Veni dalam tangisannya.


Sejenak Li tidak bersuara, membuat Veni mendongakkan kepala nya.


"Kau pasti marah pada ku kan ...?" tanya Veni


Asisten Li menatap netra wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa aku harus marah ...? baiklah ... kita jemput ibu ... dan kita rawat di sini ..." ucap Asisten Li yang sama sekali membuat Veni tidak percaya.


"Jika di sini ... kita bisa merawat sendiri, Ve ... kau sekarang adalah milikku, apapun kesulitan mu juga kesulitan ku, jadi ... jangan merasa sendiri"


Huaaaaa


Tangisan Veni pecah kala mendengar kata manis Asisten Li, Veni langsung memeluk Asisten Li lagi.


"Tersenyum lah ... kau tidak cocok kalau menangis, kau tahu ... hidungmu langsung merah kalau kau menangis " Asisten Li mencubit hidung Veni dengan lembut.


"Terima kasih ... " Veni menatap mata Asisten Li lalu tersenyum.


*****


"Sayang ... katanya ke tempat yang jauh, bukan kah ... bukankah ini jalan ke tempat Leona dan Tian" ucap Angelina saat mereka sudah mendarat di bandara.


"Oh benarkah ...? mungkin memang kebetulan sama" jawab Galla Seraya menyembunyikan senyumannya.


"Galla ... beneran ... tempat ini sangat mirip dengan tempat Leona dan Tian" ucap Angelina kala masuk kedalam mobil yang sudah ia pesan.


Galla memegang tangan Angelina saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Sudah istirahat lah, nanti kalau sudah sampai di tujuan, aku akan membangunkan mu" ucap Galla seraya menyadarkan tubuh Angelina dalam pelukannya.


Kepala yang di elus oleh Galla membuat Angelina benar-benar terlelap.


Sedangkan Joe baru sampai di kantor, karena ia harus meninjau proyek langsung tadi pagi, sebelum Galla datang.


"Kau tidak boleh nangis lagi ya ... kita keluar sekarang, adik sepupu ku sudah berdiri depan pintu" ucap Asisten Li


Veni mengangguk kan kepalanya sambil menghapus air matanya.


Merasa Veni sudah tenang, Asisten Li pun membuka pintu nya, sedangkan Veni sudah ada di ruang istirahat yang ada di dalam ruangan Asisten Li.


Joe tersenyum kala melihat bekas ciuman di pipi kakak kakunya.


"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Asisten Li


"Aju bahagia, setidaknya sekarang kakak ku yang kaku bisa jatuh cinta, dan lebih senang lagi, ternyata masih ada wanita yang bisa menaklukkan hati kakak, tentu dia bukan wanita biasa" Goda Joe seraya duduk di sofa.


"Kau tetap sama, sok tahu ..." ucap Asisten Li.


"Cih, aku bukan sok tahu ... tapi bukti sudah mengatakan jelas, tuh bekas ciumannya masih ada di pipi kakak, cepat hapus sebelum Kak Galla melihat nya" Joe tertawa melihat Asisten Li yang menghapus bekas ciuman Veni.

__ADS_1


Sedang kan Veni di dalam ruangan itu meras malu sendiri saat Joe mengatakan itu.


"Kakak ipar ... keluarlah ... aku sudah tahu keberadaan mu, jadi ayolah kita berkenalan secara resmi" ucap Joe yang langsung mendapatkan pukulan di kepala nya oleh Asisten Li.


"Mereka sudah sampai dimana ...?" tanya Assisten Li


"Baru saja keluar dari bandara" jawab Joe seraya menoleh keruang istirahat kakak nya.


"Kalau tahu kalian bawa pasangan, aku juga mau bawa " ucap Joe


"Dinda ... ?" tanya Asisten Li


"Bukan kah dia baik dan smart yang pasti sangat persis dengan ku" ucap Joe


"Apakah dia sudah tahu siapa kamu ...?" tanya Asisten Li


"Siapa aku ... ? aku hanya lelaki biasa yang memiliki jiwa sosial yang besar, bekerja menjadi karyawan di salah satu perusahaan terbesar" jawab Joe


"Bukan itu ... apakah dia tahu kalau kau adalah kaki tangan Tuan Tian?" tanya Asisten Li seraya memeriksa file yang masuk.


"Belum ... tapi aku suka dia yang tidak tahu, aku takut jika dia tahu itu ... maka dia menjadi canggung padaku" ucap Joe yang hanya di balas anggukan kepala oleh Asisten Li.


Tiba-tiba dering ponsel Joe berbunyi.


"Hallo ..." jawab Joe


"Aku sudah ada di depan" ucap orang itu


"Ah, okelah aku akan menyambut tuan besar " ucap Joe dengan tawa nya.


Sambungan telepon itu pun terputus.


"Baiklah ... kak aku akan menjemput nya di bawah, langsung keruang Tuan Tian apa kemari ?" tanya


"Bawa kesini dulu, Tuan masih istirahat" jawab Li seraya menatap ke arah Joe.


Akhirnya Joe pun keluar dari ruangan Asisten Li.


Asisten Li menatap layar ponselnya yang menunjukkan bahwa masih tidak ada tanda-tanda Tuan nya keluar dari ruang istirahat nya.


Asisten Li hanya menghela nafas beratnya lalu bersandar di kursi nya.


Diam-diam Veni keluar lalu mendekati Asisten Li yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Veni langsung mencium nya dari atas wajahnya.


__ADS_2