![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Sudah ada beberapa ******* yang mati, di saat pemimpin itu melawan langsung Leona, beberapa anak buah Paman nya Tian datang, begitu juga dengan Tian, ia langsung keluar dari mobil nya dengan berlari.
"Tian, jangan cemas, Nona pasti akan baik-baik saja" Asisten Li berusaha menenangkan Tuannya.
Namun ... betapa terkejutnya Li saat melihat Video yang dikirimkan oleh anak buahnya pamannya Tian.
"Tuan, Nona melawan mereka ..."
Deg
Deg
Deg
Jantung Tian seakan berhenti berdetak, kala mendengar kata itu.
Bagaimana bisa ...45,
Tanpa berfikir Tian berlari menerobos pintu masuk Mall itu, di sana ia sudah melihat banyak mayat yang tergeletak.
"Leona ... !" teriak Tian
Seakan dunia berhenti berputar kala Tian melihat Wanita nya berkelahi dengan pemimpin komplotan itu, tangan terkepal kuat, mata memerah, amarahnya sudah sangat terlihat jelas.
Dengan cepat Tian melompat fan membantu Leona menghajar lelaki itu.
Saat Tian menyadari lengan Leona terluka, ia sudah tidak melihat apapun lagi.
Serangannya membabi buta pemimpin itu, Tian tidak memberi kesempatan orang itu membalas serangannya.
Nafas Leona teesenggal-senggal, ia menyadarkan tubuhnya di dinding.
Ia memegang dadanya yang terasa lelah dan sesak.
Ia lega ... akhirnya suaminya datang, ia tahu ... Tian tidak alan membiarkan ia berada dalam kesulitan.
Air matanya kini menetes, Namun ... di saat Tian berhasil melumpuhkan pemimpin itu.
__ADS_1
tiba-tiba seseorang meletakkan Bom Granat di tangan Leona, yang mana pin nya sudah dilepas, sontak Leona menggenggam erat Bom itu agar tidak meledak.
Teriakan Leona mampu membuat Tian berbalik ke arahnya, pertahanan Tian tiba-tiba ambruk saat melihat Bom Granat itu di tangan Leona.
Semua orang berhenti bertarung, dan kesempatan itu di gunakan baik oleh ******* itu untuk kabur, tapi sayangnya ... Paman Tian sudah tiba dan langsung meringkus semua ******* itu.
*****
"Tian ... aku taku ..., aku ... aku ... "
"Tenang ... tenanglah ..." Tian mendekati Leona dan menggenggam tangan Leona yang kini menggenggam Bom itu.
"Tetaplah genggam alat ini, kita akan menuju ke gedung atas, hanya melewati satu tangga, kita akan sudah sampai di sana" ucap Tian yang sebenarnya juga khawatir.
"Tian ..." teriak sang paman lalu menghampiri keponakan nya.
"Paman ... apakah ini benar ... Paman pernah mengajarkan Tian agar keluar dalam situasi ini kan ..., benarkah jika alat ini tetap tertempel ke Bom nya,Bomnya tidak akan meledak ...?"
"Benar Tian ... gunakan apa yang sudah paman ajarkan, Leona ... kamu jangan khawatir, sambil berjalan, kau lepaskan jarimu satu persatu, kau mengerti kan, nak ...?" Paman nya juga khawatir, namun ...ia berusaha tenang agar Leona tidak khawatir.
"Paman ... Tian ... aku takut" Leona berkata dengan air mata yang sudah berderai
Semua yang ada di Mall itu sangat mengagumi sosok Leona, mereka menangis melihat keadaan Leona.
"Kau pahlawan kami, kami yakin ... semesta akan melindungi mu" Teriak semua orang, Leona bisa melihat ketulusan mereka.
"Sayang ... aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu, Kau lakukan apa yang aku katakan oke, dalam hitungan ketiga, kau lepaskan nari jempol mu, nanti aku yang alan mengganti kannya, lalu ku hitung kembali, kau lepaskan jari telunjuk mu, begitu seterusnya, kau faham kan ...?" tanya Tian
Leona hanya mengangguk kan kepala nya dengan deraian air mata.
"Satu ... dua ... tiga" Leona berhasil melepaskan jari jempol nya yang langsung tergantikan oleh jari Tian.
"Bagus sayang, lagi ya ..." Tian tersenyum pada Leona, Leona mengangguk kan kepalanya, seraya membalas senyuman Tian, Leona masih belum menyadari, jika semua tangan nya terlepas, itu berarti Tian lah yang akan menggenggam Bom Granat itu.
"Satu ... dua ... tiga ..." jari telunjuk Leona terlepas, senyum Leona terlihat.
"Bagus sayang ..." Tian tersenyum kembali pada Leona.
__ADS_1
Lalu Tian lagi dan lagi menghitung angka itu, namun ... di saat hanya tersisa jari kelingking, Leona menyadari kalau itu akan membahayakan nyawa Tian.
"Tidak, Tian ... jika aku melepaskan ini, maka ... maka kaulah yang akan ada dalam bahaya, tidak Tian ... aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jika aku harus mati, maka aku sendiri yang akan mati, jangan lakukan ini Tian, ku mohon ..." Tangis Leona pecah lagi saat menyadari, bahwa Tian reka mengorbankan nyawa nya asalkan Leona selamat.
"Sayang, tidak akan terjadi apapun padamu, percayalah ..., di sini juga ada paman, dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padaku, sisa 1 lagi, ku mohon demi calon anak kita" Tian tersenyum agar semua ketakutan Leona bisa berkurang.
"Kita akan sampai di atas gedung, di sana aku bisa melempar kan Bom ini ke lautan, itu bisa menyelamatkan tempat ini juga, percayalah sayang ... " Tian masih berusaha meyakinkan Leona bahwa semua akan baik-baik saja.
Hingga kini mereka sudah sampai di atas gedung, banyak orang yang juga mengikuti mereka, ya .. mereka adalah orang-orang yang tidak ingin nyaman sendiri, di saat sang wanita berjuang melawan para ******* itu, di sana lah mereka mengagumi keberanian itu.
"Aku hitung satu kali lagi ya, Satu ... Tua ... Tiga" Perlahan Leona melepaskan jari Kelin nya dengan sangat perlahan, air matanya sudah deras bagaikan air terjun, pandangan matanya tertuju pada mata Tian yang hanya tersenyum, seakan tidak ada rasa takut sama sekali.
Disaat tangan Leona benar-benar terlepas, Tian menatap Leona, ia menjauh dari tubuh Leona.
Leona berdiri di samping Tian
"Paman ... " ucap Tian seraya menatap ke arah paman nya.
"Lemparkan Tian, itu akan meledak dalam hitungan Lima detik saat kau lepas dari benda yang berbentuk seperti sendok itu" ucap Paman nya, Tian langsung melihat ke arah benda yang memang sangat menempel di benda itu, jika ia lepaskan maka Bom itu akan bereaksi.
Dengan tekad, Tian melepaskan satu tangan nya, dan dengan sepenuh tenaga langsung melempar kan Bom itu ke lautan.
DUAAAAARRRRR
Air itu keatas saat ledakan terjadi.
Leona langsung memeluk Tian, menangis dengan begitu sedih fan terharu.
Tian membalas pelukan itu dengan begitu erat, mencium pucuk kepala Leona.
"Semuanya akan baik-baik saja, Semua nya sudah selesai" Tian mengelus kepala Leona.
Semua orang menangis bahagia, benar ... mereka akan terlindungi oleh sang semesta.
Semua orang tepuk tangan atas keberhasilan Leona dan Tian, dalam melawan Bom Granat, serta tepuk tangan atas keberanian Leona.
Semua aksi Leona terekam CCTV yang ada di setiap sudut Mall itu. Di saat semuanya sudah selesai para polisi datang, untuk mengabarkan bahwa semua ******* itu sudah ada dalam tahanan.
__ADS_1
"Aku ingin mereka hidup-hidup, aku ingin membalas mereka yang sudah melukai istriku" Tian begitu emosi.
Menyadari luka Leona, seorang wanita berlari dengan kotak obat di tangan nya.