![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Di dalam kesendirian , Ibunya Leona kini telah menyibukkan diri, sepulangnya dari perusahaan nya, ia langsung menemui sang cucu.
"Kau sudah makan Na ... ?" tanya sang Ibu seraya menggendong Nala
"Sudah Bu ... kenapa nafsu makan ku malah sangat bertambah ya Bu ... ? tanya Leona
"Kau menyusui, tentu ... kau akan merasa lapar terus, jangan di tahan kalau lapar, makanlah karena itu berpengaruh sama Asi mu" ucap Ibunya Leona seraya
"Gendutan dong nantinya aku Bu ... " ucap Leona dengan senyumnya
"Tidak apa-apa, yang penting anak-anak sehat "ucap Ibunya Leona seraya mencium pipi cucunya
"Ibu tambah cantik ... ? apa sudah ketemu calon ayah baru untuk Leona ... ?" goda Leona pada Ibunya
"Apa yang kau katakan Na ... calon ayah batu apa ... ? ibu sudah tua kau jangan goda ibu begitu" ucap Ibunya Leona seraya tersenyum
"Leona tidak apa-apa kok, kalau ibu nikah lagi, ibu juga butuh teman di masa tua ibu, apa perlu Leona yang carikan" ucap Leona
"Sayang ... Ibu masih mencintai Ayahmu, berharap dia hadir lagi itu adalah hal yang sangat mustahil, tapi menghadirkan sosok lain dalam hidup ibu itu tidaklah mungkin"ucap ibunya Leona seraya tersenyum pada Leona
"Kau adalah harta yang ia tinggalkan pada Ibu, maafkan Ibu karena Ibu belum berhasil membuat kau bahagia selama ini" Ucap Ibunya Leona seraya mengelus pipi Leona.
sedangkan tangan satunya masih menggendong bayi Nala
"Aku sangat menyayangi Ibu, Ibu adalah contoh yang terbaik untuk ku, kesetiaan Ibu pada Ayah, akan Leona jadikan pelajaran, Ibu ... semoga Leona juga bisa seperti Ibu " ucap Leona
"Baiklah ... Ibu akan meletakkan Bayi Nala dulu, kasihan dia sudah tertidur" Ibunya Leona bangkit namun saat dapat beberapa langkah, kakinya terhenti dan mengusap air mata yang sudah menggenang.
__ADS_1
Lalu Ibunya Leona pun melanjutkan langkahnya sehingga sampai di kamar kedua cucunya.
Ibunya Leona bukannya tidak mengetahui tujuan Tian pergi, ia sudah tahu bahwa Tian menemukan pria yang mirip dengan suaminya.
Ibunya Leona bukannya tidak sedih, ia bahkan merasakan sakit seperti dahulu kala saat ia mendapat kan kabar kematian suaminya.
Tuan Darrel benar, istrinya adalah wanita yang tangguh, ia hanya bisa menyimpan semua air matanya dalam kesendirian nya, bahkan Leona tidak pernah melihat ibunya menangis.
*****
"Kau ingin wku datang, lalu apa yang harus aku katakan pada mereka ... ? apakah aku harus bilang kalau aku hidup bersama janda dan anak-anak yang lain di sini ... ? apakah aku harus mengatakan bahwa aku memberi kasih sayang ku pada anak orang lain ... ? sedangkan anak dan istriku harus ku telantar kan ... ? Tian ... cara berfikir manusia itu beda-beda, seperti para readers yang kini sudah menyalahkan aku, tapi memang aku yang salah, alasan apapun yang aku punya, seharusnya aku mengutamakan anak dan istriku" ucap Darrel setelah makan malam bersama selesai.
"Tuan benar, apapun alasannya ... anda tetap lah bersalah, anda telah menelantarkan anak dan istri anda, mungkin seperti yang anda lihat, Ibu dan Leona baik-baik saja selama ini, tapi bagaimana dengan hati mereka yang selalu menyimpan rindu untuk anda ... ?sakit yang paling dalam adalah merindukan seseorang yang tidak bisa lagi mereka temui, setidaknya anda masih hidup dan menyembuhkan rindu itu walau sekejap saja nanti" ucap Tian yang kini telah berdiri di samping Tuan Darrel
"Saat itu ... aku tidak lagi datang ke kota mereka karena Anakku sudah menikah dengan mu, aku lega ... karena di saat kakiku membusuk dan harus di amputasi lagi, akunbisa tenang" ucap Darrel menatap nanar langit yang sudah gelap.
"Tapi Ibu menolaknya, karena Ibu masih sangat mencintai anda Ayah" ucap Tian seraya menoleh kearah Darrel.
Sejenak mereka saling pandanga, memberi keinginan pada diri masing-masing.
"Dia begitu setia ... " ucap Darrel
"Apakah ayah tidak merindukan Ibu ... ?" tanya Tian
"Rindu ... adalah hal yang selalu aku rasa, tapi apakah aku masih punya hak untuk beekata demikian, kau tahu ... penyerangan saat itu, dimana anakku yang melawan *******, akmi ada di sana ... " ucap Darrel
"Jadi anggota ayah yang membantu kami ... ?" ucap Tian tidak percaya
__ADS_1
"Ya ... anak-anak di sini sudah sangat kenal dengan wajah Leona, saat melihat Leona mereka langsung membantu dan mengabariku, keadaan ku saat itu juga masih belum stabil ... aku hanya bisa pakai senjata dalam melawan, kakiku masih terasa sakit" ucap Darrel
"Tian, jika kalian menilai aku yang telah membiayai mereka ... kalian salah ... aku hanya numpang berteduh di sini, bahkan bisa dikatakan aku numpang hidup pada mereka, mereka semua memiliki gaji dari suami mereka, dan juga ada yang sudah bekerja, aku hanya bertugas mengamankan tempat, hidupku sudah tidak ada artinya Tian, jadi ... karena itulah aku tidak muncul di hadapan mereka" ucap Darrel
"Sekali pengecut tetap pengecut Tuan, anda tidak mencoba dulu, anda langsung mengambil kesimpulan sendiri" ucap Asisten Li dari arah belakang.
"Apakah anda tahu ... rasanya hidup tanpa seorang ayah bagi anak perempuan ... ? anfa adalah sandaran ternyaman baginya, anda afalah tempat ia berlindung, tapi Nona harus melindungi diri sendiri sejak kecil hingga ia merasa kan sakit yang teramat dari seorang lekaki, apakah perasaan anda masih ada Tuan Darrel ... ?" ucap geram Asisten Li
"Seharusnya benar ... kami tidak mencarimu dan menganggap mu sudah mati 20 puluh tahun yang lalu, tapi ... Nyonya sudah mendengar tentang anda, apakah kami.masih bisa menganggap anda mati ... !" imbuh lagi Asisten Li
"Tuan adalah menantu anda, dia datang kesini demi istri dan mertuanya, bukankah ... ini adalah anugrah untuk anda Tuan Darrel Atmajaya" ucap Asisten Li tanpa ada rasa takut.
"Anda mengatakan kalau keluarga anda yidak menyukai Nyona ... bukankah itu alan menjadi bumerang bagi Nyonya, karena Nyonya anda tiada ... ?" ucap lagi Asisten Li.
Tian terdiam, karena semua yang Asisten
Li katakan adalah benar.
Terlihat Darrel yang tersenyum sedih.
"Asisten mu sangat lah pintar Tian ... hebat ... ! kau benar Lihaonan, aku adakah pengecut hakiki, gelar TNI di dadaku seakan ambruk karena sikap ku, hufft ... " ucap Darrel seraya menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah ... aku akan bertemu dengan mereka, semoga di akhir ini ... mereka benar-benar rela melepas kan aku pergi ... !" ucap Darrel dengan sejuta kesedihan.
Mereka sudah menunggu ku keluar, mungkin inilah yang harus ku lewati, jika aku mati ... mereka harus mati juga, agar istri dan anakku tetaplah aman
Bathin Darrel dalam hati
__ADS_1