Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 244


__ADS_3

Setelah itu, Joe datang menjemput Dinda bersama Alan dan Marissa.


"Hallo Om, Nek" ucap Marissa pada kedua orang tua yang mengapit Dinda


Marissa menyalami kedua orang tua itu di ikuti oleh Alan dan Joe, meskipun di Negara mereka tidak pernah melakukan hal semacam itu, tapi sudah sering bolak-balik ke Negara Leona menjadi kan mereka sudah terbiasa.


"Ayo, Masuk dulu " ucap Candra


"Maaf,Om. bukannya kami nolak, tapi ... jam penerbangan kami akan sebentar lagi, tapi Joe akan menggantikan kami nantinya untuk menemani Om minum kopi" ucap Marissa yang tanpa persetujuan Joe, Tentu Joe langsung melihat kearah Marissa yang tersenyum kearahnya.


"Benarkah, kalau begitu ... Om alan menunggu nya" ucap Candra tersenyum kearah Joe. Lelaki yang kini sangat penting dalam kehidupan putri nya.


"Baiklah, Pa ... Nek. Dinda berangkat dulu ya ... , Jaga kesehatan kalian, Dinda sayang kalian " ucap Dinda seraya mencium pipi kedua orang tua itu. Tentu Neneknya sangat bahagia memiliki Cucu seperti Dinda, perangai nya jauh beda dengan Arita dulu, namun ... Neneknya juga sangat menyayangi Arita, karena Arita sudah tinggal dengannya semenjak bayi.


"Dinda ... sering-sering lah kabarin kami, kalau terjadi sesuatu, kabarin kami, jangan rahasiakan dari kami" ucap sang Nenek


"Baik, Nek. Nenek juga, jaga kesehatan dan harus segera carikan Papa pasangan, biar Nenek ada temannya" goda Dinda membuat Neneknya dan Candra sama-sama tersenyum dan memeluk Dinda secara bergantian.


"Om titip Dinda, jika dia melakukan kesalahan, nasehati dia, bukan dia yang salah, tapi Om yang salah " ucap Candra seraya membelai rambut Dinda dari belakang.


"Papa ... " ucap Dinda memeluk sang Papa


Marissa tanpa sengaja menetes kan air matanya, begitukah rasanya di cintai oleh sang Papa.


Chandra sudah melepaskan pelukannya dengan Dinda, Alanpun mengajak mereka untuk segera berangkat.


Namun Marsha tidak bergerak Iya terus meneteskan air matanya.


"Bisakah Marisa juga memeluk Om Candra?" ucap Marisa dengan wajah yang menyedihkan.


Tentu perkataan itu mampu membuat langkah teman-temannya terhenti.


Candra yang mengerti akan suasana hati Marissa, Candra langsung merentangkan kedua tangannya dan menyambut tubuh Marissa yang kini telah memeluknya.


"Kau pasti sangat merindukan ayahmu ya?" tanya Chandra


"Marisa tidak punya ayah, tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah dan seorang ibu, Marisa hanya memiliki kakak" ucap Marisa dalam pelukan Candra


sejenak Candra terdiam mendengar ucapan Marissa, ia tidak tahu kalau ternyata gadis yang kini telah memeluknya ini tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Kalau kau mau, kau bisa menganggapku seperti ayahmu, kau bisa menghubungi ku seperti Dinda menghubungiku, kau bisa memanggilku Papa jika kau mau" ucap Chandra Seraya membelai kepala Marissa


"Benarkah ... ?" ucap Marissa dengan girang Seraya menatap wajah Candra

__ADS_1


Chandra membalas menatap Marissa Seraya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku berangkat dulu Papa" ucap Marisa Seraya melepaskan tangannya dari pelukan Candra


"Jati-hatilah dan jaga diri juga, jangan lupa jaga kesehatan "ucap Chandra Seraya memegang pucuk kepala Marissa.


"Baik papa, kalau begitu Marisa berangkat Pa" ucap Marisa Seraya memeluk Candra lagi.


"Aku akan menjaga Adik Dinda dengan sepenuh hati sebagaimana seorang kakak menjaga adiknya itu janjiku untuk Papa" ucap Marisa sebelum melangkahkan kakinya


Candra tersenyum dengan tingkah Marisa yang menurutnya sangat merindukan sosok seorang ayah, tepatnya ingin merasakan kasih sayang seorang ayah.


Marissa menggandeng tangan Dinda seraya berkata


"Tidak apa-apa kan, kalau aku menumpang seorang papa darimu ?"tanya Marissa


Dinda tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya, kedua lelaki itu di buat kagum oleh kedua wanita yang ada di depannya saat ini.


Mobil pun melaju dengan sangat cepat, karena jadwal mereka terbang akan segera tiba.


Seperti pembalap mobil, Joe sudah tiba di Bandara.


"Kakak kapan akan balik, jangan lama-lama ... nanti aku rindu, kalai rindu itu aku gak kuat karena terlalu berat" ucap Dinda saat Joe ada di hadapannya. Marissa dan Alan yang mendengar ucapan Dinda tersenyum seraya menutup mulutnya.


"Tentu, Aku Marissa akan selalu menepati janji yang sudah ia katakan, Iya kan Adikku Dinda" ucap Marissa seraya merangkul pundak Dinda


"Sekarang huss ... pergilah" ucap Marissa mengusir Joe


"Singkirkan tanganmu dulu, aku belum memeluknya dari tadi" ucap Joe seraya menarik Dinda dalam pelukannya.


"Jangan ikut campur urusan orang lain, selama aku tidak ada" ucap Joe


"Baik, aku akan jadi anak baik selama kakak tidak ada" ucap Dinda dalam pelukan Joe.


"Baiklah, masuklah. kalian hati-hati, aku titip Dinda" ucap Joe seraya menepuk bahu sebelah Alan.


"Jangan khawatir, kau santailah disini" balas Alan yang kini telah melangkah kan kakinya mengikuti kedua wanita yang ada di hadapannya.


Dinda sesekali melihat kearah belakang, Dimana Joe melambaikan tangannya pada mereka semua.


Sehingga kini bayangan merekapun tak tampak di.mata Joe, barulah Joe meninggal kan tempat itu.


*****

__ADS_1


Benar saja, Kini keadaan Angelin sudah mulai membaik, ia sudah tidak berteriak saat ada orang asing yang mendekat.


"Galla ... kenapa kau tidur begini ... ? apakah aku sakit ... ?" tanya Angelina saat bangun dari tidur nya, dan mendapatkan Galla tidur dengan posisi duduk di sampingnya.


"Kau sudah bangun" ucap Galla tersenyum kearah Angelina,


"Iya, kenapa tidur begitu " ucap Angelin seraya merentangkan kedua tangannya isyarat agar Galla memeluknya, benar saja, Galla langsung berdiri dan memeluk Angelina yang duduk di atas ranjang.


"Kau sudah jauh lebih baik, Marissa dan Dinda akan datang, mereka akan menemanimu nanti" ucap Galla


"Benarkah ... ?" tanya Angelina seraya mendongakkan kepalanya menatap Galla


"Iya, pesawat mereka sudah terbang, dan sebelum malam tiba, mereka akan sampai di sini" ucap Galla mengusap kening Angelina kebelakang dan mencium kening itu.


"Kau mau sarapan apa pagi ini, biar aku yang buatkan" ucap Galla.


Namun sebelum Angelin menjawab, ada bunyi ketukan pintu dari luar.


"Masuk " ucap Galla


Orang itupun masuk , Angelin langsung menutup dirinya dengan tubuh Galla saat melihat sosok pria berpakaian hitam yang masuk.


"Jangan takut, dia temanku" ucap Galla mengelus kepala Angelin


"Ada apa ?" Tanya Galla


"Yuan Haris, dia meninggal Tuan, saat kami mengeceknya,dia sudah tidak bernafas" ucap orang itu yang mana ia bertugas menjaga di depan pintu


"Haris ... Haris ... Haris meninggal ... ? Harus meninggal ... ?" ucao Angelina berulang kali


"Kau dengar sendiri kan ... lelaki jahat itu sudah meninggal, dia tidak akan mengganggu mu lagi, dia tidak akan menyakiti mu lagi, jadi jangan takut lagi, semuanya orang baik, mereka yang jahat sudah mati" ucap Galla


" Lalu satunya ... ?" tanya Galla


"Dia meringis kesakitan, Tuan. Baunya sudah sangat tidak enak, luka di kaki nya yang di biarkan menjadi busuk" lapor orang itu.


"Kalau begitu, berikan dia kebaikan kita, matikan saja dia, menyusul rekannya" ucap Galla tanpa melihat pada anak buahnya


"Baik, Tuan" ucap anak buahnya setelah itu berlalu dari kamat Tuannya.


'*Mudah sekali matimu Haris ... aku bahkan belum memberimu pelajaran, kau sudah mati duluan, sialan ... !' umpat Galla dalam hatinya.


Hai semuanya, sudah up 3 bab ya ... ayi ding beri author semangat*

__ADS_1


__ADS_2