Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 287


__ADS_3

Di sudut ruangan, berdiri lah sosok yang gagah dan berwibawa setelah beberapa waktu yang lalu meredup. Namun ... kini karir nya sudah melambung lagi, tentu atas nama Tian yang ada di balik kesuksesan nya.


'Arita ... semoga kau tenang di alam sana nak, Maafkan papa, bukan papa melupakan mu, Kau tetap kesayangan Papa'


Ya ... Candra berdiri di sudut ruangan nya seraya menatap foto Arita dan Dinda yang foto bersama sebelum kematian Arita.


'Dinda ... Papa juga merindukan kamu, Nak! Apa yang kau bilang kemarin ... ? Papa harus menikah lagi, agar ... ada yang mengurus Papa, Papa tidak butuh istri, Nak. Sekarang Papa hanya ingin tinggal bersama kamu, Papa merindukan mu, Nak. Segeralah pulang'


Candra tersenyum saat kedua anaknya, Dinda dan Marissa ingin menjodohkan nya dengan ibunya Angelina. Ibunya Angelina adalah wanita yang dulu pernah mencintai nya, hanya saja itu sudah masa lalu. Masa yang tak harusnya di ulang di masa kini.


'Mungkin kalian ingin,Papa menjaganya ... tapi percayalah ... papa akan menjaganya tanpa harus menikahinya, Papa masih belum bisa memberikan hati papa pada siapapun, Entah lah, apa karena papa merasa bersalah sama Mama kalian, Karena saat itu _' ingatan Candra langsung teringat pada mendiang istrinya.


Malam semakin sunyi dan dingin, Candra pun mengalihkan perhatian nya pada ponselnya yang menyala, Disaat Candra melihat siapa yang nelfon, Ia dengan cepat mengangkat nya.


"Hallo sayang, Kenapa nelfon malam-malam begini? kau baik-baik saja kan ... ? tidak terjadi sesuatu pada mu kan, Nak ?" tanya papa Candra pada Marissa


"Papa khawatir ya sama Marissa ?" tanya Marissa


"Jelas, kau anak Papa sekarang, orang tua mana yang tidak khawatir sama anaknya" ucap papa Candra yang membuat Marissa terharu.


"Marissa baik-baik saja, Papa jangan cemas, Marissa nelfon papa karena Marissa lintas beberapa menit yang lalu, Papa masih aktif di Wa" ucap Marissa


"Oh, tadi klien Papa nelfon, makanya papa masih terjaga, lalu kau ... ? Kenapa kau masih belum tidur?" tanya papa Candra


"Masih belum ngantuk, Pa" jawab Marissa


"Lalu suamimu mana?" tanya papa Candra


"Ada diruang kerja, lembur Pa" ucap Marissa dengan suara yang lemas


"Karena itu kau menghubungi Papa ya, " ucap papa Candra


"kan aku kangen sama Papa" ucap Marissa

__ADS_1


"Papa juga merindukan kalian, Bagaimana kabar Dinda? tumben anak itu tidak nelfon papa seharian ini" ucap Papa Candra


"Eh, itu ya ... Dinda kayaknya sibuk sama tugas kuliah nya pa, kalau gak salah kan ini semester akhir Dinda" ucap Marissa mencari alasan yang tepat agar Papa Candra tidak cemas akan keadaan Dinda.


"Oh, benar. Besok biar papa saja yang nelfon dia, biasanya jika ia sibuk, ia lupa untuk makan" ucap Papa Candra yang ingat akan kebiasaan Dinda, dan itu juga di benarkan oleh Arsa, sahabat Dinda.


"Ada aku dan Joe yang akan mengingatkan itu, Pa. Papa jangan cemas, Oke !" ucap Marissa


"Terimakasih, karena kalian sudah menjaga Dinda dengan baik, Papa tidak tahu ... jika tak ada kalian di sisi Dinda" ucap Papa Candra


Deg ...


Seketika Marissa merasa tidak enak hati, Karena kejadian siang yang menimpa Dinda.


"Baiklah, sekarang Marissa tidur ya ... ini sudah malam, jangan sering begadang, gak bagus untuk kesehatan " ucap Papa Candra


"Baik, Pa. Papa juga istirahat, Oh iya ... pikirkan apa yang aku dan Dinda katakan " ucap Marissa


"Soal Mamanya kak Angelin ? Ah, Papa gak asyik, Masak iya sudah lupa" ucap Marissa


"Papa akan memikirkan itu, tapi beri papa waktu" ucap Papa Candra


"Baik, beri kami jawaban secepatnya " ucap Marissa


"Baik, sayang" ucap Papa Candra akhirnya sebelum panggilan itu terputus.


*****


"Kau tidak nyaman ya ... ?" tanya Joe saat melihat Dinda gelisah


"Iya, aku merasa gak nyaman kalau tak ada kamu disisiku" ucap Dinda seraya membuka matanya. Padahal Dinda merasa perih di bagian tangan nya.


"Kau ini " ucap Joe seraya meniup-niup tangan Dinda

__ADS_1


"Tidurlah, biar aku yang meniup tanganmu, kau pasti merasa perih kan ... ?" tanya Joe


"Kok tahu ...?" ucap manja Dinda


"Karena aku mencintaimu " ucap Joe seraya tatapan nya terus menatap Dinda dan mulut nya meniup tangan Dinda.


"Jangan liatin aku kayak gitu dong " ucap Dinda seraya memalingkan wajahnya


"Kenapa ?" tanya Joe tersenyum


"Gak kuat tau ...! kakak mah sukanya bikin hatiku meleleh " gombal Dinda yang membuat Joe langsung memeluknya.Ia duduk di samping Dinda yang tubuhnya bersandar di ranjang. Membawanya dalam pelukannya.


"Semoga aku masih bisa menahan semua hasr*t, semoga aku masih bisa mengendalikan naf$u ini, Aku sangat mencintai mu, Maafkan aku karena aku selalu menempatkan mu dalam kesulitan" ucap Joe seraya meletakkan kepala Dinda di dada bidangnya, Sedangkan dagunya bertumpu pada kepala Dinda.


"Itu berarti takdir memang membuat kita jodoh kak, Kakak adalah seseorang yang hebat, layaknya pohon ... kakak adalah pohon yang sudah tinggi dan besar, sedangkan aku ... masih pohon yang kecil yang ada di sisi kakak, angin yang menerpa kakak pasti akan aku rasakan juga, jika aku ingin kuat ... aku harus bertahan terus di sisi kakak, agar ... aku bisa menjadi pasangan yang cocok untuk kakak" ucap Veni seraya menyentuh dada Joe dengan tangannya yang masih terasa perih.


"Kau wanita yang berbeda Dinda. Terimakasih ... secepatnya aku akan melamar mu.pada orang tuamu. Kita akan hidup bahagia seperti Tuan Tian dan Tuan Li. Kita akan punya banyak anak, mereka akan menjadi lindung untuk Mamanya" ucap Joe


"Aiss .... kakak sudah mengkhayal terlalu jauh, tapi semoga saja apa yang kakak katakan.itu jadi kenyataan " ucap Dinda seraya mendongakkan kepalanya menatap Joe yang juga Melia kearahnya.


"Cium " ucap Dinda seraya memanyunkan bibirnya, dan itu membuat Joe menjadi gemas.


Cup


Kecupan di bibir Dinda dan pelukan yang semakin erat. Joe duduk dengan melebar kan kedua kakinya, Dinda tidur di tengah-tengah kaki Joe yang bersandar di ranjang, memeluk. Dinda yang ada dalam pangkuannya, Sehingga mereka tertidur dengan posisi seperti itu sampai pagi tiba .


*****


"Kalian akan berangkat bareng pagi ini ke kantor ?" tanya Veni pada Asisten Li dan Putri


"Terpaksa sayang, kalau tidak .. ini anak akan disini terus, setelah ini dia langsung tinggal di tempat yang sudah Tuan Tian sediakan, jangan cemberut ya ... nanti anak kita jadi tukang cemberut loh" ucap Asisten Li yang menjadi sosok berbeda di hadapan istrinya.


' Ah, apa! dia jadi kayak gini kalau di hadapan istrinya? Apakah begini kalau jadi orang hebat? Garang, menakutkan, tapi jinak di hadapan istrinya, seperti Tuan Tian. ia malah takluk di hadapan Istrinya itu' bathin Putri tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2