Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 179


__ADS_3

Waktu berjalan dengan begitu cepat, Jimmy yang tahu sosok wanita yang sudah mengisi hati Asisten Li menjadi terheran sendiri.


"Jangan banyak melamun ... kau pikirkan saja hubungan mu dengan Dokter Raisa, jangan sampai dia berpaling pada pria yang lebih cekatan" ucap Asisten Li yang keberadaannya tanpa di sadari oleh Dokter Jimmy.


"Kau seperti hantu saja Li ... ! datang tanpa suara ... mengerikan tau ... !" cebik Dokter Jimmy seraya mengambil alat pemeriksaan nya.


*****


"Apakah akan benar-benar butuh waktu sebulan ... ? bukan kah ini bisa di bilang sidah selesai ya ... ?" tanya Joe pada Galla saat berada di lokasi


"Kenapa ... ? ini masih dapat 2 minggu kan ...? apakah ada seseorang yang sedang kau rindukan ... ?" goda Galla


"Ckkk, apakah kau nyaman di sini, cih ... kau sengaja membawanya kesini kan ... ? kau tidak ingin menahan rindu itu, lengkap sekali akal mu" cebik Joe pada Galla.


Galla terlihat menahan senyumnya.


"Kembalilah ke Negara mu,bawa dia juga ... " ucap Galla seraya menepuk lengan Joe lalu meninggalkan nya.


Terlihat Joe yang melihat ke layar ponselnya.


Ia masih lihat wajah yang beberapa hari ini selalu menganggu nya.


Bagaimana Joe tidak mengingat Dinda, jika setiap hari Dinda mengabari nya, memberinya hal yang baru dalam hidupnya.


"*Joe ... kau sudah makan ... ?"


"Joe ... jangan merindukan aku ya ... rindu itu berat ... "


"Joe ... ingat ... jangan terlalu keras bekerja, uang bisa di cari, tapi menjaga kesehatan itu jauh lebih penting "


"Joe ... kau lagi apa ...,?"


"Joe, bagaimana penampilan ku, sudah oke kan ... ?"


"Joe, hari ini aku makan bersama orang orang panti, mereka titip salam, katanya rindu ..."


"Joe, jangan terlalu malam tidur nya, entar punya penyakit Insomnia"


"Joe,"


"Joe ... cepatlah kembali*"


Begitulah rentetan pesan yang setiap harinya Dinda kirimkan pada Joe, Joe yang tidak pernah mengalami hal seperti ini, hanya bisa senyum-senyum sendiri

__ADS_1


Ia tidak menyangka, hal konyol yang di lakukan Dinda mampu membuat pikiran nya tidak tenang.


"Dasar cerewet ... !" umpat Joe seraya memandang foto Dinda dengan bibir tersenyum.


Ia pun meletakkan ponselnya kedalam sakunya, setelah mengirim kan Dinda gambar sticker orang tidur.


"Isss ... gak asyik banget nih Joe, selalu gini balasannya, emangnya jarinya bisa keriting ya kalau balas chat ku dengan tulisan, misal ... thank you Dinda ... aku akan istirahat oke ... , misal gitu kek, ini apa ... ? malah hanya sticker saja, dasar ...!" umpat Dinda seraya melempar kan Ponsel nya ke ranjangnya, ia sendiri membaringkan tubuhnya seraya menatap langit-langit kamarnya.


Ia ingat akan ucapan Papa Candra tadi siang


"Kau lanjut kan kuliahmu bagaimana ... ?" tanya Candra


"Kuliah pa ... ?" tanya Dinda


"Ia, setidaknya kau harus lulus S1 kan ... ?" ucap papa Candra


"Tapi, Dinda sudah seneng bisa bekerja seperti ini Pa ... " ucap Dinda


"Dinda ... papa tahu, selama ini kau di didik dengan sangat mandiri, papa bahagia dan bangga, tapi izinkan papa menjadi papa bagimu, membiayai hidupmu, menyekolahkan mu, papa tahu ... kau sangat suka berbisnis ... kalau begitu ... ambil lah jurusan yang kau sukai" ucap Papa Candra


Terlihat Dinda yang begitu memikirkan ucapan sang Papa.


Benar dulu orang tuanya belum sempat membuat nya masuk kuliah, ia bekerja di perusahaan berdasarkan kecerdasan nya saat itu, papa nya Dinda dulu adalah orang terpenting di Perusahaan Arsa.


Mungkin benar jika ia bisa kuliah, setidaknya banyak hal yang dapat ia pelajari.


"Ah, bagaimana ya ... ?" tanya Dinda pada diri sendiri.


Di tengah kebingungan nya, dering ponsel nya membuatnya berhenti berfikir.


Lalu Dinda mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan yang masuk.


"kenapa belum tidur ... ?" tanya orang itu yang Dinda yakini adalah Arsa


"Kau juga belum tidur ... ? jangan bilang Kalau kau baru menidurkan anaknya kak Kamila ... !" tebak Dinda


"Entahlah ... akhir-akhir ini anak itu semakin nempel padaku" ucap Arsa terkekeh


"Mungkin dia mau kau jadi bapaknya kali ... " ucap Dinda


"Kenapa malah membicarakan aku, kenapa kau belum Istirahat jam segini ... ?" tanya Arsa


"Kau tahu ... papa Candra meminta ku untuk meneruskan kuliah " ucap Dinda yang langsung di mengerti oleh Arsa, karena Candra sudah membicarakan ini padanya.

__ADS_1


"Menurut ku itu adalah yang terbaik, seorang ayah ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk Candra ... , Dinda ... kau berhak memilih jalan hidupmu, tapi eman menurut ku, kau wanita yang cerdas, apa kau tidak ingin memiliki karir yang jauh lebih baik dari yang sekarang ... ? bisa saja kan kau jadi orang hebat suatu saat nanti" ucap Arsa


Sejenak Dinda terdiam.


"Akan ku fikirkan lagi, ah pusing aku ... " ucap Dinda


"Jangan di ambil pusing, kau ambil saja yang menurut mu nyaman, papa mu juga tidak memaksa mu kan ... ?" ucap Arsa yang di benarkan oleh Dinda.


"Baiklah ... terimakasih cucunguk" ucap Dinda seraya mematikan ponselnya.


Ia pun mencoba menutup matanya, agar beban yang ia fikirkan hilang bersama kantuk yang mulai di rasa.


Arsa tersenyum mendengar panggilan baru dari Dinda.


Cucunguk ...


Arsa mengulang panggilan itu berulang kali dengan bibir yang tersenyum.


Arsa juga memikirkan hal yang telah menimpanya.


'Maaf Tuan Arsa, anda memang di nyatakan sembuh dalam penyakit anda, tapi ... itu bisa mempengaruhi sperm* anda, anda akan sulit memiliki anak di kemudian hari, tapi itu hanya kemungkinan Tuan, masalah anak sudah rizki kita masing-masing '


Dokter itu mengatakan, jika Arsa akan sulit memiliki anak di masa yanga akan datang, mungkin inilah hukuman untuk nya, karena dulu sempat menolak saat Leona ingin hamil.


Arsa menghela nafasnya agar ia bisa lebih tenang.


Hukum tuhan itu sudah pasti ada, namun ... kapan datang nya itu hanya tuhan yang tahu, tapi kalau di novel hukum pemeran antagonis ada di tangan Author wkwkwkek.


*****


"Kak ... ! kenapa mendadak sekali ... ? tidak kah aku di beri kesempatan untuk pulang sebentar, Mengapa langsung mengirim aku kembali " Joe menolak perintah Asisten Li untuk pertama kalinya


"Apakah karena gadis itu, dia akan menemui di sana, percayalah pada kakak mu ini" ucap Asisten Li seraya matanya masih fokus pada layar laptop di depannya.


"Kak, aku serius ... !" ucap Joe


"Pernahkah aku tidak serius dengan ucapanku ... ! kembalilah ... kau akan bertemu lagi dengannya" ucap Li yang kini menatap Joe


Ya ... Asisten Li selalu serius dalam bicara, tidak pernah bercanda sedikit walau bersama teman.


"Apakah ini sudah keputusan final ... ?" tanya Joe, tidak ada jawaban dari Asisten Li yang ada hanya tatapan dingin pada Joe.


Joe segera keluar dari ruangan Asisten Li dengan wajah yang di tekuk.

__ADS_1


__ADS_2