Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 122


__ADS_3

Akhirnya Alan dan Marissa kini sudah sampai di kediaman Marissa.


"Al ... bangun dong ... ini udah sampai loh ... " ucap Marissa membangun kan Alan.


"Aku turun ya ... biar supir yang antar kau, aku capek"ucap Marissa seraya memegang handle pintu mobil, namun tangannya tertahan saat Alan memegang tangan Marissa.


"Kenapa tidak menyuruh ku masuk terlebih dahulu, aku ini teman mu ... masak iya gak di suruh mampir, aku haus Ris"ucap Alan seraya memasang wajah memelas.


"Kau terlihat begitu lelah, buktinya kau tidur muku sedari tadi, pulang aja dan langsung istirahat"ucap Marissa.


"Aku mau istirahat di sini boleh ya ... toh Galla belum pulang juga kan ... ?"ucap iseng Alan.


"Kalau kakak belum pulang, emangnya mau ngapain kamu, jangan macam-macam ya ... "ucap Marissa seraya melotot.


"Eh ... jangan punya pikiran jelek tentang ku, biar gini-gini aku ini anak baik-baik, yang selalu di sayang Mama ya ..."ucap Alan yang kini melepaskan tangannya dari tangan Marissa, fan langsung keluar untuk membukakan pintu untuk Marissa.


"Silahkan Nona cantik, aku alan jadi penjaga mu hari ini ... "ucap Tian seraya mempraktekkan gaya bawahan sang ratu.


"Isshh ... tadi saja aku yang jagain kamu ... " Marissa berkata seraya melongos meninggalkan Alan.


Bukan Alan namanya jika ia hanya diam, ia mengekori langkah Marissa.


Mariss pun membuka pintu rumahnya, Alan melihat ke sekeliling arah, tidak ada perubahan dalam rumah Marissa, sama seperti dulu saat dirinya dan Tian sering berkunjung kemari.


"Tidak ada yang berubah ya Ris ... " ucap Alan seraya mendaratkan bokong nya do sofa.


"Seperti yang kau lihat, aku dan kak Galla masih sama di tempat yang sama" ucap Marissa dengan senyumnya.


Alan menatap wajah Marissa, wajah yang mirip dengan almarhum papanya.


" Baiklah ... kau mau minum apa ... ? biar ku panggil kan bibik untuk menyiapkan minuman mu"ucap Marissa yang sudah berdiri.


"Eh ... kopi saja, lumayan untuk menghilangkan kantuk"ucap Alan.


"Oke ... tunggulah" ucap Marissa.


Marissa pun menuju ke dapur nya, di sana ia memang menemukan bibiknya yang sedang membersihkan halaman belakang.


"Eh Nona sudah datang ...? kenapa tidak memanggil bibik Non?" tanya si bibik seraya meletakkan alat pembersih nya.


"Percuma toh Bik, bibik juga ada di belakang, lagian Risa kan bawa kunci sendiri, Oh iya bik ... buat kan dua cangkir kopi, untuk ku dan Alan ya Bik" ucap Marissa.

__ADS_1


"Tuan Alan kemari Non?"tanya sang Bibik.


"Iya, Bik ... makanya buatkan dia kopi ya ...?"ucap Marissa .


"Siap Nona ... " ucap Bibik nya dengan senyuman yang jelas terlihat bahwa Bibik nya bahagia mendengar Alan main lagi kerumah majikannya, setelah beberapa tahun tidak pernah muncul di rumah itu.


"Kau mau kemana Ris ... ?" tanya Akan saat melihat Marissa yang naik ke atas tangga.


"Mau ke kamar, ganti baju ... kenapa ... ? mau ikut ... ?" ucap Marissa.


"Eh ... tidak, aku kira kau mau ninggalin aku di saat aku sudah menunggu mu sekian lama "ucap Alan.


"Alan ... jangan mulai deh, aku keatas dulu, bentar lagi Bibik bawain kamu kopi"ucap Marissa seraya langsung menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Alan memutuskan untuk berbaring di sofa seperti kebiasaan nya di masa lalunya.


Perlahan Alan mendengar suara langkah kaki mendekati, ia sangat hafal dengan langkah kaki itu, semakin dekat, langkah kaki itu semakin pelan, Alan membuka matanya yang mulai terpejam, terlihat sosok wanita yang baginya adalah ibu ke tiga.


pembantu nya Marissa tersenyum melihat Alan yang menatapnya, di balik senyum itu, ada mata yang mulai berair.


"Bibik ... "ucap Alan yang kini sudah berdiri.


"Bagaimana kabarnya Bibik ... ?" ucap Alan saat memeluk bibiknya.


"Bibik baik Den ... bibik sangat baik, kemana saja ... kenapa tidak pernah main kesini lagi ... "ucap sang Bibik.


"Bibik sudah pasti tahu alasannya kan ... ?" ucap Alan seraya melepaskan pelukannya.


"Kenapa Aden tidak jujur pada Nona tentang perasaan itu ... kenapa Aden diam saja" ucap sang bibik.


"Marissa mencintai Tian, Bik"ucap Alan tersenyum.


"Tapi Aden ... ?"


"Sekarang saatnya aku yang berjuang Bik, tapi Bibik rahasia kan semuanya seperti yang lalu, biarkan dia memahami semuanya dengan perasaan nya" ucap Alan serius.


"Baiklah ... karena aku sudah di sini, berarti Bibik harus nemenin aku minum kopi" ucap Alan seraya menarik tangan Bibinya untuk duduk di sampingnya.


"Jangan Den ... "ucap Bibik itu.


"Duduklah Bik, Alan pasti merindukan Bibik"ucap Marissa yang kini sudah turun dari kamarnya, dengan memakai baju santai.

__ADS_1


Akhirnya pembantu Marissa duduk di samping Alan. Marissa tersenyum melihat keadaan yang saka seperti 5 tahun yang lalu.


"Duduk lah Ris ... kita minum kopi bersama, sudah lama kan kita gak kayak ini" ucap Alan seraya menyesap kopinya.


"Masih sama ... tidak ada yang berubah, makasih ya, Bik"ucap Alan.


"Sama-sama Den, bibik juga senang, jika Aden masih suka kopi buatan Bibik"ucap sang Bibik.


Lalu Alan menyodorkan gelas kopi nya ke Bibik nya secara tidak langsung Alan ingin Bibik nya jiga meminum kopi yang sama dengannya.


"Eh Alan ... kau apa-apaan, kau mau ciuman sama Bibik meski secara tidak langsung, gak boleh ..., Bibik minum punya ku saja" ucap Marissa seraya menyerahkan kopi milik nya yang belum ia sentuh sama sekali.


"Tidak perlu Nona ... Bibik tidak usah minum"ucap Bibik itu.


"Aku tidak suka penolakan, Bik"ucap Marissa.


Melihat expresi wajah Marissa, Bibiknya pun mengambil gelas yang di sodorkan oleh Marissa.


"Cih ... bilang saja kau cemburu iya kan ... ? sama Bibik aja cemburu" cebik Alan.


"Ye ... siapa yang lagi cemburu, aku hanya tidak ingin Bibik yang polos ternoda olehmu" ucap Marissa.


Bibiknya hanya tersenyum melihat tingkah bocah yang sudah ia lihat sejak dari kecil.


"Baiklah ... Bibik akan kebelakang dulu, mau menyiapkan makan malam untuk kalian, Den Alan akan makan malam di sini kan ... " tanya sang Bibik.


"Iya"Alan.


"Tidak" Marissa.


Alan dan Marissa menjawab secara bersamaan, membuat Bibik nya tersenyum lagi.


Sedangkan Alan dan Marissa saling bertatapan.


"Alan ... siapa uang menyuruh mu makan malam di sini, sebentar lagi kakak juga akan datang"ucap Marissa dengan gaya khasnya.


"Kakak mu sedang asyik sama Angelina, kau tidak ingin melihat kakak mu menikah ... ? mau dia karatan ... "ucap Alan dengan asal, membuat Marissa menjadi melotot.


"Gak usah melotot begitu, matamu sudah kayak telur mata sapi" ucap Alan yang semakin membuat Marissa kesal.


Marissa memukul tubuh Alan dengan bantal sofa berulang-ulang, bahkan Marissa menaiki tubuh Alan tanpa sadar dan terus memukul nya.

__ADS_1


__ADS_2