Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 232


__ADS_3

Setelah melewati malam yang indah, Kedua insan yang sudah di tunggu kedatangan nya belum juga muncul.


"Pasti mereka telat untuk sarapan pagi bersama, kalian ingat bagaimana Kak Tian dulu" ucap asal Alan yang mana langsung mendapatkan tatapan dari semua orang terutama tatapan dari Si empu nama Tian.


Menyadari akan aura membunuh di sekitarnya, Alan sadar dan segera mengganti wajah kesal nya dengan tawa nyengir kuda.


"Kak Tian, maaf ... aku keceplosan lagi " Alan berkata seraya memasang wajah malu bercampur takut.


Yang lain juga sudah memasang wajah gelisah, apalagi Galla yang sudah mendapatkan tatapan mematikan juga dari Tian. Suasana menjadi cair saat mereka melihat Asisten Li dan Veni turun dari tangga.


Tian yang asalnya cemberut kini sudah tersenyum dan itu membuat Leona lega.


"Hai, sudah bangun .... duduklah" ucap Leona pada Veni


"Maaf, karena kami kalian telat sarapan paginya" ucap Veni


"Tidak juga, kami juga baru tiba kok" ucap Leona tersenyum pada Veni.


Asisten Li pun duduk saat Tian mengangguk kan kepala nya, tak lupa Asisten Li menarik tangan Veni agar duduk juga.


Alan menatap Veni penuh dengan dendam, dan itu di sadari oleh Veni.


Sarapan pagi pun telah berjalan dengan hening, hanya suara dentuman sendok dan garpu yang mengiringi suasana pagi ini.


"Li, besok kau harus sudah pergi bulan madu, masalah pekerjaan, untuk sementara Ramos yang akan menghandle nya" ucap Tian


"Benar, jangan sia-sia kan kesempatan ini, gunakanlah,fan nikmatilah bulan madu kalian" imbuh Leona


"Bener, apalagi semua biaya masih di tanggung kak Tian, Nikmati dan puas-puaslah berbulan madu, dan semoga pulang nya sudah membawa kabar bahagia" ucap Marissa dengan begitu riang.


"Wah, kau suka bulan madu ya ... nanti kalau kita sudah menikah, Kak Tian pasti akan memberikan yang jauh lebih dari pada yang Kak Tian berikan pada Asisten Li, iya kan kak ... ?" ucap Alan dengan percaya dirinya.


Bukan jawaban yang Alan terima namun ... tatapan sinis yang ia dapatkan.


"Ingatlah, kalian menikah bukan untuk mengutamakan Na*su, tapi karena kalian benar-benar mencintai wanita kalian, Menikahinya karena ingin sepenuhnya menjaganya, mendampingi nya, dan memberi nya kebahagiaan, kebahagiaan yang jauh lebih banyak dari pada saat ia sendiri, Menjadi pelindung nya, menjada sandarannya dan menjadi sahabat baginya, ingatlah ... tanpa wanita kita tidak akan pernah ada, jadi hormati wanita, siapapun itu, terutama seorang Istri, kalian faham ... !" ucap Tian seraya menatap Alan.

__ADS_1


Alan langsung tertunduk.


'Tuhan, aku tidak menginginkan apapun lagi dalam kehidupan ku, karena kau sudah memberiku lelaki yang begitu sempurna bagiku, berilah dia bahagia dan semoga aku bisa menjadi istri yang baik untuk nya' ucap Leona dalam hati.


'Meski aku bukanlah wanita nya, tapi berada dalam lingkungan Tuan Tian, aku sangat yakin bahwa suamiku, Lihaonan adalah pria seperti dirinya, yang akan mencintai ku sepenuhnya dan menjadi kan aku perioritas nya, Terimakasih Tuan karena mengajarkan kami, tentang menghormati dan saling mencintai' ucap Veni dalam hati.


Siapa yang tidak terharu dengan ucapan Tian.


Galla yang memang bersahabat dengan Tian, sudah mengerti karakter Tian, apalagi dengan sakit langka nya, tidak bisa menyentuh wanita manapun. Semakin membuat Tian tidak suka jika melihat lelaki kasar terhadap wanita.


Karena bagi Tian, Wanita adalah sosok yang paling berperan akan hadir nya manusia.


Wanita rela mempertaruhkan nyawa nya hanya untuk melahirkan anak-anak nya, Wanita rela kelaparan demi sang anak untuk bis makan, begitulah peran wanita.


Setelah sarapan pagi, Tian,Galla dan Asisten Li berkumpul di ruangan Tian. Sedangkan Leona, Marissa dan Veni sedang ada di ruangan Marissa.


Alan di tugaskan untuk mengambil berkas yang baru saja di kirim oleh Ramos, dan Ramos sedang menunggu di lobi.


Tanpa sengaja Alan berpapasan dengan Veni, saat Veni mengambil ponsel nya yang tertinggal di kamarnya.


"Karena mu, semalam aku di kurung di kamar oleh Kak Tian" ucap Alan


"Lah, kok karena aku ... ? emangnya aku yang nyuruh Tuan Tian mengurung mu, enggak kan ... ?" ucap Veni


"Makanya jadi orang jangan suka kepo urusan orang lain, kena batunya kan sekarang " ucap Veni lagi


"Siapa yang kena batu, aku hanya kena kurungan kamar ...?" balas Alan


"Itu kan perumpamaan, intinya jangan suka kepo urusan orang lain" ucap Veni seraya hendak berlalu.


"Cih, ternyata si kaku ganas juga di ranjang" ucap Alan saat menyadari leher Veni.


"Aku kan sudah mengatakan, kalau hal semacam itu, tidak perlu belajar dan di pelajari"ucap Veni seraya berlalu.


"Bagaimana rasanya ... ?" Tanya Alan keceplosan, jiwa Kepo nya datang dengan tiba-tiba. Veni yang sudah melangkah pergi jadi berhenti, karena tidak menyangka akan pertanyaan yang Alan keluar kan.

__ADS_1


"Ala ... n" Teriak Veni yang langsung membuat Alan berlari hingga hampir jatuh. Sedangkan Veni sudah naik darah, nafas nya naik turun, mana bisa Alan bertanya tentang hal semacam begituan, apalagi masalah rasa.


Rasa marah, kesal dan malu bercampur menjadi satu dalam diri Veni.


Sedangkan Alan sudah ada di bawah dan menuju ke lobi


'Ah, sialan kau Lan ... kenapa malah bertanya hal semacam itu padanya ... ? kau lihat tadi tanduk dan taring nya, bisa- bisa kau di makan mentah kalau kau masih diam di tempat ' umpat Alan dalam hati.


Saat sudah sampai di Lobi iapun langsung bertemu dengan Ramos.


"Ini berkas yang diminta oleh Tuan Tian" ucap Ramos seraya memberikan berkas itu.


"Thanks ya ... oke kalau begitu selamat bekerja kembali, Ramos" ucap Alan seraya melambaikan tangannya yang memegang Berkas dan berjalan mundur melihat kearah Ramos .


Ramos hanya bisa mengangguk kan kepala nya, dan membungkukkan tubuhnya pada Alan. Sebagai tanda hormat nya.


*****


"Wah, Ven ... lehermu kenapa ... ? jangan katakan kalau ini kelakuan si kaku ... ? apa dia kasar padamu ... ? atau jangan-jangan kau mengalami hal yang kasar ... ? KDRT gitu ... ?" tanya Marissa saat menyadari leher Veni yang banyak tanda merah, padahal Veni sudah berusaha menutupi nya dengan bedak dan syal yang melilit dilehernya.


"Mana ada seperti itu, Ris. Li sangat lembut kok" ucap ragu Veni


"Hussttt, jangan bahas kayak itu disini ... kan kalian tahu di sini masih ada wanita muda yang tidak mengerti masalah begituan" ucap Leona menegur Marissa dan Veni seraya melihat kearah Dinda.


Dinda yang memang sudah faham akan hal begituan, hanya bisa tersenyum.


"Tidak apa-apa kok kak, hanya saja aku kurang faham sedikit tentang masalah begituan " ucap Dinda


"Emmm ... kita Vidio call dengan Angelina yuk, siapa tahu dia sudah selesai bekerja " ucap Leona.


"Kau sangat pintar mengalihkan pembicaraan, emang nya kau tidak kepo malam pertama mereka" ucap Marissa lagi.


"Kalian emang cocok, tadi diluar si cowok, eh di sini si cewek" ucap Veni dengan senyum nya,


"Entar aku bilangin ke Tuan Tian, agar kalian dipercepat untuk nikah, biar gak kepo lagi" imbuh Veni.

__ADS_1


__ADS_2