Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 141


__ADS_3

Leona menghela nafas dan mengajak Arita untuk berjalan-jalan keliling rumahnya, Leona juga melihat perubahan fisik Arita, ia semakin merasa kasihan melihat kondisi anak itu.


"Apakah kau masih mencintainya ... ?" tanya Leona memecah kesunyian.


"Aku masih sama mencintai nya, tapi ... aku ... aku sidah tidak bisa bersama nya lagi, banyak salah yang aku perbuat, dan aku ... " Arita menundukkan wajahnya menahan tangisnya.


"Aku bukan lah wanita suci dan berilmu, tapi yang aku tahu ... masih ada kesempatan untuk kita yang ingin berubah, termasuk dirimu" ucap Leona.


"Aku menyerah dengan sakit ku, setiap saat aku menahan sakit, aku menahannya karena melihat papa dan Arsa, permintaan yang Arsa minta pada Tuan Tian, itu karena aku ... sebelum aku pergi ... aku ingin papa menjadi pria sukses lagi, dan bisa berkumpul dengan anak kandungnya dengan bahagia, Kak Leona ... aku tahu ... kau orang yang paling baik yang pertama kali aku temui setelah papa ku, kau mengenal papa ku juga, bukankah dia pria yang baik dan selalu membantu orang lain, karena ku ... pekerjaan nya kini telah hilang, aku mohon ... berilah tempat untuk papa ku memulai lagi" mohon Arita.


Leona menatap Arita, memegang kedua bahunya, benar ... tubuhnya makin kurus, ia terlihat gemuk hanya karena pakaian besarnya.


"Katakan padaku ... sebenarnya penyakit Gonore mu sudah sembuh bukan ... lalu ... sakit apa yang kau alami sekarang ... ?" tanya Leona seraya menatap kedua mata Arita.


"Kanker Serviks kak " ucap Arita dengan bahu terguncang.


"Tapi ... tapi aku mohon, jangan katakan apapun pada papa atau yang lain, hanya aku dan dokter yang tahu, aku sudah tidak bisa sembuhkan kak, maafkan aku atas segala kesalahanku" ucap Arita lagi dan lagi.


"Sekarang kakak juga tahu ... aku hanya ingin pergi dengan tenang, aku ... aku ... "


Sebelum Arita meneruskan ucapannya, Leona menarik tubuh Arita dan langsung memeluk nya.


"Aku tahu ... kau pasti akan berubah suatu saat nanti, hanya saja aku tidak menyangka kau akan menderita begini, maafkan suamiku karena telah membuat tangan mu terluka saat itu, maafkan aku dan suamiku" Leona memeluk tubuh yang semakin kurus.


Leona tahu gejala kanker serviks, yang salah satunya, nafsu makan berkurang, mungkin karena itulah kini tubuh Arita terlihat lebih kurus.


*****


"Aku berharap kau akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab setelah ini, selepas kau menjadi pengkhianat, jangan mempermalukan kau lelaki dengan hal perselingkuhan, karena sejatinya lelaki hebat itu jika bisa bertahan dengan satu wanita, dalam keadaan suka ataupun duka"ucap Tian pada Arsa yang selalu tertunduk.


Arita dan Arsa kini telah kembali pulang, Leona menatap iba pada Arita, namun ... Leona merasa kagum ... karena Arita menyembunyikan sakitnya hanya untuk tidak membuat Candra khawatir.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, jika Arita bukanlah anaknya Candra ... "ucap Leona menatap Tian di sampingnya.


"Karena itu tidak penting sayang" Tian membalas tatapan Tian.

__ADS_1


"Kau melakukan semuanya untuk ku, sekarang ... aku juga ingin tahu siapa anaknya Candra, aku yakin ... kau tahu tentang itu juga"ucap Leona


"Dinda ... dialah anaknya Candra yang sebenarnya"Ucap Tian langsung.


Leona terdiam ia terkejut dengan permainan takdir yang berkabut dalam satu atap.


Saat Tian dan Leona saling menatap, tiba-tiba Tian merasa perutnya seakan di aduk, ia meringis kesakitan, merasa sesuatu akan segera keluar dari mulutnya, Tian bangun dari tidurannya dan segera berlari kedalam kamar mandi.


Uwek ... uwek ... uwek ...


Leona yang berdiri di depan kamar mandi, menggedor nya, karena Tian mengunci pintunya dari dalam.


"Tian ... buka pintunya ... kau kenapa sayang ... ? Apakah kau sakit? jangan buat aku khawatir" Leona terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandinya.


"Sayang ... buka pintunya" Leona tampak sangat khawatir.


Saat Leona masih terus mengetuk pintunya, pintu itu terbuka, terlihat Tian yang pucat.


"Sayang ... kau kenapa? kau baik-baik saja kan ... ? Jangan buat aku khawatir" Ucap Leona seraya memapah tubuh Tian ke ranjang.


Saat Leona ingin beranjak pergi, tangannya di pegang oleh Tian.


"Mau kemana ... ?" tanya Tian


"Aku akan mengambil obat untukmu, oh tidak kau harus di periksa, aku akan menelpon dokter Jimmy untuk mu"ucap Leona


"Tidak usah, aku baik-baik saja"


Namun ....ucapan tidak sejalan dengan kondisi Tian, Setelah mengucapkan kata itu, perut Tian merasa seakan di aduk -aduk lagi.


Tian segera bangkit dan menuju ke kamar mandi lagi, terdengar lagi suara muntahan Tian.


Dengan segera Leona memanggil Asisten Li lewat panggilan telfon nya, mendengar Tuannya sakit, Asisten Li bahkan sampai terjatuh karena berlari, Veni yang di belakang nya juga ikutan jatuh di atas tubuh Asisten Li.


Namun mereka segera bangun dan menuju ke kamar Leona

__ADS_1


"Nona ... apa kami boleh masuk?"tanya Asisten Li


"Masuklah Li ..." ucap Leona yang terlihat duduk di sisi Tian


"Apa yang terjadi pada Tuan Nona"tanya Asisten Li yang melihat wajah pucat Tian


"Dia mual terus dari tadi, muntah begitu, kau hubungi Dokter Jimmy"Ucap Leona


"Sudah Nona, Dokter Jimmy sudah ada di perjalanan"ucap Asisten Li


"Jangan-jangan Tuan Tian hamil Aaaaa ... "teriak Veni dengan ucapannya sendiri, sedangkan Asisten Li dan Leona terkejut, beda dengan Tian.


Tian malah terlihat tersenyum, mungkin ia ingin tertawa dengan apa yang di katakan Veni.


"Kau mungkin benar Ven, karena sahabat mu ini selalu memperkosa ku akhir-akhir ini"ucap lirih Tian namun masih terdengar oleh tiga manusia yang ada dalam ruangan itu.


Langsung saja Leona memukul dada Tian dengan bantal, ia melotot pada arah Tian, yang mana Tian tambah tertawa melihat expresi wajah Leona.


"Kalian jangan dengarkan omongan dia, mana ada lelaki hamil, dan mana ada istri memperkosa suami"ucap kesal Leona.


Asisten Li menatap haru pada pasangan Tuannya, melihat tawa meski wajah dalam keadaan pucat, itu membuat asisten Li bahagia, karena di situlah ia yakin kalau Tuannya benar-benar bahagia saat ini.


Sesaat ruangan itu menjadi hening, namun teralihkan saat suara ketukan pintu yang terbuka membuat pandangan mereka menatap arah pintu.


Dokter Jimmi berjalan mendekati Tian, ia menatap wajah sahabatnya itu.


"Ini bukan sandiwara untuk mengambil perhatian Istri mu kan ...?"bisik Dokter Jimmy pada Tian, yang langsung mendapatkan pelototan mata Tian.


Tian tidak ingin rahasia nya dulu terbongkar di hadapan Leona.


"Dia muntah terus dari tadi, Dok" ucap Leona yang kini berdiri di sisi Tian


Dokter Jimmy menatap Leona yang begitu khawatir.


Dokter Jimmy tersenyum seraya memeriksa Tian

__ADS_1


"Nona tidak perlu khawatir, selain Alergi ... penyakit tidak akan bertahan lama di tubuh suami mu Nona, dia terlalu kejam untuk penyakit singgah di tubuhnya"ucap Jimmy seraya tersenyum, namun dapat tendangan kecil dari Asisten Li dari belakang.


__ADS_2