![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
"Tuan, Nyonya" ucap Asisten Li yang di tugas kan untuk menjemput Mami dan Papi nya Tian
"Kenapa kalian telat mengabari kami, bagaimana bisa Kalian berbuat begitu, Mami juga ingin menemani menantu Mami lahiran, apa yang akan menantu ku pikirkan, kasihan sekali dia" oceh Maminya Tian karena telat di beri kabar.
"Sudah Mi ... yang penting Leona dan anaknya selamat kan ... " ucap sang papi yang kini mereka sudah duduk di dalam mobil.
"Anak Tuan kembar Nyonya " ucap Li yang langsung dapat pukulan dari belakang kursinya.
"Kalian benar-benar ya ... suka bikin Mami jantungan, lahir bayi kembar secara normal ... ?apa Tian masih waras ... ? bagaimana jika terjadi sesuatu pada menantu ku ... !" emosi Maminya Tian.
Akhirnya Asisten Li memilih diam.
Deru nafas Maminya Tian masih naik turun, ia sangat menyayangi Leona sebagai menantunya, ia juga sangat ingin menemani menantu nya untuk proses persalinan, namun ... semua yang di rencanakan sudah sirna, hilang sudah catatan sebagai mertua idaman, pikir Maminya Tian.
"Wajahnya jangan begitu, nanti menantu mu syok melihat nya" goda Papinya Tian.
"Pokoknya Papi harus marahin Tian nantinya" ucap rajuk Maminya Tian
"Jangan khawatir, kalau perlu Papi akan menjewer telinga nya" ucap sang papi.
Akhirnya Maminya Tian diam, ia sudah tidak sabar ingin sekali bertemu dengan cucunya, apalagi dengan kabar yang ia terima bahwa cucunya kembar.
"Li ... kenapa pelan sekali, kau tidak lebih dari siput Li" Maminya Tian kembali bersuara, padahal Li sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
Asisten Li hanya bisa diam, ia mengerti Nyonya besarnya sudah tidak sabar.
beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah sakit, Maminya Tian dan Papinya langsung turun tidak menunggu Li untuk membuka kan pintu.
"Mam, sudah jangan cepat-cepat jalannya, ingat Mami memakai sepatu tinggi" ucap sang Papi
"Kalian saja sebagai pria jalannya lamban" ucap Maminya Tian
Akhirnya Maminya Tian sampai di depan ruangan Leona, dimana ia melihat Ibunya Leona baru saja keluar dari ruangan itu.
"Jeng, bagaimana cucu kita ... pasti cantik kayak saya kan ... ?" ucap Maminya Tian
__ADS_1
Ibunya Leona hanya diam, mendengar ucapan itu.
"Masuklah Jeng, mereka sudah menunggu mu, , saya pergi dulu ya jeng, titip anak ku" ucap Ibuknya Leona
"Eh, dia juga anakku, ya sudah hati-hati jeng" ucap Maminya Tian
Ibunya Leona pun berlalu dengan terburu-buru.
Sedangkan orang tua Tian sudah masuk kedalam ruangan Tian.
Saat Maminya Tian ingin bersuara, Tian langsung memberi isyarat agar Maminya diam dengan jari telunjuknya ia letakkan di bibirnya.
"Jangan rame Mam, Leona lagi istirahat" ucap Tian seraya mendekati Mami dan Papi nya.
"Kau keterlaluan Tian, kau bahkan tidak menghubungi Mami dan Papi, kau tahu sendiri kan ... bagaimana Mami ... "
Ucapan Maminya tertahan saat Tian memeluknya.
"Mami, Tian sudah melihat ... bagaimana sekarang wanita melahirkan anaknya, Mami juga seperti itu dulu saat melahirkan Tian kan ... ? Terimakasih Mam ... terimakasih karena sudah berjuang untuk Tian" ucap Tian memeluk Maminya.
"Hei, kau berkata apa ... ? jangan berkata seperti itu, nanti Mami jadi lupa kalau ingin memarahimu" ucap Maminya seraya mengelus kepala Tian.
"Sayang ... sudah ... semuanya sudah terlewati, istri dan anak-anakmu sudah selamat dan mereka sehat, Tian ... begitulah perjuangan seorang Ibu untuk anaknya, dan cinta istri pada suaminya. Istri ingin memberikan suami keturunan untuk suami yang begitu ia cintai, maka dari itu ... jangan pernah sia-sia kan wanita yang sudah rela mengandung anakmu selama 9 bulan lamanya, dan berjuang melahirkan nya" ucap Maminya Tian
"Tian tidak akan pernah menyia-nyiakan nya Mam ..." mata Tian sudah sembab.
"Baiklah ... Mami akan lihat bayi kalian, sudah di kasih nama siapa ... ?" tanya sang Mami
"Kasih nama Leona dan Tian saja Mam ... "jawab Tian sekenanya
"Nama apa itu ... ? bagaimana kalau Nathan dan Nala" ucap sang Mami seraya mengambil bayi perempuan yang sudah terbangun.
Maminya menatap manik mata bayi kecil itu.
"Dia akan memiliki aura nya sendiri Tian, matanya menunjukkan ada kekejaman dalam dirinya yang tidak bisa kita kendalikan" ucap sang Mami.
__ADS_1
"Benarkah ... ! tentu ... dia adalah cucuku, dia juga harus bisa memiliki aura itu, karena biar dia perempuan ... dia harus kuat seperti kakeknya" ucap tiba-tiba papanya Alan yang baru tiba.
"Om " ucap Tian seraya memeluk Om nya.
"Ada apa, kenapa kau menanyakan nama itu"tanya Omnya Tian
"Ada hal yang harus Tian tahu tentang nama itu Om, bukan kah pada tahun itu, Om juga mengalami penyerangan, sebaiknya kita bicara di luar " ucap lirih Tian yang tidak ingin di dengar oleh Papi dan Maminya.
Apalagi sampai terdengar oleh Leona.
"Pap ... Mam ... aku dan Om mau ngopi di luar, titip Istriku dan anak-anak ku ya" pamit Tian
"Kau akan pergi dengan rambut yang acak-acakan seperti itu" tanya sang papi
Tian langsung bercermin dan menyisir rambutnya dengan tangannya.
"Anak Mami meskipun acak-acakan tetap tampan, sudah sana isi juga perutmu " ucap sang Mami yang masih terus menggendong bayi perempuan yang ia tetapkan dengan nama Nala.
Akhirnya Tian dan Omnya keluar dari ruangan Leona dan menuju ke kantin rumah sakit.
Sedangkan Asisten Li mengurus rapat dadakan yang terjadi di perusahaan bersama Veni sebagai pendamping.
"Pap ... coba kau lihat ... mirip sekali kan dengan keluarga kita, Nathan ... kenapa kau tidur terus sayang, ayo main sama Nala" elus Maminya Tian pada pipi gembul Nathan.
"Dia seperti Tian saat masih bayi Mam ... apakah Mami ingat saat keluarga kita membangunkan Tian dulu, susahnya sama kayak kita membangun kan Nathan kan ... " ucap Papinya Tian
Mereka saling bercengkrama dengan bayi Nala sesekali Maminya Tian melihat ke arah Leona.
*****
"Darel Atmajaya ... anggota militer pada tahun 90an menghilang pada tahun 99, kau benar Tian ... saat itu anggota Om juga mengalami serangan dari musuh, apakah mungkin ... Darel itu ... terlibat pertarungan dengan tiga kelompok ... ?" tanya sang Om.
"Apakah Om tidak bisa melacak keberadaan nya?" tanya Tian
"Siapa dia bagimu ?" tanya Omnya
__ADS_1
"Dia ayah Istriku Om, saat itu Leona berumur sekitar 5 tahun, ayahnya pamitan untuk melakukan tugas, sejak saat itulah, Leona tidak lagi melihat sang ayah, Ibu mengatakan kalau ayah gugur saat peperangan, tapi mayat tidak di temukan, bahkan identitas pun tidak ada" ucap Tian
"Kemungkinan besar, jika Darel itu hidup ia masih dalam sekapan para bajing*n itu, jika mereka masih menyekapnya kemungkinan Darel bukanlah anggota militer biasa, bisa jadi dia ketua anggota yang memegang beberapa rahasia negara, jika ia di bunuh secara terpisah dengan anggota itulah yang menjadi masalah, bahkan identitas pun tidak akan pernah di temukan Tian" ucap Omnya.