
Hari sudah mulai larut malam, Shin Shui pun berniat untuk segera pergi dari ruangan Yashou. Tidak enak juga jika bicara sampai larut malam, lagi pula Shin Shui sudah mulai mengantuk.
"Senior, aku izin untuk pergi ke ruanganku. Rasa ngantuk sudah menyerangku, ehehhe … selamat malam senior. Sampai jumpa besok pagi," kata Shin Shui berniat untuk segera pergi.
"Ah baiklah Shui'er. Selamat malam," kata Yashou sembari beranjak dari tempat duduk untuk mengantarkan Shin Shui sampai ke depan pintu.
Shin Shui mulai berjalan perlahan, suasana perguruan pun tampak sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang berjaga saja disana, udara yang dingin mulai menusuk tulang, dengan cepat pemuda biru itu buru-buru masuk ke ruangannya.
Ternyata rasa ngantuk bukan hanya menyerang Shin Shui, tapi Yashou pun merasakan hal yang sama. Pendekar tua itu bersegera untuk beristirahat, tapi sebelum itu dia sempat membayangkan sesuatu.
"Tidak kusangka impianku selama ini yang tidak mungkin aku wujudkan bisa menjadi mungkin. Lao Yi sahabatku, semoga perjalananmu menjadi Pendekar Keabadian bisa tercapai. Terimakasih karena kau sudah mengingatku sampai sejauh ini, kau pasti bangga memiliki murid berbudi pekerti luhur seperti Shui'er. Kau berhasil melahirkan seorang murid yang begitu hebat, aku yakin beberapa tahun lagi muridmu akan menjadi pilar utama dunia persilatan kekaisaran Wei."
"Aku sangat menjamin akan hal itu, aku harap kita bisa bertemu kembali dan bertukar cerita seperti dahulu kala. Jika aku sudah benar-benar berhasil membangun sekte, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu."
Pendekar tua itu bergumam sembari tiduran dengan kepala disangga oleh kedua tangannya. Mata pendekar tua itu menatap nanar langit-langit kamar, tak terasa air mata mengalir sedikit saat mengenang masa lalunya.
"Hahhh …" dia menghela nafas berat.
Rasa sesak dihati karena gagal menciptakan perdamaian mulai menghantui kembali, buru-buru saja pendekar tua itu menuju ke alam mimpinya supaya tidak bertambah sedih.
###
Hari sudah pagi, matahari baru keluar sedikit, cahayanya masih malu-malu untuk menyinari bumi. Tapi keadaan di Bukit Awan sudah ramai, para murid sudah bangun dan hendak melakukan sarapan.
__ADS_1
Burung-burung penghuni Bukit Awan terdengar riang bernyanyi menghiasi pagi, suasana pagi yang sejuk ini sungguh nikmat jika dibarengi dengan secangkir teh.
Disebuah ruangan, Yashou bersama tiga murid inti, Yun Mei dan Shin Shui sedang berbincang-bincang. Mereka menikmati pagi dengan suasana bahagia, pasalnya Yashou sudah menceritakan apa yang direncanakan dirinya bersama Shin Shui.
Cukup lama mereka berbincang seperti itu, kesemuanya kini sudah bertambah akrab. Padahal Shin Shui baru satu hari tinggal disitu, mereka lalu berniat untuk melakukan kegiatan masing-masing.
Tiga murid inti Yashou segera pergi ke lapangan untuk melatih para murid. Para murid itu sudah berkumpul di lapangan walaupun latihan belum dimulai, hal ini karena memang perguruan Bukit Awan terkenal kedisiplinannnya.
Tak lama mereka sudah mulai berlatih kembali, para murid dilatih bagaimana cara menangkis serangan lawan lalu dengan cepat menyerang. Para murid itu sangat senang, tidak terlihat rasa kesal dari wajah mereka meskipun disuruh latihan pagi-pagi buta. Justru waktu ini memang sangat baik untuk melakukan latihan, terlebih karena udara pun masih belum tercemar.
Shin Shui dan Yun Mei berjalan berdampingan menuju tempat latihan para murid. Mereka yang melihat Shin Shui dengan seorang gadis langsung berhenti berlatih sebentar untuk memberi hormatnya.
"Emmm … maaf, apakah aku boleh mengajari satu atau dua hal kepada para murid ini?" tanya Shin Shui ke tiga murid inti Yashou.
Karena sudah mendapat izin, Shin Shui langsung memberikan gerakan silat dasar kepada para murid. Yun Mei hanya melihat dengan senyuman terlukis di bibirnya.
Para murid tersebut menjadi lebih bersemangat latihan, bagaimana tidak? Mereka dilatih oleh seorang pendekar yang kekuatannya mengerikan, tentu saja ini menjadi kebanggaan para murid Perguruan Bukit Awan.
Setelah sekitar tiga puluh menit berlatih, Shin Shui segera menyudahinya. "Anak-anak, jika kalian sudah hebat suatu saat nanti, musuh terbesar kalian bukanlah lawan di medan perang. Tapi musuh terbesar kalian adalah diri sendiri, jika kalian sudah bisa mengalahkan diri sendiri maka kalian akan menjadi pendekar yang lebih hebat dariku, atau bahkan dari guru kalian ini." kata Shin Shui memberi sedikit pesan kepada mereka.
Para murid serentak berterimakasih dan menganggukkan kepalanya. Rasa hormat kepada Shin Shui semakin bertambah, para murid Yashou pun semakin kagum dengan kepribadian Shin Shui.
###
__ADS_1
Ditempat lain …
Suasana di rumah utama keluarga Liu terlihat ramai, banyak para pendekar berkumpul disana saat ini. Mungkin jumlahnya sekitar lima puluh orang, tingkatannya pun berbeda-beda, mulai dari Pendekar Bumi hingga Pendekar Dewa tahap dua yang berjumlah sekitar lima orang.
Mereka berkumpul di halaman depan, tak lama keluar seorang pria tua dari dalam rumah tersebut. Pria tua itu keluar dengan seorang pemuda, benar … mereka adalah ayah dan anak, Liu Wu Zen dan ayahnya Liu Kay Chen.
"Semuanya, ayo kita berangkat ke Bukit Awan. Kita akan membalas perlakuan yang dibuat pemuda itu kepada anakku," ucap Liu Kay Chen kepada para pendekar tersebut.
"Baik …" jawab mereka serempak.
Mereka semua lalu berangkat dengan menggunakan kuda masing-masing. Suara hentakkan kaki kuda terdengar tidak berhenti. Para penduduk yang melihat hal tersebut merasa ada keanehan karena sebelumnya tidak pernah seperti ini.
Tapi tentu saja mereka tidak berani berkata apa-apa, mereka tidak mau menjadi korban keluarga Liu yang terkenal licik itu. Rombongan tersebut pun terus melaju tanpa henti dengan dikomandoi oleh Liu Wu Zen dan Liu Kay Chen sendiri.
Suasana yang cerah membuat mereka bersemangat untuk melakukan penyerangan ke Bukit Awan. Sebenarnya pasukan pendekar yang dibawa oleh keluarga Liu bukanlah keluarga aslinya.
Melainkan mereka adalah pendekar sewaan yang dijanjikan bayaran mahal jika berhasil membunuh pemuda yang tak lain adalah Shin Shui. Hampir semua dari para pendekar itu merupakan pendekar tanpa sekte aliran hitam dan perampok yang selalu membuat kerusuhan.
Hanya dengan waktu kurang lebih dua jam, rombongan pendekar yang dibawa keluarga Liu sudah hampir sampai di Bukit Awan, mungkin kira-kira dua puluh menit lagi mereka akan sampai ke tempat tujuan utamanya.
###
Jangan lupa baca Cakra Buana ya😁tiap hari in shaa allah up dua chap, hanya saja karena masih baru jadi up nya agak lamaan😁jan lupa jadikan favorite ya😁🙏
__ADS_1