Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Desa Miskin


__ADS_3

Shin Shui dan Chang Lee mulai memasuki desa itu, desa itu tampak seperti desa mati. Penduduk disana terlihat sangat kurus, hanya tulang berbalut kulit. Mereka benar-benar kelaparan, sampah berserakan dimana-mana. Bau busuk sangat menusuk hidung, benar-benar desa yang luput dari perhatian pemerintah setempat, pikir Shin Shui.


Tidak ada kebahagiaan didalam desa itu. Para warga yang melihat kedatangan Shin Shui ketakutan. Mereka trauma karena setiap ada orang asing datang sudah pasti akan mengambil gadis yang lumayan cantik untuk dijual. Orang-orang yang mengambi gadis untuk dijual itu adalah orang suruhan walikota Huan Xi.


"Tenanglah para warga sekalian, aku tidak akan mengganggu kalian. Aku juga tidak akan mengambil gadis kalian. Aku kesini mengantar pendekar muda ini, dia akan membantu apa yang dia bisa." Chang Lee mulai membuka suara sesaat setelah tatapan warga menjadi berbeda kepada keduanya.


"Apa yang dikatakan senior ini benar. Aku datang kesini untuk membantu semuanya. Aku akan memberikan sedikit hadiah." Shin Shui lalu mengibaskan tangannya.


Tak berselang lama, sekitar tiga buah kotak berisi emas mendadak muncul dari ruang hampa. Para warga sontak kaget melihat kejadian itu, mereka bahkan mengira bahwa pemuda itu adalah penyihir.


"Tenang saudara-saudara. Ini adalah koin emas asli, pendekar muda ini mendatangkannya dari cincin ruang. Bagi kalian orang awam mungkin memang aneh, tapi bagi para pendekar hal ini adalah sebuah hal lumrah." Chang Lee kembali menjadi penengah mereka.

__ADS_1


Tak mau membuang waktu, Shin Shui langsung mengatakan maksud dan tujuannya datang ke desa ini.


"Perkenalkan sebelumnya namaku Shin Shui, aku masih berasal dari daerah dekat ibukota kekaisaran Wei. Aku tidak berasal dari sekte manapun. Aku datang kesini ingin membantu kalian dan tentunya membenahi desa ini. Tiga buah peti emas ini aku sumbangkan untuk membangun desa ini kembali. Semuanya aku serahkan kepada senior Chang. Dia yang akan memegang kendali, aku masih ada urusan dengan walikota." Shin Shui menjelaskan panjang lebar. Memang, tujuan dia sebenarnya adalah untuk membantu menata kembali desa ini.


Chang Lee pun tahu maksud dari tujuan Shin Shui, tapi sungguh, dia juga kaget melihat Shin Shui menyumbangkan tiga peti emas kepada para warga. 'Dia bukan anak biasa, pastinya memiliki latar belakang yang istimewa. Beruntung aku berteman baik dengannya,' gumam Chang Lee sembari memandangi Shin Shui yang terlihat sedang berbicara dengan salah seorang warga.


"Senior, aku minta tolong kepadamu untuk mengurus semua ini. Apakah senior tidak keberatan?" tanya Shin Shui kepada Chang Lee setelah dia selesai berbincang dengan seorang warga. "Kau tenang saja Shui'er. Aku akan mengurusnya dengan baik." jawab Chang Lee.


###


Kediaman walikota Huan Xi ….

__ADS_1


Sang walikota itu kini sedang benar-benar marah setelah mendengar sebuah berita yang terasa seperti petir menyambar. Dia sudah mendengar berita tentang kematian lima belas pendekar andalannya.


Rasa tidak percaya, takut, khawatir, cemas, marah, semuanya bertumpuk menjadi satu saat ini. Siapa pemuda itu? Mengapa dia bisa melakukan semuanya, apakah dia salahsatu siluman? Pikir Huan Xi saat ini.


Seseorang yang berpakai seperti ketua di antara prajuritnya memasuki ruangan walikota Huan Xi setelah sebelumnya sengaja dia panggil. Ketua prajurit itu langsung membungkuk dan memberi hormat kepada Huan Xi.


"Hmmm … pergi sekarang juga ke markas sekte Beruang Hitam. Bilang pada Pendekar Lima Serangkai yang menjadi tetua disana, bahwa aku Huan Xi membutuhkan bantuan. Setidaknya mereka sendiri atau lima Pendekar Dewa tahap tiga. Laksanalan sekarang juga," kata Huam Xi yang memberikan perintah kepada prajuritnya.


"Baik tuan." prajurit itu langsung pergi dari hadapannya.


"Pemuda keparat … berani-beraninya dia bermain denganku. Apa dia orang asing? Sehingga tidak mengenali walikota Huan Xi ini. Tapi tak apa, biarkan dia terlihat senang sebelum kematian datang menjemputnya, hahahaha …." walikota itu tertawa lantang di dalam ruangannya. Amarah dan dendamnya sedikit terobati, tapi itu hanya beberapa menit saja.

__ADS_1


Setalah dia melihat kembali Huan Zi yang masih belum sadar juga, amarahnya kembali memuncak. Rasanya dia benar-benar ingin mencabik seluruh tubuh pemuda yang telah membuat anaknya jadi seperti ini.


__ADS_2