
Di perguruan Bukit Awan …
Keadaan di Bukit Awan kini terasa berbeda, bukan dari segi kekuatan ataupun lainnya. Melainkan dari segi perasaan. Benar, perasaan.
Perasaan yang selalu hadir dalam jiwa manusia. Ada banyak macam perasaan, tapi perasaan yang dirasakan oleh Perguruan Bukit Awan adalah perasaan sedih, meskipun sudah sebulan Shin Shui meninggalkan Bukit Awan. Tapi mereka masih merasakan kesedihan, pasalanya karena setiap apa yang dia lakukan masih membekas dihati mereka sampai sekarang.
Disebuah ruangan, seorang pendekar tua sedang melakukan rapat dengan beberapa pendekar lainnya. Mereka adalah Yashou dengan para murid intinya, termasuk Hong Liong dan Wu Chi pun ada disana. Mereka sedang membahas masalah rencana pembuatan sekte.
"Menurut kalian, kapan waktu yang tepat untuk membuat sekte?" tanya Yashou kepada yang lainnya.
Belum ada yang menjawab dari mereka ketika mendengar pertanyaan Yashou tersebut. Semuanya sedang menimbang jawaban dan bergelut dengan pikiran masing-masing, mereka nampaknya bingung. Pasalnya tidak ada yang pernah atau bahkan mengerti tentang pembuatan sekte.
"Maaf senior, menurutku lebih cepat lebih baik. Karena membuat sekte bukanlah perkara yang mudah, apalagi tuan muda ingin membuat sekte setidaknya kelas menengah. Menurut saranku lebih baik satu minggu atau beberapa minggu ke depan kita sudah harus memulai, sekarang lebih baik merancangnya dengan serius. Kita semua harus turun gunung untuk mencari relasi dan lain sebagainya, terlebih senior Pendekar Belalang Sembah sendiri. Sebab, jika senior yang langsung turun tangan, aku yakin akan banyak yang berminat untuk membangun relasi dan bergabung dengan kita."
"Selain itu kita juga harus merekrut murid yang banyak, apalagi disini masih banyak kamar kosong. Lapangan untuk latihan pun luas, jadi ketika proses pembuatan sekte sudah selesai maka akan banyak para generasi muda yang memiliki kekuatan setidaknya diatas sekte lain. Terlebih karena sumber daya disini berlimpah dan banyak tersedia sumber daya di masa lalu. Bagaimana, apakah usulanku ini bisa diterima senior?" kata Wu Chi menjelaskan panjang lebar kepada Yashou.
__ADS_1
Yashou sedikit terkejut mendengar usulan dari Wu Chi, sebelumnya Wu Chi adalah yang paling pendiam diantara kesemuanya. Tapi siapa sangka? Pria itu ternyata memiliki jalan pikiran yang cukup baik.
Semua usulan yang dikatakan Wu Chi memang masuk akal, sebelum terjadi pastilah kita harus sudah punya persiapan. Sedia payung sebelum hujan.
"Hemmm … kau benar Wu Chi, baiklah, dalam beberapa minggu ke depan kita akan memulai rencana pembuatan sekte. Siapkan semuanya dengan matang, jangan sampai kita mengecewakan Shui'er ketika kita pulang nanti." kata Yashou kepada mereka yang hadir.
Semuanya hanya mengangguk faham, rapat tersebut lalu dilanjut dengan berbincang-bincang hal lainnya.
###
Selain berlatih, dia juga mulai mengkonsumsi sumber daya yang diberikan Shin Shui sebelum pergi meninggalkan Perguruan Bukit Awan. Contohnya seperti Pil Pembuka Kekuatan, Ginseng Dewa, dan lain sebagainya. Gadis itu sama seperti Shin Shui, dia ingin cepat-cepat meningkatkan level pelatihan dan kekuatannya.
Saat ini gadis cantik itu sedang berada dibawah pohon sakura yang dulu pernah diduduki oleh dirinya dan Shin Shui. Memang, setiap latihan Yun Mei pasti akan berlatih dibawah pohon itu. Entah kenapa dirinya selalu menyukai latihan dibawah pohon sakura, dia sendiri tidak tahu alasan pastinya.
Padahal lapangan masih luas, ruangan khusus untuk latihan tertutup tersedia, tapi tetap saja gadis itu lebih memilih berlatih dibawah pohon sakura. Mungkin karena jika berlatih dibawah pohon sakura dirinya selalu merasakan kehangatan dan kebahagiaan tersendiri, kenangan indah dengan Shin Shui selalu terbayang dalam pikirannya.
__ADS_1
Sekarang saja Yun Mei sedang berlatih ilmu pedang yang diajarkan oleh Kitab Tarian Dewi Pedang. Gadis itu baru menguasai beberapa jurus saja, wajar, karena gerakannya cukup rumit. Apalagi bagi orang yang pertama berlatih pedang sepertinya.
"Hahhh … ternyata sangat sulit. Padahal sudah sebulan aku berlatih. Tapi sejauh ini aku baru bisa menguasai lima jurus, itupun dasarnya saja." keluh Yun Mei sembari mengelap keringat di keningnya.
"Mei'er …." tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Ah senior," kata Yun Mei seraya memberi hormat setelah mengetahui siapa yang datang.
Benar, dia adalah Pendekar Belalang Sembah, Yashou. Pria tua itu memang terkadang menemani Yun Mei ketika berlatih. Atau mengajari jurus-jurus lain yang dimilikinya kepada gadis itu.
"Kau sudah menguasai berapa jurus?" tanya Yashou.
"Aku baru menguasai lima jurus saja senior," jawabnya dengan raut wajah sedih.
"Hemmm … tidak papa, jangan bersedih. Bagi yang pertama berlatih, itu sudah terbilang bagus. Apalagi kitab yang kau pelajari termasuk kitab tingkat tinggi," tutur Yashou memberi semangat.
__ADS_1
"Terimakasih senior. Aku akan mencoba lagi sekarang," ucapnya seraya berniat kembali berlatih.