Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Semuanya … Maafkan Aku


__ADS_3

Shin Shui dan Raja Iblis Merah sudah siap bersama jurus-jurus yang mampu menggetarkan langit dan buminya masing-masing. Keduanya sudah saling pandang.


"WUSHH …"


Shin Shui dan Raja Iblis Merah melesat secara bersamaan. Tidak ada yang bisa melihat bagaimana kecepatan keduanya kecuali mereka para Pendekar Dewa tahap lima ke atas.


Semua tetua dan kepala tetua dari masing-masing sekte melihat kejadian ini. Mereka khawatir akan keselamatan Shin Shui. Tapi mereka juga sungguh tak pernah menyangka bahwa dia memiliki kekuatan seperti ini.


"Shushi kau jangan kalah. Aku disini menunggumu … doaku selalu menyertaimu," gumam Yun Mei sambil meneteskan air matanya.


"Shui'er, berjuanglah …" kata Yashou.


"Kepala tetua, kami semua mendukungmu,"


"Tuan jangan mati, kami masih ingin menjadi peliharaanmu,"


Suara-suara orang yang mendukung Shin Shui terdengar bagaikan segerombolan lebah. Mereka saling bergumam, saling berjabat tangan. Dan tentunya saling mengkhawatirkan satu sama lainnya.


"DUARR … GRRRR … DUARR …"

__ADS_1


Suara yang sangat-sangat keras terdengar beserta dengan suara aneh lainnya ketika 'tiga' Raja Iblis Merah mengadu nyawa dengan Shin Shui.


Langit benar-benar berguncang. Bumi bergetar bahka sampai terasa seperti berguling. Mereka yang tidak bisa menjaga keseimbangan jatuh bergelimpangan.


Sepertinya, pertarungan seperti ini baru terjadi dalam sejarah kekaisaran Wei. Pertarungan hidup dan mati dengan umur yang terpaut jauh pun baru pertama kali ini.


Ledakan jurus mereka hingga menghancurkan sebagian istana, gedung-gedung para pejabat hancur berantakan. Tembok isyana jebol bagaikan diterjan banjir.


Hanya satu kata yang bisa menggambarkan semua kengerian ini. 'Mengerikan'.


Debu mengepul sangat tinggi. Aura kematian terasa seperti menyatu dengan tubuh. Setiap kali bernafas, setiap itu pula aura kematian akan terasa. Sesak. Hanya itu yang bida dirasakan semua orang.


Ledakan sudah berhenti. Bumi dan langit sudah seperti semula, mereka diam kembali. Bumi terasa tak berpenghuni, karena tidak ada yang sanggup bicara walau satu patah katapun.


Keduanya terluka dalam yang sangat parah. Shin Shui yang keadaannya paling mengenaskan. Zubah Perang Halilintar hancur, Kalung Kristal Halilintar pun pecah berkeping-keping.


Dia muntah darah sangat banyak. Seluruh tubuhnya sudah dipenuhi luka. Bahkan ada beberapa tulang dibagian tubuhnya yang patah hingga remuk. Shin Shui sudah begitu lemas terkulai, jangankan untuk bertarung kembali, bangun pun tidak sanggup.


Kondisi Raja Iblis Merah masih bisa dibilang mendingan, meskipun sama parah. Bajunya koyak, dia juga memuntahkan darah. Beberapa bagian tubuhnya ada yang gosong.

__ADS_1


Dua 'kembarannya' hilang entah kemana. Tubuhnya benar-benar merasa remuk. Belum pernah terbayangkan dalam hidupnya jika dia akan terluka separah ini oleh seorang pendekar muda.


Tapi meskipun begitu, Raja Iblis Merah masih sanggup untuk bangun. Dia bersila terlebih dahulu untuk mengumpulkan tenaganya serta mengobati lukanya walaupun sedikit.


Orang-orang yang melihat hasil dari semua ini menjerit. Mereka menangisi kondisi Shin Shui yang begitu mengkhawatirkan. Sungguh, mereka semua tidak pernah menyangka bahwa kekuatan pendekar terkuat hingga seperti ini hebatnya.


Mereka ingin menghampiri Shin Shui, tapi itu sama saja mengantarkan nyawa. Karena meskipun mengadu jurusnya sudah selesai, tapi efeknya masih terasa.


"Shushi …" Yun Mei menangis sejadi-jadinya.


Dia mencoba untuk berlari ke arena pertempuran, tapi dengan segera Yashou menahan lalu menotoknya hingga pingsan. Karena dia tahu, semua itu tidak ada gunanya.


"Maafkan aku Mei'er. Beristirahatlah dahulu," kata Yashou sambil memandangi wajah Yun Mei yang sudah dia anggap cucu sendiri.


"Ayah … ibu … maafkan anakmu. Aku tidak bisa mengalahkannya, dia sungguh hebat. Meimei, senior Yashou, senior Cun Fei, semua peliharaanku dan kalian para tetua dan kepala tetua yang mendukungku, maafkan aku. Aku … aku sudah berusaha semampuku, tapi ternyata aku masih lemah. Maafkan aku, mungkin aku akan menyusul kedua orang tuaku lebih dahulu. Guru, maafkan muridmu, aku belum bisa menjadi murid yang baik. Hingga aku tidak bisa menyelesaikan tugas ini, jika langit merestui, dikehidupan kedua nanti aku ingin semuanya terulang. Tapi dalam keadaan yang lebih baik dari semua ini," gumam Shin Shui sambil memandangi langit.


Bibirnya tersenyum bahagia, tapi air matanya juga mengalir. Mungkin dia bahagia karena akan bertemu kedua orang tuanya, tapi sedih karena harus meninggalkan semuanya.


"Semuanya, maafkan aku …" kembali dia bergumam lirih dan mulai menutup matanya.

__ADS_1


Shin Shui sudah siap menunggu datangnya Dewa Kematian, karena berbarengan dengan itu, Raja Iblis Merah memang sudah melesat kembali ke arahnya.


Entah ilmu apa yang dia gunakan sehingga bisa sekuat ini. Bahkan lukanya pun langsung pulih dalam waktu sebentar, orang yang bersekutu dengan iblis memang diluar nalar.


__ADS_2