
"Jika aku terus seperti ini, bukan tidak mungkin bahwa aku bisa saja tewas. Aku harus waspada dan memperlihatkan kekuatan asliku, terlebih aku harus waspada terhadap kepala tetua aneh itu. Aku rasa dia sudah bisa menggunakan tenaga sejati dengan baik," kata Shin Shui sambil memandang menyelidik ke arah Tiauw Pang, kepala tetua dari sekte Siluman.
Ternyata yang berpikiran seperti itu bukanlah Shin Shui saja, melainkan Tiauw Pang sendiri pun demikian. Dia juga curiga bahwa Shin Shui sudah bisa menggunakan tenaga sejati, bahkan mungkin lebih baik dari dirinya.
"Pemuda ini memang bukan pemuda biasa. Aku yakin dia sudah bisa menggunakan tenaga sejati dengan sangat baik bahkan dalam jumlah besar. Aku harus lebih berhati-hati lagi agar tidak berakibat fatal," kata pula Tiauw Pang sambil memandang Shin Shui dari atas sampai bawah.
Karena sudah mengukur kekuatan lawan sampai dimana, akhirnya kepala tetua dari sekte Bukit Halilintar itu secara perlahan mulai mengeluarkan kekuatan aslinya. Dia berencana untuk mengeluarkan delapan puluh persen dari kekuatan Kalung Kristal Halilintar.
Tiba-tiba langit yang awalnya hitam kelam dan sunyi, kini mulai bergemuruh oleh suara halilintar. Kilatan-kilatan terus bersahutan sehingga malam bagaikan siang saja.
Para murid sekte Siluman mulai merasa ngeri dengan kejadian ini, terlebih karena mereka tidak tahu apa-apa. Para murid itu mungkin berpikir bahwa ini akhir dari segalanya.
Kaki mereka tiba-tiba lemas gemeteran karena merasa takut, perlahan para murid itu semakin mundur dan menjauh dari arena pertandingan.
Ternyata kengerian itu bukan hanya dialami oleh para murid saja, melainkan tetua mereka pun merasakan hal yang sama. Tiba-tiba saja jantung mereka berdegup dengan kencangnya. Ketakutan mulai menggerayangi para tetua itu.
"Tenanglah, jangan takut. Ini memang kekuatan dari bocah itu, terlebih dari kalungnya. Kita harus melawan pula dengan kekuatan kita. Percayalah, kita akan memenangkan pertarungan ini," kata Tiauw Pang memberikan semangat kepada para tetua.
Padahal hatinya saja sudah mempunyai firasat tidak enak. Tapi sebagai kepala tetua, gengsinya lebih besar. Dia tidak mau mengakui kalau dia juga takut.
Halilintar mulai menyambar ke seluruh area sekte Siluman. Bahkan pohon-pohon pun ada yang tersambar, penampilan Shin Shui kini sudah berubah. Seperti biasa, seluruh tubuhnya sudah diselimuti halilintar.
Tak lupa juga sepasang sayap halilintar pun terlihat. Tapi kali ini sayap tersebut terlihat agak besar daripada biasanya. Dan bahkan lebih kuat pancaran aura yang diberikannya.
Di sisi lain, kedua tetua dan seorang kepala tetua sekte Siluman pun mulai mengeluarkan kemampuan mereka. Aura kegelapan dan hawa kematian menjadi sangat terasa.
__ADS_1
Udara sesak, semilir angin yang membawa hawa kengerian mulai terasa disana. Semua petinggi itu sudah diselimuti asap berwarna hitam pekat.
Tapi yang paling menonjol adalah Tiauw Pang sendiri, di belakang dirinya terlihat ada seperti sosok siluman yang lebih mirip dengan iblis. Matanya tiga dan berwarna merah darah, bentuknya seperti kera dan berwarna hitam.
Tangannya berjumlah empat buah, terlihat ada dua buah taring tumbuh yang bahkan melebihi dagunya sendiri. Sosok itu seperti gabungan dari beberapa siluman saja. Sosok siluman iblis itupun selalu membayangi walau kemana pun Tiauw Pang bergerak.
Sementara itu, Yun Mei dan tetua sekte Siluman masih saja bertarung dengan sengit. Tetua itu sungguh beberapa kali dibuat terkejut karena sering kali dirinya hampir terkena serangan pedang yang digencarkan oleh Yun Mei.
Tapi semakin lama Yun Mei terlihat semakin kelelahan, nafasnya sudah memburu. Tetua sekte Siluman itu pun sama, tapi tidak separah Yun Mei.
Tetua itu masih bisa mengatur nafasnya dengan baik, di sisi lain dia juga memang sudah berpengalaman lebih dan tentunya karena tingkat pelatihan yang lebih tinggi daripada Yun Mei sendiri.
"Cukup sudah kita bermain-mainnya gadis manis. Sekarang terima saja kematianmu," ucap tetua itu sambil melakukan gerakan yang aneh dan hendak menyerang Yun Mei.
"Pedang Pembelah Samudera …"
"WUSHH …"
Sementara itu, tetua sekte Bukit Halilintar itu juga setidaknya masih bisa melawan dengan sisa tenaga dalamnya yang ada. Jadi buru-buru dia membetulkan posisinya.
Yun Mei membentangkan kedua tangannya. Pedangnya dipegang tangan kanan, lalu pedang itu dia putar ke qrah jarum jam. Setelah itu pedangnya juga diacungkan ke langit dengan tinggi.
"Pedang Bunga Menyambut Musim Semi …"
"WUSHH …"
__ADS_1
Tiba-tiba tetua sekte Bukit Halilintar itu melesat dengan cepat dan menyambut sinar kuning yang amat terang tadi.
"TRANGG …"
"DUARR …"
"Ahhh …"
Yun Mei terpental hingga empat tombak ke belakang dan bergulingan. Gadis itu berhenti ketika tubuhnya sudah menghantam tembok yang berguna sebagai benteng pembatas sekte Siluman.
Yun Mei memuntahkan darah segar yang cukup banyak. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan patah-patah. Pandangannya sedikit kabur, tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap bertahan dan bangkit kembali.
Tetapi meskipun sudah beberapa kali mencoba bangkit. Gadis cantik itu tetap saja roboh dan roboh lagi. Tubuhnya sudah berasa benar-benar lemas dan tak berdaya. Tenaga dalamnya semakin menipis saja. Dia merasa sudah tidak ada harapan lagi.
Sebenarnya dia bisa saja menang jika menggunakan jurus-jurus Belalang Sembah yang dulu diwariskan oleh Yashou sebelum dia melakukan pengembaraan. Tapi karena dia belum menguasai secara sempurna karena kurangnya tenaga dalam, jadi dia belum mampu untuk menggunakan jurus itu.
Terlebih sekarang menghadapi lawan yang lebih tangguh. Jika menggunakannya sama saja dia mengambil resiko sendiri karena harus membutuhkan tenaga dalam dengan jumlah besar.
Karena meskipun jurus-jurus yang diberikan Yashou adalah serangkaian jurus legenda dan terkuat pada zamannya, tetap saja jika tidak bisa dikeluarkan secara maksimal maka jurus itu pun tidak akan sekuat dahulu. Karena itulah dia lebih memilih untuk tidak menggunakannya.
Sementara itu, tetua tadi begitu senangnya ketika melihat gadis cantik dan manis yang menjadi lawannya ini sekarang sudah lemas tak berdaya. Dia tertawa terbahak-bahak.
Secara perlahan tetua itu mulai berjalan ke arah Yun Mei. Matanya begitu memancarkan tatapan iblis yang keji. Dia seolah melihat mangsa yang empuk. Keinginan untuk menikmati tubuh gadis cantik dan manis itu sudah tidak bisa dia hilangkan lagi.
Nafsunya sudah menguasai seluruh diri. Jadi wajar saja jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendri. Begitulah nafsu, dia selalu saja muncul setiap saat.
__ADS_1
Ketika nafsu mengendalikan si Aku, maka apa saja yang dilakukan oleh si Aku, itu dilatar belakangi oleh nafsu belaka. Seperti pepatah mengatakan, bahwa musuh yang paling besar bukanlah lawanmu. Tapi nafsumu.