
Shin Shui yang menyadari sesuatu sedang menuju ke arahnya menjadi sedikit panik. Rasa perihnya dari lilitan Benang Iblis bahkan belum hilang, justru lilitan itu semakin bertambah kuat.
Dia masih dalam posisi memejamkan mata, berusaha untuk tetap tenang dalam kondisi seperti ini. Saat jaring-jaring tajam milik Dewi Laba-laba sudah tinggal beberapa meter lagi. Pemuda itu berteriak dengan sangat keras.
"Aku tidak akan mati … arghhh …"
"Tubuh Halilintar,"
"DUARR …"
Sebuah petir dengan sangat telak menghantam tubuh Shin Shui. Tanah tempatnya berpijak mendadak jadi lubang yang lumayan besar. Jaring Keputusasaan milik Dewi Laba-laba gagal mengoyak tubuh Shin Shui.
Jaring Keputusasaan milik Dewi Laba-laba masih melesat dengan kecepatan lumayan tinggi. Menghantam pepohonan disana hingga pohon itu hancur menjadi serpihan-serpihan kotak berukuran kecil.
Dewi Laba-laba yang penasaran apa yang terjadi dengan pemuda biru itu langsung melesat ke depan. Dia ingin memastikan apakah pemuda itu tewas disambar halilintar atau tidak.
Tapi sebelum dia berhasil mencapai jarak lebih dekat lagi, Shin Shui mendadak keluar dari lubang besar akibat sambaran halilintar tadi. Tapi sekarang, tubuh pemuda itu sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
Seluruh tubuh dan matanya mengeluarkan percikan halilintar. Percikan untuk membungkus Shin Shui secara keseluruhan, sekarang pemuda itu terlihat seperti manusia halilintar.
__ADS_1
Dewi Laba-laba yang melihat hal ini sangat terkejut bukan main. "Bagaimana bisa? Tubuhnya sekarang menjadi lebih kuat, bahkan luka akibat Benang Iblis mendadak hilang." batinnya.
Wanita itu kaget bukan main, sudah malang melintang dalam dunia pendekar, rasanya baru kali ini melihat ada pendekar seperti pemuda itu, pikirnya.
"Apa kau pikir bisa membunuhku dengan mudah? Dan apa kau juga berfikir bahwa halilintar yang menyambar akan membuatku mati? Jika demikian … kau salah besar nenek tua. Jangan sebut aku pemuda biru ataupun Pendekar Halilintar jika aku mati tersambar oleh jurusku sendiri." Shin Shui berkata dengan nada menakutkan.
Suaranya terasa mengandung energi alam yang pekat. Hal ini jelas membuat Dewi Laba-laba menjadi sedikit gentar, keringat mulai membasahi pelipisnya ketika dia sadar sudah membangunkan monster kecil.
"Sekarang giliranku, bersiap-siaplah untuk menerima jurus-jurusku. Terimalah bahwa takdir kematianmu ada ditanganku." kata Shin Shui sembari mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Langkah Halilintar, Tarian Pedang Halilintar …"
"WUSH …"
Mau tidak mau wanita itu harus menahan setiap serangannya, dia mencabut kembali pedangnya. Setiap beradu pedang, seluruh tubuhnya mati rasa, bahkan pedang yang dia gunakan sudah beberapa kali hampir lepas dari gengaman.
Geraka pedang yang di peragakan Shin Shui benar-benar cepat hingga tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Dewi Laba-laba terus terpojok, hingga pada akhirnya …
"KRAKK …" patah ….
__ADS_1
Pedang yang dia gunakan dipatahkan menjadi dua bagian oleh Shin Shui. Seolah tak membiarkan musuhnya tenang, Shin Shui terus-menerus melakukan serangan beruntun.
"Rasakan ini nenek jelek."
"Tebasan Halilintar."
"WUSHH …"
"Ahhh …" mati.
Dewi Laba-laba tewas dengan kepala terpisah dari badannya. Merasa sangat kesal atas apa yang dibuat oleh wanita itu, Shin Shui kemudian menusukkan kembali pedangnya tepat di jantung Dewi Laba-laba.
Dewi Laba-laba tewas dengan kondisi mengenaskan, kepalanya terpisah, jantungnya pecah, dan tubuhnya gosong. Shin Shui yang masih dibalut oleh kilatan halilintar segera mengembalikan tubuhnya seperti semula. Akan berbahaya juga jika terlalu lama menggunakan jurus ini, pikirnya.
Shin Shui langsung menuju sebuah pohon besar. Dia duduk disana untuk sekedar mengisi tenaga dalam dan mengobati tubuhnya yang terluka.
Shin Shui langsung mengeluarkan beberapa sumber daya dari cincin ruang miliknya dan dua buah Pil Bulan Purnama.
Pil Bulan Purnama adalah sebuah pil penghilang racun tingkat tinggi. Pil ini sangat jarang ditemui saat ini, karena mengingat barang-barang yang diberikan oleh gurunya Lao Yi, adalah barang-barang yang berasal pada masa kejayaan gurunya.
__ADS_1
Shin Shui lalu duduk bersila untuk menyerap khasiat dari pil Bulan Purnama. Pil ini memiliki warna kuning bercampur putih, dinamakan pil Bulan Purnama karena jika ingin membuat pil itu harus tepat saat bulan memancarkan seluruh sinarnya.
Shin Shui sudah selesai menyerap khasiat dari pil Bulan Purnama, butuh waktu sekitar dua jam untuk menyerapnya dengan sempurna. Sekarang luka dan racun ditubuhnya yang diberikan Dewi Laba-laba sudah pulih. Dia segera melanjutkan perjalanannya kembali karena matahari sudah hampir terbenam.