Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
'Tuan Muda Dermawan'


__ADS_3

Langit perlahan menjadi terang dan tenang seperti sedia kala. Secara perlahan tubuh Shin Shui pun kembali normal seperti keadaan semula. Perlahan-lahan sepasang sayap itu pun lenyap entah kemana. Pedang Halilintar yang sedari tadi dia pegang kini sudah dimasukkan kedalam Cincin Ruang kembali.


Tapi Shin Shui belun melangkah, dia sebenarnya masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia sungguh tidak menyangka bahwa kekuatan Kalung Kristal Halilintar dan Zubah Perang Halilintar sedemikian hebatnya.


"Padahal aku baru mengeluarkan delapan puluh persen kekuatan kedua pusaka ini. Tapi kekuatannya sungguh diluar dugaanku," gumamnya sembari memperhatikan tubuhnya barang kali ada yang terluka, tapi ternyata tidak ada luka walau seujung jari pun.


Sebenarnya dia lebih kaget dengan jurus Sayap Halilintar Menutupi Langit tadi, pasalnya iti adalah jurus yang dia ciptakan ketika berlatih di Gunung Siluman.


Tapi karena waktu dulu dia hanya menggunakan dua puluh persen kekuatan Kaling Kristal Halilintar, tentu saja sayap itu tidak sebesar dan sedahsyat seperti apa yang baru saja terjadi.


Pemuda biru itu sangat merasa beruntung bisa memiliki Kalung Kristal Halilintar, karena kalung itu kekuatannya menjadi lebih kuat berpuluh-puluh kalilipat. Bahkan dia tidak pernah kekuatan tenaga sejati seperti waktu dulu. Hanya saja kadang merasa kelelahan. Wajar saja, karena sekuat apapun pemuda biru itu, dia masih tetap manusia yang akan mati.


"Pantas saja dahulu guru bisa menjadi legenda dan semua orang menginginkan kalung ini. Ternyata memang kekuatannya sungguh diluar nalar," ucapnya lirih sembari memegang Kalung Kristal Halilintar.


Tak lama setelah semua keadaan tenang dan kembali normal, Shin Shui langsung berjalan perlahan menghampiri para tetua dan yang lainnya. Pemuda biru itu berjalan santa, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Keadaan sudah normal, tapi sekarang jauh berbeda daripada sebelumnya terjadinya pertarungan dahsyat itu. Banyak lubang-lubang bisa ditanah, batu-batu nampak berserakan, bahkan pohon-pohon disekitar tempat itu pun sebagian dahannya ada yang patah.


"Kekuatanmu sungguh mengerikan kepala tetua. Tidak salah aku menunjukmu sebagai kepala tetua sekte Bukit Halilintar ini," kata Yashou sembari menghampiri Shin Shui.


Pujian pendekar tua itu memang bukan omong kosong, dia bicara memang sesuai fakta. Tapi sayang, dia lupa bahwa kepala tetua sektenya tidak suka dengan puji-pujian.


"Kau terlalu memuji tetua, diatas langit masih ada langit. Pujian itu tidak pantas kau lemparkan kepadaku." jawab Shin Shui dengan senyuman ramahnya.


Yashou tidak menjawab, dia hanya menampakkan senyum yang agak malu-malu. Pendekar tua itu baru menyadari kesalahannya. Dia baru ingat bahwa Shin Shui paling tidak suka jika terlalu dipuji seperti tadi.

__ADS_1


Kesemua itu sudah kembali ke ruangannya. Mereka menganggap bahwa tidak terjadi apa-apa. Kesemua tetua mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Para murid pun ditugaskan untuk berlatih kembali dan membereskan bekas-bekas pertarungan Shin Shui dan enam kepala tetua tadi.


###


Hari menjelang sore, matahari sudah berada di ufuk barat. Sinarnya jingga yang membakar bukit disana terlihat sangat indah. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Burung-burung telah pulang kembali ke sarangnya dan bertemu keluarganya kembali.


Orang-orang di sekte Bukit Halilintar pun demikian, mereka sudah kembali ke ruangannya masing-masing untuk beristirahat. Seperti biasa, yang tersisa hanyalah para tetua. Mereka kini sedang menikmati indahnya matahari terbenam dengan secangkir teh khas dari Bukit Awan.


Meskipun namanya sudah berganti, tapi itu hanyalah nama sekte. Sedangkan nama bukit yang berada tepat dibelakang sekte masih seperti dulu, Bukit Awan.


Mereka mulai membahas obrolan ringan dengan selingan candaan yang mengundang tawa. Tapi ditengah.


"Tetua Hong, bagaimana dengan para murid yang dikirim untuk mengatasi masalah di wilayah terdekat? Tidak ada masalah berarti bukan?" tanya Shin Shui ditengah candaan mereka.


"Baguslah kalau begitu. Pastikan keadaan disekitar sekte kita ini aman tanpa adanya bahaya yang bisa mengancam warga. Jangan biarkan ada orang yang berlaku semena-mena disini," ucap Shin Shui dengan tegas.


"Baik kepala tetua." jawab mereka serempak.


Hari sudah pagi. Semua orang sudah melakukan aktivitasnya masing-masing. Saking betahnya kita hidup didunia, kadang semuanya terasa berlalu dengan sangat cepat. Sehari bagai satu jam rasanya. Begitu pun Shin Shui, tak terasa dia sudah menjadi kepala sekte selama satu bulan.


Satu bulan terakhir ini tidak ada lagi masalah yang berarti. Semuanya aman terkendali, terlebih ditempat-tempat ataupun wilayah-wilayah dibawah kekuasaan sekte Bukit Halilintar.


Desa perbatasan yang dahulunya ramai oleh kejahatan, baik kecil maupun besar, kini sudah benar-benar aman. Sekte Bukit Halilintar sangat disegani oleh warga, terutama kepala tetua sekte itu yang tak lain adalah Shin Shui.


Dia sangat dihormati oleh para warga karena apa yang sudah dilakukan olehnya selama ini. Dia bahkan sempat beberapa kali membantu para warga yang kurang mampu.

__ADS_1


Bahkan sekarang keadaan warga bisa terbilang sejahtera dengan ekonomi yang berkecukupan. Kepala desa setempat pun awalnya kaget dengan apa yang dilakukan oleh Shin Shui, tapi setelah Shin Shui jelaskan akhirnya kepala desa setempat pun memahaminya.


Karena sering membantu mensejahterakan para warga, Shin Shui akhirnya mendapat julukan 'Tuan Muda Dermawan' oleh para warga setempat. Karena dia pula lah sekte Bukit Halilintar naik daun dengan signifikan. Semua sekte lain sudah tahu tentang sekte Bukit Halilintar.


###


Disebuah tempat di hutan …


Terlihat ada lima orang prajurit dengan beberapa orang Pendekar Dewa tahap tiga sedang mengawal dua buah kereta kuda yang mewah. Kuda yang digunakan untuk menarik kereta itu pun sangat gagah perkasa.


Mereka semua kini sedang beristirahat karena merasa kelelahan. Tak lama orang-orang penting dengan pakaian yang mewah pula keluar dari dalam kereta kuda tersebut.


"Kira-kira berapa lama lagi kita akan mencapai ke tempat sekte Bukit Halilintar?" tanya seorang yang gagah dengan pakaian yang paling mewah dari orang-orang lainnya.


"Kira-kira sekitar empat jam lagi kita akan memasuki Desa Perbatasan. Setelah melewati Desa Perbatasan, kita hanya perlu waktu sekitar dua jam untuk sampai kesana," jawab salahseorang pendekar yang mengawalnya itu dengan membukukan badan.


"Baiklah, kita beristirahat saja dahulu disini. Kasihan kuda-kuda ini juga, mereka perlu beristirahat," kata pria gagah tersebut.


Semuanya mengangguk, mereka lalu beristirahat sembari menikmati udara yang asri nan sejuk di hutan itu. Sebagian prajurit mulai mengurusi kuda-kuda, mereka memberinya makan dan minum karena kuda itu terlihat sangat kelelahan.


Setelah beristirahat sekitar satu jam dan kuda pun sudah pulih, rombongan orang-orang itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Sebuah bendera dengan logo Wei dan diikat pada besi sepanjang dua meter pun terbentang, tulisannya sangat indah. Seperti terbuat dari sulaman kain sutera pilihan.


###


Terimakasih yang sudah setia mengikuti novel ini ya, author tidak terlalu memperhatikan masalah vote. Terserah para pembaca saja, asalkan kalian semua terhibur dan bisa mengambil sesuatu yang positif didalamnya☕

__ADS_1


__ADS_2