Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Apakah Dia Bukan Manusia?


__ADS_3

Dan benar saja dugaan pemuda biru itu. Ketiga pendekar tadi memang berniat untuk mengeluarkan jurus andalan mereka yang mampu mengguncang langit dan bumi.


Angin berderu kencang di area itu, hawa kematian mulai menyelimuti. Langit yang tenang menjadi bergemuruh seperti jeritah roh penasaran.


Ketiga pendekar itu sekarang sudah siap untuk melancarkan jurus-jurus terkuatnya masing-masing. Sementara itu, Shin Shui masih bisa berdiam diri dengan tenangnya.


Diam-diam Pendekar Halilintar itu mengaktifkan kekuatan Zubah Perang Halilintar. Bukan itu saja, karena menyadari serangan ini pastilah sangat kuat karena mengingat ketiganya merupakan Pendekar Dewa tahap lima, dia pun mengaktifkan kekuatan Kalung Kristal Halilintar.


Kalung Kristal Halilintar itu nampak bersinar mengeluarkan cahaya biru dengan terangnya. Langit yang tadinya hanya mengeluarkan gemuruh roh penasaran, kini bertambah mencekam ketika gemuruh halilintar mulai terdengar tiada henti.


Orang-orang yang ada disekitar area itu mengambil langkah untuk menjauh. Bahkan sebagian pertarungan dihentikan karena mereka merasakan tekanan yang besar dari keempat pendekar tersebut.


Semuanya tertegun tanpa menimbulkan suara. Suasana menjadi tegang, maklum, jika ketiga pendekar itu menggabungkan kekuatan andalannya, maka bukan tidak mungkin seorang Pendekar Dewa tahap tujuh pun bisa terluka parah atau bahkan tewas. Dan tiba-tiba saja …


"Iblis Mengguncang Bumi …"


"Bintang Mengancurkan Semesta …"


"Raungan Roh Penasaran …"


"WUSHH …"


"DUARR …"


"ROARRR … ARGHH …"


Suara-suara teriakan mengerikan roh penasaran dan sinar-sinar terang sekaligus suara ledakan serta hawa kegelapan terasa begitu menakutkan.


Tiga jurus andalan dari tiga orang pendekar itu melesat bagai kilat menyerang Shin Shui yang kini masih terdiam tanpa melakukan perlawanan.


Hanya beberapa tarikan nafas saja ketiga jurus dahsyat itu sudah tiba dan segera menghantam Shin Shui secara bersamaan sehingga menimbulkan suara ledakan yang teramat keras.

__ADS_1


"DUARR …"


Tak dapat dielakkan lagi, tubuh Shin Shui disambar tiga buah cahaya yang berasal dari jurus ketiga pendekar tadi. Ledakan cahaya pun terlihat sehingga membuat suasana yang tadinya gelap gulita menjadi terang beberapa saat saja.


Tegang. Hanya itu yang bisa menggambarkan suasana saat ini. Lubang berdiameter sepuluh meter dengan kedalam yang cukup dalam pun tercipta. Setelah beberapa saat tidak ada pergerakan dari Shin Shui, betapa senangnya pendekar yang berada di pihak walikota Zhao Ping.


Ini yang mereka inginkan. Yang mereka harapkan akhirnya terjadi, yaitu tewasnya pemuda asing di pihak musuh yang bagi mereka adalah malaikat pencabut nyawa.


"Hahaha … akhirnya pemuda itu tewas ditangan kita. Sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita … hahaha," pendekar yang gemuk tertawa dengan lantangnya dan mengira Shin Shui sudah tewas oleh mereka.


"Hahahah … kau benar kawan. Sekarang sudah tidak akan ada lagi yang menghalangi kita untuk menghancurkan keluarga Chen ini," timpal pria kurus diiringi tawa pula.


"Sudah jangan berlama-lama lagi. Ayo cepat kita habisi saja mereka sebelum para warga tahu akan keributan ini," kata pendekar yang memakai senjata berbentuk bintang.


Sementara itu, keluarga bangsawan Chen yang percaya bahwa Shin Shui telah tewas tentu saja sangat merasa gusar. Sejauh ini pemuda itulah yang berkontribusi paling besar, lalu kalau dia tewas? Entahlah.


Karena pertarungan lain berhenti dan belum dilanjut, jadi saat ini pasukan walikota Zhao Ping hanyalah tersisa sembilan orang saja termasuk dia sendiri. Tapi meskipun begitu, merekalah yang paling kuat diantara yang lainnya.


Para pendekar keluargan bangsawan Zhao mulai bersiap-siap untuk melanjutkan pertarungan yang terhenti. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


Tapi sebelum mereka bertindak lebih jauh lagi, tiba-tiba langit bergemuruh kembali. Tapi kali ini bukan gemuruh roh penasaran, melainkan gemuruh halilintar bahkan lebih besar dan mengerikan daripada sebelumnya.


Tiba-tiba saja tanah terasa bergetar. Bahkan lubang akibat tiga jurus andalan pendekar tadi mendadak mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan mata mereka. Semuanya memperhatikan ke lubang tersebut saat ini.


Tak lama, munculah seorang pemuda serba biru yang tadi sudah mereka duga bahwa dia tewas. Munculnya Shin Shui pastinya membuat orang-orang disana terkejut, tapi lebih terkejut lagi saat melihat seluruh tubuhnya dipenuhi halilintar. Bahkan dibelakangnya muncul pula sepasang sayap halilintar.


"Hemmm … apa kau pikir bisa membunuhku dengan begitu mudahnya? Hahaha … bahkan serangan jurus andalan kalian tidak bisa memberikan luka padaku … hahaha … terlalu lemah," kata Shin Shui mengejek para pendekar walikota Zhao Ping.


Tidak ada yang tidak kaget. Semuanya kaget melihat ini, bahkan kaki mereka mendadak lemas tak berdaya. Sebagian pendekar itu wajahnya mulai pucat pasi.


"Ba-bagaimana mungkin dia bisa bertahan meski diserang tiga jurus andalan sekaligus. Apakah dia bukan manusia?" gumam pendekar kurus dengan raut wajah pucat.

__ADS_1


Ketika ditengah kepanikan tersebut, tiba-tiba saja Shin Shui sudah bersiap-siap untuk membalas serangan yang tadi sudah mereka berikan. Pemuda itu sudah berada dalam posisi kuda-kuda.


"Pusaran Badai Halilintar …"


"DUARR … DUARR … DUARR …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba halilintar menyambar halaman keluarga bangsawan Chen itu dengan ganasnya. Tapi tak lama, muncul sebuah pusaran halilintar yang nampak membuat mereka semua ketakutan.


Gemuruh halilintar dilangit belum berhenti, yang ada malah semakin menjadi dan semakin mengerikan.


"WUSHH …"


Tiga buah pusaran badai halilintar tadi melesat ke arah keluarga bangsawan Zhao. Kecepatannya sangat cepat sekali, bahkan pohon-pohon sebagian ada yang tumbang ataupun tercabut dari akarnya lalu bersatu dalam pusaran badai halilintar itu.


Tak dapat dielakkan lagi, satu-persatu pendekar keluarga bangsawan Zhao mulai tewas dan tergulung oleh badai halilintar milik Shin Shui. Jeritan-jeritan kesakitan para pendekar itu mulai terdengar.


"Ahhh …"


"Ahhh …"


Setelah beberapa tarikan nafas kemudian, pusaran badai halilintar itu perlahan mulai mengecil lalu menghilang. Kini yang tersisa hanyalah walikota Zhao Ping dan juga seorang pendekar yang memakai senjata tombak.


Keduanya terlihat begitu panik dan ketakutan, tapi mereka pun bingung mau melakukan apa. Melawan mati, lari pun tewas. Tak ada cara lain, lebih baik pura-pura melawan semampunya dulu, lalu kalau ada kesempatan dia akan melarikan diri. Biarkanlah walikota itu menjadi korbannya karena memang dialah dalang dari semua ini, pikirnya.


"Tuan Zhao, mari kita serang pemuda itu bersama-sama. Tidak cara lain lagi kecuali melawan dengan jurus andalan yang kita miliki juga," kata pendekar itu kepada walikota Zhao.


Walikota itu hanya mengangguk tanda setuju. Dia mulai bersiap untuk mengeluarkan jurus andalannya. Tapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba saja secara mengejutkan pendekar yang bersamanya melarikan diri. Meloncat benteng lalu menghilang dibawah gelapnya malam.


Tentu saja walikota Zhao Ping kaget sekaligus amat marah. Bahkan dia tidak jadi mengeluarkan jurus andalannya, sekarang dia semakin bingung. Tapi sebelum kebingungannya itu berlanjut, tiba-tiba sebuah cahaya biru melesat amat cepat kearahnya sehingga …

__ADS_1


"Ahhh …" mati.


__ADS_2