Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Phoenix Biru


__ADS_3

Kini Shin Shui sedang melesat dengan cepat menuju goa dimana ada sebuah zirah perang yang mohon merupakan salahsatu pusaka legenda terkuat. Benar, Zirah Perang Halilintar.


Tak perlu lama, hanya beberapa menit saja Shin Shui sudah tiba didepan tempat yang dimaksud. Tapi pemuda biru itu kini bingung, karena dia tidak melihat apa-apa disana, goa yang dimaksud tidak ada. Goanya mana?


Yang ada hanyalah sebuah tumpukkan batu yang sudah menggunung dan dikelilingi pohon yang menjulang tinggi. Menurut Shin Shui, tempat tersebut bahkan lebih menyeramkan daripada tempat lain yang ada di hutan Gunung Siluman.


Pendekar Halilintar itu masih mengamati tumpukkan batu yang kini berada didepannya. Mulai dari atas sampai bawah dia perhatikan. Shin Shui mulai ragu, pasalnya karena ciri-ciri yang disebutkan oleh Cun Fei sama sekali tidak ada kemiripan dengan yang dia lihat kini. Yang mirip hanyalah tumpukkan batu saja.


Tapi pemuda biru itu melawan keraguan yang muncul dibenaknya. Perlahan dia mundur ke belakang untuk mengambil jarak. Dia mulai mengambil kuda-kuda dan berniat untuk memukul tumpukkan batu tersebut.


"Pukulan Halilintar …"


"DUARR …"


Tumpukan batu itu hancur berkeping-keping, pohon-pohon dan rumput yang tumbuh didekatnya beterbangan terbawa deru angin Pukulan Halilintar. Padahal pemuda itu hanya mengeluarkan kurang dari setengah tenaga dalamnya saja. Tapi efek yang dihasilkan ternyata cukup besar, dia sendiri sedikit kaget.


Debu-debu dari tumpukkan batu, pohon dan rumput mulai lenyap secara perlahan. Tak lama, sebuah pintu masuk yang berupa batu besar dan sudah berlumut terlihat didepan Shin Shui.


"Akhirnya aku bisa menemukan goa yang dimaksud senior." gumam Shin Shui.


Tanpa menunggu lama, dia memukul kembali batu besar yang menjadi pintu masuk goa, tapi kali ini hanya menggunakan tenaga fisik. Tidak lagi tenaga dalam, dia belum terbiasa dengan kekuatannya yang sekarang.

__ADS_1


Setelah berhasil menghancurkan batu besar tadi, Shin Shui mulai memasuki goa secara perlahan. Selangkah demi selangkah, Shin Shui berjalan sangat hati-hati. Pemuda biru itu selalu memasang sikap waspada, hal ini dilakukan karena dirinya belum memahami secara pasti goa tersebut.


Setelah sekitar seratus meter berjalan memasuki goa, murid dari sang legenda itu dikejutkan dengan pemandangan yang kini ada didepannya. Didepan sana terlihat ada sebuah zirah perang berwarna biru menyala.


"Tidak salah lagi, itu pasti pusaka yang aku cari." gumam pemuda biru itu.


Dengan segera dia melesat dan berniat untuk langsung mengambil zirah tersebut. Tapi ketika tangannya hendak mengambil zirah berwarna biru itu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sesuatu.


Goa itu mendadak bergetar, tentu saja dia kaget. Shin Shui mundur beberapa langkah, pemuda biru itu langsung bersiap siaga dan mengambil sikap kuda-kuda.


Tiba-tiba dari bawah tempat zubah biru tadi, keluar seekor burung phoenix yang mengeluarkan kilatan halilintar. Ukurannya setara dengan seekor elang dewasa, tapi tekanan yang dia berikan hampir setara dengan kekuatan Shin Shui saat ini.


Tiba-tiba burung phoenix tadi langsung melesat menyerang Shin Shui. Gerakannya sangat cepat, bahkan Shin Shui tidak melihatnya dengan jelas.


"Ughhh …" Shin Shui memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


Dia kemudian bangkit berdiri dan langsung mengambil sikap waspada. Sedangkan burung phoenix tadi kini masih terbang didepan Shin Shui, setiap kepakan sayapnya menimbulkan deru angin yang membawa hawa kematian.


Penampilan seluruh burung itu berwarna biru, sampai-sampai matanya pun biru. Diujung kedua sayapnya selalu keluar kilatan halilintar. Berukuran kecil, tapi sangat mematikan.


"Tidak salah lagi. Dia pasti siluman legenda yang disebutkan oleh senior Cun Fei," ucap Shin Shui sembari terus menatap tajam burung phoenix.

__ADS_1


"Siapa kau anak muda? Berani-beraninya kau berniat untuk mengambil Zirah Perang Halilintar milik Kaisar Petir," kata Phoenix biru itu.


'Ternyata dia bisa bicara.' batin Shin Shui.


"Perkenalkan, aku Shin Shui sang Pendekar Halilintar. Murid dari guru Lao Yi sang legenda Pendekar Guntur," kata Shin Shui memperkenalkan diri.


"Jangan banyak membual. Yi'er tidak memiliki murid. Cepat katakan siapa kau sebenarnya?" phoenix itu membentak Shin Shui.


Hawa pembunuh yang sangat pekat mulai keluar dari tubuh phoenix, dia berniat untuk membunuh Shin Shui. Tapi tiba-tiba, Cun Fei keluar dengan sendirinya dalam wujud seorang manusia.


"Dia memang murid senior Lao Yi," kata Cun Fei.


"Kau … kau Cun Fei?" phoenix itu terkejut ketika melihat siapa yang bicara.


"Benar kaisar. Ini aku, Cun Fei."


"Apa benar pemuda ini adalah muridnya Yi'er?" tanya sang phoenix.


"Benar kaisar. Aku tidak berbohong," ucap Cun Fei.


Shin Shui tidak ikut bicara, bahkan pemuda biru itu tidak mengerti dengan apa yang kini terjadi didepan matanya. Kenapa mereka bisa saling mengenal? Bukankah Cun Fei bilang bahwa yang menunggu zirah itu adalah seekor siluman peliharaan legenda terkuat zaman dahulu?

__ADS_1


"Shui'er, berilah hormat kepada maha gurumu. Dialah yang sering kau sebut sang Kaisar Petir itu, beliau adalah guru dari gurumu, senior Lao Yi," tutur Cun Fei menyruh Shin Shui untuk memberi hormat.


Tanpa menunggu lama, dia langsung memberi hormat dan bersujud tiga kali kepada sang phoenix. Sebenarnya Shin Shui sendiri belum mengerti dengan semua ini, tapi pemuda biru itu tidak membantah perintah Cun Fei.


__ADS_2