
Malam telah tiba. Suara binatang malam mulai terdengar samar-samar. Sinar rembulan bersinar hanya separuhnya saja.
Disebuah gubuk pinggiran hutan, tiga ekor siluman masih saja menunggu tuannya yang sedang terluka parah.
Meskipun sudah menunggu hingga malam hari, tapi tetap saja Shin Shui tidak ada perbedaan sama sekali. Tidak ada gerakan. Tidak ada nafas. Bahkan tubuh Shin Shui perlahan dingin.
Phoenix biru dan dua siluman kera bersaudara mulai meratap pilu. Ketiga siluman itu menangis perlahan. Meskipun tidak terlihat jelas ada air mata yang keluar, tapi dari suara mereka bisa diketahui bahwa ketiganya sedang menangis pilu.
"Tuan muda, jangan pergi dulu. Kami belum sempat membalaskan budi baikmu," kata Ong san dengan nada terisak.
"Shui'er, betapa kecewanya leluhur kita jika jagoannya tidak bisa melawan rasa sakit seperti ini," ucap phoenix biru lirih.
"Tuan muda, aku yakin kau bisa mendengar kami. Buka matamu tuan muda, kami disini merindukan canda tawamu," kata San ong tak kalah pilunya.
Tidak ada jawaban. Shin Shui masih saja diam tak bergerak. Suara binatang malam yang tadi terdengar pun tiba-tiba saja hilang dari pendengaran.
Keadaan seperti ini membuat kesan lebih mencekam lagi. Ketiga siluman mulai putus asa. Mereka bertiga berniat untuk keluar kamar. Tapi sebelum ketiganya keluar, tiba-tiba sebuah suara menghentikan mereka.
"Jangan tinggalkan aku. Aku belum mati," suara itu lemah. Tapi bisa terdengar jelas oleh telinga tiga siluman tersebut.
Sontak saja ketiganya membalikkan badan kembali. Wajah mereka yang tadinya pucat dan muram, tiba-tiba kini tersenyum dan mendadak cerah kembali.
"Sh-shui'er …"
"Tu-tuan muda …"
"Tuan muda …"
Ketiga siluman itu membuka suara secara bersamaan lalu menghampiri Shin Shui. Mereka merangkul pemuda biru itu secara bersamaan pula.
"Kenapa kalian menangis?" tanya Shin Shui lirih sambil sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana kami tidak menangis, kau begitu mencemaskan kami. Bahkan dari tadi siang, nafasmu hilang dan detak jantungmu berhenti," kata phoenix biru.
"Hahhh … entahlah. Aku pun tak tahu apa yang sudah terjadi. Yang jelas aku sempat merasakan rasa sakit yang teramat sangat bersama rasa panas seperti dibakar. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi," kata Shin Shui menjelaskan apa yang sudah dialaminya.
"Sudahlah. Yang jelas kami sangat bersyukur melihat kau bisa sadar kembali," ucap phoenix biru yang disetujui dengan anggukan oleh dua siluman kera bersaudara.
"Terimakasih atas semua kebaikan kalian. Jika tidak keberatan, tinggalkan aku sendiri dulu. Aku ingin bersemedi untuk melihat kondisiku," ucap Shin Shui yang berusaha untuk duduk.
"Baiklah, kami akan menunggumu diluar Shui'er," kata phoenix biru.
Ketiga hewan peliharaan itu lalu keluar dari kamar dan menunggu diruang tengah.
Setelah dirinya benar-benar sendiri, Shin Shui lali bersemedi untuk melihat bagaimana kondisi tubuhnya saat ini. Pemuda biru itu lalu memejamkan matanya sambil bersila dan menaruh dua tangannya diatas paha.
Pemuda biru itu mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Kemudian dia mulai memeriksa semua tubuhnya.
Setelah beberapa saat bersemdi, Shin Shui mulai membuka matanya perlahan. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri. Wajahnya menggambarkan kebahagiaan. Wajah yang tadinya sudah pucat pasi seperti mayat, kini mendadak berseri.
Bulan yang tadi tertutup awan, mendadak memancarkan cahayanya kembali. Angin yang lenyap, perlahan kembali terasa menerpa tubuh dengan lembut. Suara binatang yang tadi hilang, mendadak ramai terdengar lagi.
"Bagaimana keadaanmu Shui'er?" tanya phoenix biru ketika melihat Shin Shui keluar dari kamarnya.
Tanpa menjawab, pemuda biru itu lalu merangkul ketiga hewan peliharaannya secara bergantian. Setelah selesai, barulah dia bercerita apa yang dialaminya.
"Phoenix biru, San ong, Ong san, dengarkan baik-baik. Semua luka dalamku sudah pulih total. Bahkan pusat inti tenaga dalam dan pusat inti tenaga sejatiku sudah pulih sempurna. Dan … dan kekuatanku kembali lagi, bahkan lebih murni daripada sebelumnya," kata Shin Shui menceritakan semuanya.
Wajahnya benar-benar berseri. Menambah kesan ketampanan pemuda biru itu. Mendengar penuturan Shin Shui, ketiga siluman itu pun girang bukan main.
Cukup lama keempatnya merayakan momen ini. Kini mereka sudah duduk kembali, Shin Shui mengeluarkan dua guci arak dari Cincin Ruang dan beberapa makanan untuk mereka semua.
"Shui'er, kapan kau berencana untuk kembali ke istana?" tanya phoenix biru.
__ADS_1
"Besok pagi. Yah benar, besok pagi kita harus segera kembali. Rasanya sudah terlalu lama kita meninggalkan istana kekaisaran, belum lagi diperjalanan jika ada halangan. Aku yakin, masih ada sisa musuh lagi di istana kekaisaran," jawab Shin Shui.
Mendengar bahwa ada musuh yang tersisa, tentu ketiga hewan peliharaannya sedikit kaget. Karena sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa Pangeran Iblis masih hidup.
Sebenarnya Shin Shui juga merasa tidak yakin jika Pangeran Iblis akan datang membalas dendam. Tapi gurunya, Lao Yi, pernah mengingatkan Shin Shui.
Bahwa mereka para pendekar aliran hitam selalu punya cara untuk memulihkan keadaannya dengan cara diluar nalar manusia biasa. Bahkan mereka bisa meningkatkan kekuatannya secara mengerikan.
Karena alasan itulah, Shin Shui yakin bahwa Pangeran Iblis akan datang mengacau kembali untuk menuntut balas akan kematian ayah ibunya. Terutama membalas dendam kepada Shin Shui.
"Siapa yang kau maksudkan itu?" tanya phoenix biru sangat penasaran.
"Pangeran Iblis. Anak dari Raja Iblis Merah dan Dewi Pedang Kembar," jawab Shin Shui singkat.
"Tunggu, bukankah dia sudah terluka sangat parah olehmu Shui'er? Bahkan kekuatannya tidak bisa kembali normal,"
"Benar. Tapi seperti yang kita ketahui, para pendekar aliran hitam punya seribu satu cara untuk membalaskan dendamnya," kata Shin Shui.
"Hemmm … kau benar. Masuk diakal, baiklah, kita berangkat besok pagi." tutur phoenix biru.
Keempatnya lalu mengalihkan pembicaraan kepada hal lain. Mereka berbincang ringan hingga pagi tiba.
Setelah pagi, mereka semua lalu bersiap-siap lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan kembali untuk pulang ke istana kekaisaran.
Setelah semuanya siap, Shin Shui memasukan kembali San ong dan Ong san ke Kantong Siluman seperti biasanya. Sedangkan phoenix biru disuruh untuk menemani perjalanannya.
"Phoenix biru, mari kita melanjutkan perjalanan lagi," ajak Shin Shui.
"Mari Shui'er."
Tanpa menunggu lama, keduanya lalu pergi dari gubuk tua itu. Shin Shui berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Benar saja, kekuatannya sudah pulih normal.
__ADS_1
Bahkan ilmu meringankan tubuhnya benar-benar sudah kembali seperti sedia kala. Shin Shui menjadi lebih yakin ketika membuktikannya, sehingga baru beberapa saat saja, Shin Shui dan phoenix biru sudah jauh dari tempatnya tadi.
"Kita cari restoran untuk sekedar sarapan pagi dulu," ujar Shin Shui disela-sela perjalanannya.