
Setelah kesadarannya telah kembali, Shin Shui merasa tubuhnya sangat lemas karena terlalu banyak menggunakan tenaga dalamnya. Luka-luka ditubuhnya mulai terasa perih.
Melihat hal itu, seorang sesepuh kota Matahari Terbenam langsung menghampiri Shin Shui. Sesepuh itu terlihat sudah sangat tua, umurnya terlihat seperti 70 tahun. Padahal aslinya sudah mencapai kurang lebih 160 tahun.
"Biarkan orang tua ini membantumu anak muda, aku akan mengobati lukamu. Mari ikut denganku," kata orang tua itu sembari merangkulkan tangan Shin Shui ke pundaknya.
"Terimakasih senior. Maaf aku merepotkanmu." jawab Shin Shui.
Mereka berdua lalu berjalan perlahan menuju kediaman rumah oranh tua yang menolong Shin Shui. Sebelumnya, orang-orang disana nampak cemas saat melihat Shin Shui lemas dan wajahnya pucat.
Tapi berkat orang tua itu, warga berhasil tenang meskipun masih ada sedikit rasa cemas di benak mereka. Saat ini Shin Shui sudah tiba di depan sebuah gubuk kecil, lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat dia bertarung tadi.
"Selamat datang di gubuk kecilku pendekar muda." kata orang tua itu sembari memasuki kediamannya. Rumahnya kecil, bahkan lebih tepatnya itu adalah sebuah gubuk. Hanya saja didalamnya tercium aroma obat-obatan yang cukup menyengat.
__ADS_1
Shin Shui lalu duduk kan disebuah ranjang, orang tua itu lekas mengambil obat-obatan untuk mengobati luka sayatan yang ada pada tubuh Shin Shui, tak lupa juga dia mengambil dua buah pil berwarna hijau.
Setelah selesai mengobati luka sayatan Shin Shui, dia lalu menyuruh pemuda itu untuk menelan dua buah pil berwarna hijau tadi.
"Ini namanya pil Embun Hijau, berguna untuk mengembalikan tenaga dalam. Walaupun bukan salah satu pil tingkat tinggi, tapi dua buah pil ini aku rasa cukup untuk mengembalikan tenaga dalammu saat ini." kata orang tua itu.
"Terimakasih senior. Maaf, kalau boleh tahu, bagaimana aku memanggil senior?" tanya Shin Shui. Sekarang dia sedang dalam keadaan duduk bersila untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa mulai kaku.
"Terimakasih senior Chang telah menolongku. Perkenalkan namaku Shin Shui." jawab Shin Shui sembari memberi hormat.
"Tidak perlu sungkan. Sebenarnya kenapa denganmu sehingga bisa bertarung dengan orang-orang walikot Huan Xi?" tanya Chang Lee penasaran.
"Aku paling tidak suka melihat orang yang bertingkah seenaknya. Apalagi dengan memanfaatkan sebuah jabatan, bukannya memberikan contoh yang baik kepada rakyat, ini malah sebaliknya," jawab Shin Shui. Nada bicaranya jelas menunjukkan bahwa dia masih kesal dengan walikota Huan Xi sekaligus putranya, Huan Zi.
__ADS_1
"Senior, apakah kehidupan rakyat di kota Matahari Terbenam semuanya sejahtera?" tanya Shin Shui.
"Kalau daerah-daerah ramai kelihatannya iya. Tapi sebenarnya mereka dibebani pajak yang besar oleh walikota itu. Sedangkan yang hidup di pinggiran, mereka jauh dari kata sejahtera. Salah satunya adalah Desa Miskin." jelas Chang Lee panjang lebar kepada Shin Shui.
"Desa Miskin? Shin Shui terkejut mendengarnya.
"Ya benar … Desa Miskin adalah sebuah desa pinggiran, orang-orang disana hidup serba kekurangan. Tapi walau begitu, tidak ada uluran tangan dari walikota. Bahkan dia masih tetap menarik pajak dari desa itu, jika warga desa tidak menyetor pajak maka anak gadis disana akan diambil sebagai gantinya," kata Chang Lee memberitahu Shin Shui.
Mendengar penjelasan Chang Lee membuat dada Shin Shui terbakar amarah, dia mengeratkan giginya. Pemuda itu paling tidak suka dengan yang namanya penindasan.
"Besok pagi aku ingin kesana untuk melihat keadaan desa itu senior. Mohon senior bersedia untuk menemaniku, sekarang aku pamit undur diri." kata Shin Shui berniat untuk pulang ke penginapan.
Chang Lee menyetujui hal itu, besok pagi mereka akan mengunjungi Desa Miskin. Awalnya Chang Lee menawarkan Shin Shui untuk menginap di kediamannya, tapi setelah mengingat kondisi gubuknya, Chang Lee membatalkan niatnya tersebut.
__ADS_1