Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Keinginan Shin Shui


__ADS_3

Shin Shui terus membalas serangan-serangan lawan yang datang dari empat arah secara bersamaan ini. Pukulan-pukulannya tak kalah hebat tentunya. Tapi pemuda biru itu tidak berniat untuk membunuhnya.


Dia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran saja supaya mereka jera dan segera kembali ke jalan yang benar. Shin Shui mulai mengeluarkan Jurus Dewa Mabuk.


Sehingga membuat keempat tetua itu sangat terkejut dan juga hatinya mulai gentar. Tentu saja mereka mengetahui jurus apa yang dikeluarkan pemuda biru itu.


Akan tetapi karena sudah dikuasai oleh nafsu, keempat petinggi sekte Awan Biru itu tidak mau mengalah. Mereka pun mulai mengeluarkan jurus-jurus mereka.


Dengan santai dan begitu tenang Shin Shui melayani keempatnya. Tangannya mulai ditekuk layaknya paruh burung, gerakannya mulai terhuyung-huyung layaknya orang mabuk, sesuai dengan namanya.


Keempat tetua itu menyerang bagian atas, bawah, samping kanan dan samping kiri. Tapi dengan mudah Shin Shui meloloskan diri dari kurungan serangan tersebut.


Pemuda biru itu menjatuhkan dirinya dilantai lalu menotok kaki-kaki keempat petinggi itu sehingga kakinya terasa lumpuh beberapa saat.


Setelah itu, Shin Shui lalu berdiri kembali dan dengan gerakan sempoyongan dia mulai mendesak mereka. Hanya beberapa gebrakan saja keempat tetua itu sudah merasa terdesak.


Mereka sangat sulit untuk menebak kemana pemuda itu akan menyerang, hal ini terjadi karena Shin Shui bergerak tidak beraturan.


Hingga pada akhirnya, pemuda biru itu mundur beberapa langkah dan mengganti lagi gerakannya menjadi lebih bringas dan lincah.


Dia menggunakan gerakan dasar Kitab Halilintar yang jarang dikeluarkan, tepat hampir seratus jurus, Shin Shui dapat memukul keempatnya hingga terpental ke belakang.


"Langkah Kilat … Totokan Halilintar …"


"WUSHH …"


"Ahhh …"

__ADS_1


Entah bagaimana caranya sehingga tiba-tiba saja pemuda biru sudah berada didepan keempat petinggi itu lalu memberikan hadiah berupa beberapa totokan yang mematikan.


Hanya dengan beberapa tarikan nafas saja, mereka lalu pingsan dengan tubuh terasa lemas dan lumpuh.


Shin Shui sengaja tidak membunuhnya, tapi pemuda itu hanya membuat sebagian tenaga dalam mereka hilang dan juga membuat separuh kepandaian mereka hilang.


"Maafkan yang muda ini tetua, aku harap tetua bisa membuka mata siapa yang salah dan siapa yang benar. Aku melihat tetua berbeda dengan yang lainnya, jadi tidak berani berlaku kurang aja kepada tetua," kata Shin Shui sambil memberi hormat kepada tetua yang daritadi menonton itu.


"Terimakasih pendekar muda, aku hanya khawatir mereka akan kenapa-napa. Aku tahu siapa yang berada di pihak yang benar, karena itu aku tidak ikut campur," ucap tetua itu sambil tersenyum.


Sementara itu, Liong Ki Lok yang melihat ayahnya dan tetua lain pingsan takut bukan main. Pemuda itu pun diliputi rasa cemas karena takut ayahnya akan tewas.


Tapi apa daya, dia tidak bisa berbuat lebih. Terlebih karena tahu siapa pemuda yang ada dihadapannya sekarang. Hingga tanpa sadar, hatinya perlahan luluh dan dia mulai menyesali perbuatannya selama ini. Tiba-tiba dia menghampiri Shin Shui lalu berlutut kembali seperti sebelumnya.


"Tuan muda, maafkan aku yang sudah berlaku lancang kepadamu. Maafkan aku, aku sungguh menyesal," ucap Liong Ki Lok sambil menangis dan kalo ini bukan bualan belaka.


Melihat kesungguhan pemuda itu, tidak tega juga Shin Shui. Sehingga dia menyuruhnya untuk bangun sambil memegangi pundaknya.


"Terimakasih tuan muda, terimakasih. Aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi. Aku berjanji,"


Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu menyuruh murid-murid untuk menggotong ayahnya dan juga tetua lain yang kini dalam keadaan pingsan.


"Tetua, tenang saja dan tidak usah cemas. Mereka masih hidup, tapi aku membuat sebagian tenaga dalam dan separuh kepandaiannya hilang. Aku sengaja melakukan ini supaya mereka jera. Dan aku harap, tetua bisa berlaku bijak supaya bisa mengarahkan sekte Awan Biru ini menjadi lebih baik dan disenangi masyarakat," kata Shin Shui.


Tentu saja ini lebih baik daripada sampai tewas. Setidaknya keempat petinggi itu masih bisa melatih kembali kekuatannya.


"Terimakasih atas kemurahan hati tuan muda,"

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan. Sekarang aku pamit undur diri," kata Shin Shui berpamitan.


Keduanya lalu pergi meninggalkan sekte Awan Biru dan diantarkan sampai ke gerbang oleh tetua tadi. Para murid yang melihat pertarungan Shin Shui menjadi hormat padanya saat pemuda itu melewati mereka.


Saking cepatnya mereka, tak terasa keduanya sudah berada ditengah hutan yang cukup rimbun. Suasana disana tentulah sepi, hanya ada suara-suara binatang saja.


Dua pendekar muda itu sedang berjalan santai sambil bicara ringan. Tapi sebenarnya tidak dengan Shin Shui, dia terus terpikir tentang ramalan biksu Cian Lie Bun.


Dimana menurut ramalan biksu itu era kekacauan sebentar lagi akan terjadi, setelah mendengar ramalan itulah sebenarnya Shin Shui selalu tidak tenang. Dia ingin segera dengan cepat bertambah kuat.


Ketika sedang asyiknya bercerita sambil tertawa, tiba-tiba Shin Shui menghentikan langkahnya lalu diikuti dengan Yun Mei. Gadis itu memandang Shin Shui heran karena melihat kecemasan diwajahnya.


"Shushi, ada apakah? Apa yang sedang kau pikirkan, ceritakan padaku," kata Yun Mei menyuruh Shin Shui untuk bercerita.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Shin Shui mulai bercerita bahwa dia memang sedang memikirkan sesuatu, lebih tepatnya tentang bagaimana nasib tanah air tempat kelahirannya jika sampai jatuh ke tangan yang salah.


Sebagai seorang pendekar yang mendapat tugas dan juga mewarisi kitab-kitab tanpa tanding, tentu saja ini menjadi beban besar dirinya.


Apalagi mengingat bahwa menurut ramalan Kaisar Naga Merah dan juga ramalan biksu Cian Lie Bun, hanya dirinyalah yang bisa menyelamatkan dan menghentikan era kekacauan ini.


"Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan Shushi?"


"Aku bingung harus bicara bagaimana padamu Memei," keluh Shin Shui.


"Jangan kau berpikir seperti itu. Katakan saja, aku siap mendengarkan semua ucapanmu," ucapnya sambil tersenyum manis.


"Memei, sebenarnya aku ingin mempelajari Kitab Bayangan secepatnya, karena mengingat bukanlah hal mudah untuk mempelajari sebuah ilmu, apalagi ilmu tersebut sangat hebat. Aku juga ingin mencari tahu keberadaan dimana Kitab Tapak Penghancur, tapi aku bingung bagaimana dengan dirimu."

__ADS_1


"Memei, kalau kau kembali saja ke sekte Bukit Halilintar bersama senior Cun Fei, apakah kau bersedia? Aku bukan tidak mau kau mengikutiku, tapi aku justru khawatir denganmu. Disaat aku berlatih nanti, kau mau bagaimana? Tidak baik juga wanita baik-baik sepertimu harus tinggal dihutan belantara atau di gunung-gunung dan hidup sengsara," ucap Shin Shui dengan hati-hati karena takut Yun Mei menerima ucapannya dengan salah faham.


Gadis itu tidak langsung menjawab, dia terus memandang Shin Shui. Hingga akhirnya dia menangis lalu Shin Shui dengan cepat memeluknya.


__ADS_2