Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Hu-hutan kematian? Sejak kapan aku berada disini guru?" tanya Shin Shui kaget ketika Lao Yi menyebut bahwa mereka di Hutan Kematian.


"Sejak tadi Shui'er. Kau sengaja aku bawa kesini karena aku tidak ingin ada yang mengganggu waktu kita," ucap Lao Yi.


"Ta-tapi guru. Orang-orang pasti akan mencariku,"


"Tenanglah. Mereka sudah tahu, Yashou yang memberitahunya. Duduklah Shui'er," kata Lao Yo sambil membantu Shin Shui duduk.


Shin Shui hanya bisa menuruti gurunya itu, dia lalu berusaha untuk duduk. Meskipun seluruh tubuhnya masih lemas, setidaknya sudah bisa digerakkan. Shin Shui lalu duduk sambil bersandar kepada sebuah batu besar.


Tubuhnya masih terasa sedikit nyeri dan juga ngilu. Tapi darah yang tadi selalu keluar, kini sudah tidak lagi.


"Tegakkan tubuhmu. Biar aku membantu menyalurkan lagi tenaga sejati supaya dirimu menjadi lebih baik lagi," perintah Lao Yi.


Shin Shui lalu melakukan apa yang disuruh oleh gurunya, dia menggeser tempat duduknya sedikit lalu bersila dengan sikap tegap. Setelah itu, Lao Yi duduk di belakangnya dan kembali menyalurkan tenaga sejati.


Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah Lao Yi menghentikannya. Kini Shin Shui merasa tubuhnya menjadi lebih bugar dan sedikit lebih bertenaga.


"Terimakasih guru," kata Shin Shui sambil memberi hormat.


Lao Yi mengangguk sambil tersenyum, lalu dia pergi sebentar mencari buah-buahan pemulih tenaga untuk muridnya itu. Seperti yang sering diceritakan dulu, Hutan Kematian menyimpan sumber daya langka yang sangat berguna untuk para pendekar.


Setelah mendapatkan buah yang dimaksud, Lao Yi segera kembali kepada muridnya lalu menyuruhnya makan.


"Shui'er, bisa kah kau ceritakan pengalamanmu setelah kepergian guru?" tanya Lao Yi yang seperti penasaran.

__ADS_1


"Tentu guru. Aku akan menceritakan garis besarnya kepada guru," kata Shin Shui lalu menceritakan semua pengalaman yang menurutnya penting untuk diberitahu kepada gurunya.


Shin Shui menceritakan semuanya termasuk bagaimana ia didalam dunia persilatan, kekacauan-kekacauan yang selama ini terjadi di seluruh kekaisaran Wei.


Tak lupa juga dia menceritakan bagaimana dirinya bisa menemukan dan mempelajari Kitab Tapak Penghancur dan juga Kitab Bayangan. Lalu dia menceritakan semua sepak terjangnya dan ilmu apa saja yang sudah dia kuasai.


Bahkan Shin Shui juga menceritakan tentang dua buah pusaka yang saling melengkapi, yaitu Zirah Perang Halilintar dan juga Kalung Kristal Halilintar. Hingga akhirnya dia bercerita tentang perang besar yang baru saja terjadi.


Selama muridnya bercerita, Lao Yi tidak bicara sama sekali. Dia hanya memperlihatkan rasa kagum, bangga, bahkan tidak menyangka kepada muridnya itu.


Siapa sangka didalam usia yang masih muda, bahkan Shin Shui secara tidak langsung sudah bisa jauh, bahkan sangat jauh mengungguli dirinya ketika sebelum mencapai tahap Pendekar Keabadian. Baik dalam segi kekuatan maupun dalam segi ketenaran nama.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa selain sangat bangga dan sangat bersyukur bisa menjdi gurumu Shui'er. Tidak ada yang lebih membahagiakan hatiku setelah tidak punya siapa-siapa selain melihatmu berhasil hingga mencapai tahap seperti sekarang ini. Terimakasih Shui'er. Kau sangat membuat guru bangga," kata Lao Yi yang langsung memeluk Shin Shui.


"Guru, semua ini karena guru dan orang-orang yang selalu mendukungku. Aku tidak akan seperti ini jika tidak ada kalian," katanya lirih.


"Shui'er, lalu sekarang dimana Zirah Perang Halilintar dan Kalung Kristal Halilintar itu? Aku ingin melihatnya, tapi aku hanya ingin melihat Zirah Perang Halilintar. Mengingat bahwa zirah itu pernah dipakai oleh guruku juga, Kaisar Petir," kata Lao Yi sedikit bersemangat.


"Ma-maaf guru. Zirah Perang Halilintar dan Kalung Kristal Halilintar hancur ketika aku bertarung melawan Raja Iblis Merah. Kedua pusaka itu hancur ketika kami beradu kekuatan terkahir. Aku sungguh tidak menyangka bahwa dia begitu kuat, jika tanpa kedua pusaka itu, mungkin aku sudah tewas daritadi. Maafkan aku guru," kata Shin Shui merasa sangat menyesal. Dia ingin bersujud, tapi dengan segera Lao Yi menahannya.


"Sudahlah Shui'er. Jangan kau sesali lagi. Aku tidak marah kepadamu. Yang terpenting bagiku hanyalah keselamatanmu. Tidak ada yang lebih menyedihkan kecuali jika aku harus kehilanganmu," kata Lao Yi sambil tersenyum lembut.


"Guru …" kembali Shin Shui memeluk gurunya.


Karena dia tahu, sebelum semua orang berada disisinya seperti saat ini, hanya Lao Yi lah yang selalu menyayanginya dengan segenap jiwa. Bahkan, Shin Shui melakukan semuanya demi Lao Yi dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Shin Shui hanya ingin menunjukkan kepada kedua orang tua dan gurunya bahwa dia bisa menjadi seseorang yang mereka banggakan. Tak terasa pemuda biru itu meneteskan air matanya kembali.


"Sudahlah Shui'er. Guru ingin bicara padamu. Tapi guru harap kau bisa tabah menerimanya," kata Lao Yi yang tiba-tiba wajahnya menjadi lebih serius.


"Maksud guru? Aku tidak faham. Jika guru mau bicara, aku pasti akan siap menerimanya. Apapun itu," kata Shin Shui sambil memperlihatkan kebingungannya kepada Lao Yi.


"Baiklah, guru akan menceritakannya kepadamu … hahhh …" Lao Yi menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya.


"Pusat inti tenaga dalammu hancur, begitupun dengan pusat inti tenaga sejati. Keduanya hancur akibat pertarungan dahsyat dirimu dengan Raja Iblis Merah. Tadi ketika kau masih pingsan, guru mencoba untuk menyembuhkan keduanya semaksimal mungkin. Jika itu bukan dirimu dan bukan guru yang melakukannya, guru yakin hal ini mustahil. Setelah berusaha keras, guru berhasil menyembuhkannya meskipun belum sepenuhnya, tapi …" Lao Yo tiba-tiba menghentikan bicaranya.


"Tapi apa guru?" tanya Shin Shui sedikit cemas.


"Kedua pusat inti itu tidak bisa sepenuhnya pulih total. Sehingga … sehingga kekuatanmu tidak seperti sebelumnya, melainkan kini kekuatanmu hanya setara dengan Pendekar Dewa tahap lima akhir. Guru sudah berusaha sebisa mungkin, tapi hasilnya percuma," kata Lao Yi sambil merasa bersalah.


Tiba-tiba Shin Shui kaget bukan main. Kenyataan ini bagaikan halilintar yang menyambar sebuah pohon. Begitu mendadak dan sangat mengejutkan.


Sungguh tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya jika dia harus menerima kenyataan sepahit ini. Meskipun terbilang lebih baik daripada kehilangan nyawa. Tapi bagi pendekar, semua ini lebih menyakitkan daripada ditusuk seribu pedang.


Bisa naik tingkatan setahap saja sudah membutuhkan perjuangan keras, tentu jika turun satu tingkatan pun akan merasa sakit sekali. Apalagi sekarang ini dia kehilangan dua tingkatan langsung.


"Ta-tapi … apakah tidak ada cara lain untuk memulihkannya guru?" tanya Shin Shui yang wajahnya langsung berubah pucat.


Shin Shui benar-benar tidak menyangka. Jika kekuatannya saat ini seperti apa yang disampaikan Lao Yo, bagaimana dia akan melawan musuh-musuh yang mungkin akan datang lagi?


Apalagi dia menyadari satu hal, bahwa saat perang besar terjadi, dirinya tidak melihat kehadiran Pangeran Iblis. Bisa jadi dia saat ini masih hidup dan berniat untuk membalas dendam bukan? Meskipun dia sudah menghancurkan kekuatannya, bukan tidak mungkin bahwa dia akan pulih kembali dengan cara tidak wajar. Shin Shui benar-benar merasa khawatir saat ini.

__ADS_1


###


Satu lagi dalam proses penulisan ya😁😁


__ADS_2