
Setelah burung phoenix biru berhasil mengalahkan lawannya, kini dia kembali terbang ke angkasa berputar-putar tiga kali lalu turun menukik lagi ke arah para tetua yang sedang diborgol.
Burung phoenix biru terbang bolak-balik untuk menghancurkan rantai yang memborgol para tetua. Dan hasilnya pun sungguh mengejutkan.
Rantai yang sangat kuat karena terbuat dari baja murni itu bisa hancur oleh sayap burung phoenix biru yang kini mengeluarkan kilatan halilintar lebih besar daripada biasanya itu.
Akhirnya para tetua yang tertahan pun bisa bebas. Kesemuanya tidak langsung berdiri, mereka mencoba untuk menghimpun tenaga dalam dan juga mencoba untuk mengobati lukanya sebisa mungkin.
Setelah beberapa saat, yang tercepat mengobati sendiri adalah Yun Mei. Luka dalamnya sedikit pulih, meskipun tidak sepenuhnya tapi itu sudah cukup untuk membuatnya bisa berjalan. Sedangkan luka diperutnya sudah mengering.
Yun Mei segera mengobati tetua yang lainnya dengan kemampuan yang dia bisa. Tak lupa juga dia membawa Yashou ke dalam sekte dengan bantuan para murid untuk ditangani lebih lanjut.
Karena yang paling parah diantara mereka memang Yashou. Saat dibawa ke dalam pun Yashou masih dalam keadaan lemah tak berdaya. Luka dalamnya mungkin memang parah.
Setelah selesai mengobati, Yun Mei segera mengajak semua tetua itu untuk ke tempat yang lebih aman. Mereka tidak ingin terkena imbas bertarung yang dahsyat tersebut. Kesemua tetua memilih untuk berdiri didepan para muridnya yang turut menyaksikan.
Pertarungan San ong dengan tiga tetua berjalan semakin seru. Dimana kera siluman itu secara perlahan terus mendesak ketiga lawannya hingga terpojok. Kekuatan yang dia miliki sekarang sangatlah jauh berbeda ketika pertama kali bertemu Shin Shui.
Bahkan tanah disekitar mereka pun retak-retak akibat pukulan San ong yang terkadang meleset mengenai angin kosong. Bahkan dia sendiri pun heran kenapa kekuatannya bertambah kuat dalam waktu singkat.
Ketiga pendekar yang merupakan bawahan Pangeran Iblis nampak geram sekaligus gemas. Karena selama pertarungan ini ketiganya belum bisa memojokkan San ong. Setiap kali berusaha dipojokkan, maka pasti siluman kera itu bisa membalikkan keadaan.
"Tidak ada cara lain. Jika jurus biasa tidak mempan sama sekali, kita harus mengeluarkan jurus silat tingkat tinggi," usul salahsatu diantara mereka.
"Benar. Mari kita keluarkan jurus kita masing-masing," sahut rekannya.
Ketiga pendekar tersebut mundur ke belakang untuk mengambil jarak. Perlahan asap hitam yang selalu mengepul dari tubuhnya hilang dan digantikan dengan energi yang besar. Sehingga batu disekitar mereka terangkat dan debu mengepul tinggi.
"Pukulan Tangan Seribu …"
"Tubuh Besi …"
__ADS_1
"Rajawali Mengincar Serigala …"
"WUSHH …"
Angin tajam menderu kencang menerpa ketiganya. Perubahan pun mulai terlihat dari pancaran aura yang keluar.
San ong diam sejenak memperhatikan ketiganya. Siluman kera itu menaikkan kewaspadaannya setelah mengetahui bahwa ketiga lawannya mengeluarkan jurus silat tingkat tinggi yang mereka miliki.
Tanpa membuang waktu lagi, ketiga pendekar itu langsung menyerang dari tiga arah. Tapi serangan mereka kali ini lebih kuat.
Satu dari mereka menyerang dengan pukulan yang mendadak terlihat banyak, satu lagi berputar-putar lalu menyerang secara dadakan. Dan satu lagi terus maju karena tubuhnya sudah keras bagaikan baja.
Pertarungan yang lebih hebat pun terjadi lagi, perlahan tapi pasti San ong mulai terdesak. Bagaimana pun dia memaksa memojokkan lawan, maka rekannya bakal datang membantu.
Tak butuh waktu lama, tiba-tiba saja dari belakang sebuah sabetan dari salahseorang pendekar yang kini tangannya tajam bagaikan pisau berhasil melukai punggungnya hingga mengeluarkan darah.
Otomatis siluman kera itu terhuyung-huyung, lalu tak lama datang lagi sebuah pukulan dengan telak menghantam dadanya. Disusul juga dengan tendangan yang begitu kuat bagaikan sebuah besi besar menghantam perutnya.
Akibat kejadian ini, San ong pun marah bukan main. Energi mirip api yang menyelimuti tubuhnya semakin membesar. Dua taring yang lebih panjang tiba-tiba keluar.
"Kalian yang memaksaku untuk melakukan ini manusia rendahan …" kata San ong dengan suara berat.
"Amarah Raja Kera …"
"ROARRR …"
Tiba-tiba angin menerpa tubuhnya lebih kencang. Suaranya bahkan mampu membuat sakit telinga.
Tanpa basa-basi lagi San ong menyerang dan menerjang ketiganya. Ketiga pendekar yang masih tidak menyangka bahwa siluman yang mereka lawan bisa bicara tentu saja kaget.
Hingga salahsatu dari mereka terkena pukulan San ong yang kini sedang marah besar. San ong terus menyerang ketiganya tanpa berhenti sedikitpun.
__ADS_1
Salahsatu dari pendekar yang memiliki tubuh keras bagaikan baja, kini jurusnya tersebut tidak berarti lagi didepan amarah San ong.
Kekuatan siluman kera itu sungguh jadi berlipat ganda. Hanya kurang dari sepuluh jurus, San ong berhasil membalikan keadaan kembali.
Ketiga pendekar terus mencoba menahan hujan pukulan dan tendangan yang datang pada mereka. Tapi setiap kali menahan, maka tubuhnya bergetar dengan hebat.
Semakin lama semakin terpojok, tanoa sadar ketiganya membuat celah bagi lawan, situasi ini tidak disia-siakan oleh San ong. Siluman kera itu mundur sedikit ke belakang sebelum kembali menyerang.
"Gelora Sang Raja Kera …"
"WUSHH …"
Tiba-tiba San ong melesat dengan memutar-mutar tubuhnya hingga lenyap lalu membentuk energi seperti angin puyuh. Setelah dekat, dia memukul ketiga lawan tepat pada dadanya dengan gerakan yang sangat cepat.
"Ahhh … ahhh … ahhh …"
Ketiga pendekar tersebut terpental hingga cukup jauh ke belakang. Dada ketiganya hancur, dan tak lama mereka menggeliat-geliatkan tubuhnya sebelum akhirnya berhenti dan tidak bergerak lagi. Mati.
Di sisi lain, pertarungan Ong san pun tak kalah seru dengan pertarungan saudaranya. Sekarang Ong dan berada dalam posisi terdesak.
Luka sudah memenuhi sekujur tubuh Ong san. Sayatan pedang sudah tak terhitung lagi karena ketiganya memang sudah mengeluarkan senjata.
Mendapati saudaranya sudah memenangkan pertandingan, timbulah semangat dalam dirinya. Tiba-tiba Ong san pun berteriak keras disaat hujan serangan menyerangnya.
"ROARRR …"
"Mencakar Langit Mengguncang Bumi …"
"WUSHH …"
Tiba-tiba senjata yang menyerang Ong san mendadak terpental hingga terlepas dari tangan ketiganya. Tanpa ampun, siluman kera itu lalu menyerang membabi-buta kepada ketiga lawannya.
__ADS_1