Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Tapak Penghancur Jagad Raya


__ADS_3

Saat ini Shin Shui dan phoenix biru sedang berada disebuah bukit didekat gunung San-ong. Pemuda biru itu akan mencoba jurus terakhir dari Kitab Tapak Penghancur ditempat itu.


Shin Shui memilih bukit ini karena tak lain ada sebuah goa yang besarnya hampir menyamai tempat berlatihnya di gunung San-ong.


"Shui'er, coba kau keluarkan jurus itu," kata phoenix biru memberi perintah kepada Shin Shui.


"Baik …" jawab Shin Shui.


Lalu pemuda biru itu mengambil jarak dan tempat yang lebih leluasa. Phoenix biru pun memperhatikannya dari sebuah dahan pohon.


Shin Shui mengambil sikap kuda-kuda, kaki kananya ditarik ke depan dan menekuk sebelah lutut. Kaki kirinya berada dibelakang menopang tubuh.


Sedangkan kedua tanganya digerakan ke atas dan kebawah, lalu ke pinggir kanan dan kiri. Gerakannya begitu lentur dan indah bagaikan air mengalir.


Hembusan angin mulai terasa semakin kencang disekitar tempat tersebut. Semakin lama semakin besar, Shin Shui mulai menghimpun tenaga dalam dengan jumlah yang mengerikan lalu dipusatkan pada kedua telapak tangannya yang kini membentuk tapak.


"Tapak Penghancur Jagad Raya …"


"WUSHH …"


"DUARR …"


Shin Shui menghentakkan kakinya dengan keras lalu mendorong kedua tangannya. Berbarengan dengan itu, seluruh tenaga dalamnya pun keluar hingga membentuk energi kasat mata dan melesat dengan sangat tepat ke depan.


Hasilnya sungguh mengerikan, goa yang menjadi sasarannya hancur luluh lantak rata dengan tanah. Pohon-pohon disekitar tempat itupun tercabut dari akarnya.


Bahkan tanah pun hingga bergetar hebat ketika jurusnya menghantam goa. Sungguh, efeknya jauh lebih mengerikan dari yang dia bayangkan sebelumnya.


Melihat Shin Shui berhasil mengeluarkan jurus Tapak Penghancur Jagad Raya yang merupakan jurus terkahir, phoenix biru pun merasa sangat gembira dan kagum kepada Shin Shui. Dia langsung terbang dan bertengger di bahunya.


"Kau berhasil Shui'er. Hebat … hebat. Aku sungguh tidak menyangka sama sekali bahwa kau mampu menguasai kitab tanpa tanding dengan waktu yang sangat singkat. Aku yakin, di dunia ini tidak ada yang bisa melakukannya selain dirimu," kata phoenix biru dengan bangga.

__ADS_1


"A-aku … a-aku berhasil. Benar-benar mengerikan," gumamnya dengan bibir sedikit bergetar.


###


Di sisi lain, ketika tadi Shin Shui keluar, kedua siluman kera yang kini sudah menjadi peliharaannya sedang tidak berada diluar goa gunung San-ong.


Keduanya sedang mencari makan ke tengah hutan. Jadi mereka tidak tahu bahwa majikannya keluar dari tempat latihannya.


Saat mendengar ada sebuah ledakan yang sangat keras dan tanah terasa sedikit bergetar, keduanya lalu mencari dari mana asal sumber itu. Ketika mendapati sumbernya berasal dari sebuah bukit, dua siluman kera yang merupakan kakak beradik itupun lalu menuju ke lokasi dengan cepat.


Betapa kagetnya kedua siluman kera tersebut ketika menyadari bahwa majikannya dan burung phoenix biru sudah berada dan berdiri mematung disana.


"Tuan muda, ada apa ini? Siapa yang menghancurkan bukit itu?" tanya salahsatu siluman kera.


"Siapa lagi kalau bukan Shin Shui," jawab phoenix biru dengan santai.


"A-apa … ba-bagaimana mungkin …"


Semakin tekejutlah mereka ketika Shin Shui membenarkan pernyataan phoenix biru. Tapi sungguh, hatinya masih sedikit ragu untuk percaya.


"Jangan heran. Shui'er sebenarnya baru menguasai kitab pusaka tanpa tanding, yaitu Kitab Tapak Penghancur. Dan dia menghancurkan bukit ini untuk mencoba jurus terkahirnya," kata phoenix biru menjelaskan setelah melihat ekspresi tidak percaya dari siluman kera.


"Kitab Tapak Penghancur? Bukannya itu adalah salahsatu dari tiga kitab pusaka tanpa tanding dan menempati urutan ketiga?" lagi-lagi kedua siluman kera dibuat terkejut. Mereka pun kembali saling berpandangan satu sama lain.


Rasanya sungguh sulit dipercaya. Bukan hanya karena keberadaan kitab itu yang sangat misterius bahkan dianggap dongeng semata, melainkan karena dalam waktu cepat Shin Shui bisa menguasainya dengan sempurna. Bagaimana bisa? Apakah dia bukan manusia?


Diam-diam kedua siluman kera itu merasa bersyukur karena kini pemuda biru itu sudah menjadi majikannya dan dia sudah berada di pihaknya. Jika saja tidak, entah seperti apa jadinya.


"Selamat tuan muda, selamat. Kami ikut senang atas pencapaian tuan muda yang berhasil menguasi seluruh ajaran kitab tersebut," kata siluman kera mengucapkan selamat kepada Shin Shui.


"Terimakasih. Ini semua berkat phoenix biru," jawabnya dengan tersenyum hangat.

__ADS_1


Kedua siluman kera itupun diam-diam bersyukur karena dipertemukan dengan Shin Shui. Selain karena ilmunya yang tinggi, ternyata majikan barunya itu sungguh rendah hati. Bahkan selalu baik kepada mereka.


Setelah berbincang santai, merekapun lalu kembali lagi ke goa yang berada di Puncak gunung San-ong. Keempatnya lalu berbicara ringan setelah tiba di goa tersebut.


"Hei, bagiamana kalau aku berikan nama supaya aku tidak sulit memanggil jika membutuhkan salahsatu diantara kalian," kata Shin Shui kepada kedua siluman kera ketika baru tiba di luar goa.


"Boleh, kami menurut saja kepada tuan muda …"


"Hemmm … bagaimana kalau aku memberikan nama kepadamu San-ong, sedangkan kau aku bernama Ong-san. Nama ini sebagai pengingat bahwa kalian berdua berasal dari gunung ini. Bagaimana, apakah kalian tidak keberatan?" tanya Shin Shui.


"San-ong … Ong-san …" kedua siluman kera itu terlihat berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya dan kadang di miringkan.


"Baiklah. Itu kedengaran bagus dan tidak buruk,"


"Jadi kalian bersedia aku berikan nama itu?" tanya Shin Shui.


"Tentu …" jawab keduanya serentak.


"Bagus. Sekarang aku tidak kesulitan lagi jika memanggil kalian. Jika aku sudah selasai dari latihan tertutup ini, apakah kalian bersedia untuk ikut bersamaku kembali ke tempat aku tinggal?" tanya Shin Shui lagi.


"Hemmm … lalu, siapakah yang akan menjadi penjaga gunung ini jika kami ikut bersama tuan muda?"


"Tentu masih kalian juga. Tenang saja, aku yakin keadaan disini akan aman. Aku rasa, aku akan sangat membutuhkan bantuan kalian jika era kekacauan sudah tiba," kata Shin Shui.


San-ong dan Ong-san tidak langsung menjawab. Keduanya sedikit kebingungan ketika ditanya demikian. Bagaimanapun juga, tempat ini adalah rumah yang sudah mereka tinggali selama ini.


Tentu saja hatinya merasa berat untuk meninggalkannya. Tapi di sisi lain, keduanya juga tidak enak hati kepada Shin Shui yang kini sudah menjadi majikannya.


"Tenang saja, jika era kekacauan sudah selesai, kalian boleh kembali lagi kesini. Itupun jika kalian tidak keberatan, jika keberatan akan permintaanku ini, maka aku tidak akan memaksa," ucap Shin Shui.


"Kalau begitu baiklah. Kami akan ikut dengan tuan muda untuk membantu menghadapi era kekacauan," kata San-ong.

__ADS_1


Karena merasa tidak enak, akhirnya kedua siluman kera itu menyetujui permintaan Shin Shui. Setidaknya mereka bisa kembali lagi ke rumahnya ini.


__ADS_2