Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Mau Mati Tanpa Kepala Atau Mati Terpotong-potong?


__ADS_3

"Sombong sekali kau bocah. Kau pikir aku takut denganmu heh? Baik, aku terima tantanganmu. Kita berduel sampai ada yang tewas diantara kita," kata Lin Jun dengan marah.


Ketua sekte Macan Kumbang itu langsung bangkit berdiri. Matanya sudah mengisyaratkan bahwa dia benar-benar marah. Tangannya sudah mengepal kuat-kuat.


"Baik, aku setuju. Mari kita lihat siapa yang akan berakhir dengan tewas mengenaskan," balas Shin Shui dengan senyuman kesombongan.


"Senior sekalian, mohon jangan ada yang ikut campur. Biarkan aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini," kata Shin Shui memohon kepada orang-orang yang hadir. Orang-orang itu hanya mengangguk tanda mereka faham.


Dia berucap demikian tak lain karena orang-orang tersebut pun sudah terpancing emosinya. Apalagi ketika Lin Jun menunjukkan sikap seperti itu kepada Shin Shui.


Kini keduanya sudah memasuki tengah-tengah arena pertandingan. Orang-orang dari sekte aliran putih mulai mengelilingi arena itu, tapi jaraknya agak jauh karena khawatir jurus yang dikeluarkan kedua pendekar akan mengenai mereka.


"Sebelumnya, kau mau mati tanpa kepala atau mati terpotong-potong? Emmm … atau lenyap tanpa sisa?" kata Shin Shui dengan nada sombong dan percaya diri.


Hal ini memang sengaja dia lakukan supaya Lin Jun semakin dikuasai oleh emosinya sendiri. Sebab, ketika manusia dikuasai oleh emosinya maka dia tidak bisa mengendalikan diri dengan benar. Itulah tujuan Shin Shui.


Orang-orang yang mendengar perkataan Shin Shui menggambarkan beberapa ekspresi. Ada yang sedikit bergidik ngeri, ada juga yang terlihat menahan tawanya. Salah satunya adalah Yashou dan Ye Rou. Tentu saja, karena mereka tahu siapa itu Shin Shui.

__ADS_1


"Jangan banyak omong kosong kau bocah, buktikan jika memang kau mampu melakukan itu padaku. Aku akan mengeluarkan seluruh kekuatanku demi membalaskan dendam rekan-rekanku," gertak Lin Jun.


Ketua sekte Macan Kumbang itu langsung mengeluarkan aura pembunuhan yang begitu kuat. Bahkan terlihat udara di sekitar arena pertandingan sedikit berwarna hitam kelam, udaranya pun mendadak sesak. Hawa kematian perlahan mulai menyeruak.


"Mari kita mulai kepala tetua sekte Macan Ompong." kata Shin Shui mengejek.


Tak mau kalah, dia pun mengeluarkan aura pembunuh yang sama kuatnya. Bahkan aura pembunuh Shin Shui mampu menerbangkan kerikil yang sebesar ibu jari kaki. Angin yang membawa hawa mengerikan mulai terasa, langit mulai sedikit mendung.


Tanpa membuang waktu, Lin Jun langsung menyerang Shin Shui. Dia langsung mengeluarkan jurus-jurus silat tingkat tingginya. Gerakannya kesana kemari, kadang dia menyerang secara zig zag, melompat, bahkan kadang menerkam. Ternyata kepala tetua itu langsung mengeluarkan jurus silat 'Macan Kumbang Mencabik-cabik Kelinci'.


Disisi lain Shin Shui tak mau kalah, pemuda itu kembali mengeluarkan ilmu silat Jurus Dewa Mabuk. Dia masih penasaran sampai dimana kehebatan ilmu silat barunya itu hingga orang-orang menyebut bahwa itu salahsatu ilmu silat legenda dan tingkat tinggi.


Lin Jun terus menyerang mengincar titik utama lawan, yaitu bagian jantung. Dia terus memberikan pukulan tangan yang diisi oleh banyak tenaga dalam. Pukulannya agak lambat, tapi jika dia memukul batu sebesar rumah kecil, mungkin batu itu akan hancur menjadi beberapa puluh bagian.


Disisi lain, Shin Shui hanya mendapat giliran bertahan untuk saat ini. Dia terus menghindari serangan ganas Lin Jun, tapi gerakannya agak kaku. Pasalnya karena Jurus Dewa Mabuk memang lebih sempurna jika digunakan ketika orang itu mabuk.


Karena terus berada dalam posisi bertahan, secara perlahan 'bocah gila' itu mulai terpojok juga. Melihat hal ini tentu saja Lin Jun merasa senang, kepala tetua sekte Macan Kumbang itu mundur beberapa tombak ke belakang. Shin Shui mengira bahwa dia mulai kelelahan, ternyata dugaannya salah besar. Lin Jun mendadak menerkam layaknya Macan Kumbang yang akan menangkap mangsa, hingga pada akhirnya …

__ADS_1


"Ughhh …"


Shin Shui langsung terpental beberapa tombak ke belakang. Darah segar sedikit keluar dari sudut bibirnya. Pendekar Halilintar itu terkenal pukulan yang cukup dahsyat pada bagian dada kirinya.


"Hahaha … hanya segini kemampuanmu? Lebih baik kau menyerah dan meminta maaf saja padaku … hahaha," ejek Lin Jun ketika melihat Shin Shui kesaktian sembari memegangi dadanya.


Shin Shui perlahan berdiri. Tapi dia tidak langsung menyerang, pemuda itu lalu menengok ke arah Yashou.


"Senior, aku minta arak yang enak satu botol," ucap Shin Shui sembari mengelap darah di sudut bibir.


Tanpa menunggu lama, orang tua itu langsung mengambil arak yang ada di Cincin Ruangnya karena memang dia salahsatu penikmat arak. Tanpa banyak bertanya lagi, orang tua itu langsung melemparkan arak kepada Shin Shui. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Heupp …" Shin Shui menangkap arak yang dilemparkan Yashou tersebut.


Buru-buru pemuda itu menenggak araknya, bahkan sesekali terdengar tegukan ketika Shin Shui menenggak araknya.


###

__ADS_1


Nanti ada satu chapter lagi ya, gantiin yang kemaren malam Minggu baru tiga. Cakra Buana up nya dua-dua, karena repot juga😁😁jan lupa baca Cakra Buana ya☕


__ADS_2