
Kini Wu Chai dan Hong Liong sudah tiba kembali di sekte Bukit Halilintar. Tak perlu waktu yang lama untuk keduanya sampai disana, karena Wu Chai dan Hong Liong tadi langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Tanpa basa-basi lagi kedua tetua sekte Bukit Halilintar itu langsung memasuki ruangan tempat bersantai para tetua. Saat ini matahari sudah tepat berada diatas kepala, jadi semua tetua beristirahat dan berkumpul ditempat biasa.
"Ahhh … kau sudah pulang tetua Wu, tetua Hong. Bagaimana, apakah kau mendapatkan Jamur Pemusnah Racun itu?" kata Shin Shui sambil menyambut kedatangan dua tetua tersebut.
"Iya, kami berhasil mendapatkannya kepala tetua. Ini …" kata Wu Chai sambil memberikan Jamur Pemusnah Racun itu kepada Shin Shui.
Setelah menerimanya, pemuda biru itu pun lalu melihat-lihat apakah jamur itu memang yang dia butuhkan atau bukan.
"Hemmm … benar, ini jamurnya," ucap Shin Shui sambil tersenyum senang.
Tanpa membuang waktu lagi, Shin Shui pun lalu meninggalkan semua tetua itu. Dia menuju ke dapur untuk memasak Jamur Pemusnah Racun.
Tukang masak yang ada disana pun heran atas apa yang dilakukan oleh kepala tetua mereka, karena baru kali ini kepala tetua mereka memasuki dapur. Tapi ketika Shin Shui menjelaskan, maka tidak ada lagi yang berani mengganggunya. Semua tukang masak langsung keluar.
Kini yang ada didapur hanyalah Shin Shui sendiri. Dia berencana akan mengolah jamur itu menjadi sayur sup. Sebab jika dikonsumsi langsung, maka akan membutuhkan waktu penyerapan yang lebih lama.
Selain itu juga, jamur beracun tentunya memiliki rasa pahit yang teramat sangat. Shin Shui bisa membuat obat penawar seperti ini karena dia pernah membaca sebuah buku pengobatan dari Cincin Ruangnya.
Pemuda biru itu mulai memotong-motong Jamur Pemusnah Racun, tak lupa juga dia menambahkan beberapa sumber daya yang berguna untuk penyembuhan serta meningkatkan tenaga dalam.
Setelah semuanya selesai, dia segera memasukkan semuanya. Tak perlu waktu lama, cukup sekitar lima belas menit saja maka masakannya sudah jadi.
Segera saja Shin Shui membawa sup Jamur Pemusnah Racun itu ke tempat dimana berkumpulnya para tetua. Para tetua yang sedang berbincang-bincang pun dibuat terdiam ketika mencium aroma wangi.
Bau harum mulai memanjakan hidung mereka. Bau itu sangat khas dan sungguh menggoda selera. Bahkan baunya sudah tercium sebelum Shin Shui tiba disana.
__ADS_1
"Penawar racun sudah jadi. Dan kalian semua pun boleh memakannya. Karena selain untuk menghilangkan racun, sup ini juga bisa untuk mengembalikan tenaga dalam yang hilang dalam waktu singkat," kata Shin Shui sambil meletakkan sup itu di sebuah meja panjang.
"Wahhh … kepala tetua pintar masak," kata Wu Chai dengan gembira. Lidahnya sudah menjilati bibir karena sudah tidak tahan ingin segera mencicipinya.
Berbagai pujian dilontarkan oleh para tetua itu kepada Shin Shui. Karena mereka tidak menyangka bahwa pendekar yang 'kejam' sepertinya pandai memasak.
"Shushi kau pandai sekali memasak. Hemmm … jika kita berjodoh lalu menikah, mungkin kau lebih pantas menggantikan pekerja istrimu ini," kata Yun Mei menggoda Shin Shui dengan senyuman.
"Aihhh kau ini …" balasnya dengan malu-malu.
Tanpa banyak bicara lagi para tetua pun langsung menikmati hidangan itu mumpung masih hangat. Rasanya benar-benar nikmat, bahkan lebih enak daripada masakan para koki sektenya.
Setelah selesai menyantap makanan, para tetua sekte Bukit Halilintar pun kembali ke ruangannya masing-masing untuk mengerjakan tugasnya. Sedangkan Wu Chai dan Hong Liong saat ini mendapatkan giliran untuk mengawasi para murid yang sedang berlatih.
###
Wanita paruh baya itu memakai baju warna merah darah. Dibelakang punggung tersarung dua buah pedang yang menyilang. Rambutnya dibiarkan terurai sampai ke pinggul.
Meskipun umurnya sudah hampir enam puluh tahun, tapi wajahnya masih terlihat sepuluh tahun lebih muda. Tubuhnya ramping padat, wajahnya cukup manis dengan mata yang tajam.
Dan wanita paruh baya itu tak lain adalah istri dari Raja Iblis Merah. Sebelumnya, dia diam-diam melarikan diri dari tempatnya tanpa memberitahu kepada siapapun.
Bahkan kepada Raja Iblis Merah sendiri pun dia tidak izin, hal ini memang dilakukannya dengan sengaja. Sebab jika bicara kepada suaminya, tentu dia tidak akan diizinkan.
Dan tujuannya tak lain adalah menuju sekte Bukit Halilintar untuk membalaskan dendam atas kejadian pahit yang menimpa anaknya, Pangeran Iblis.
Dengan informasi dari beberapa orang dan juga dari anaknya ketika sadar, maka mencari letak sekte Bukit Halilintar bukanlah hal sulit.
__ADS_1
Saat ini istri dari Raja Iblis Merah itu sudah tiba di desa perbatasan. Tanpa berhenti lebih dulu, dia terus saja berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu sudah tiba di gerbang sekte. Disana ada empat orang penjaga. Tanpa basa-basi lagi dia segera menuju kesana.
Karena dendam yang sudah membara dan amarah yang memuncak, tanpa banyak cakap dia segera menyerang empat penjaga gerbang tersebut.
Dengan gerakan yang begitu cepat, sekali bergerak saja keempat penjaga gerbang itu tewas dengan luka sayatan pedang dilehernya.
Setelah itu, dia pun lalu masuk ke sekte dan membuka gerbangnya dengan kasar sehingga gerbang sekte Bukit Halilintar itu hampir hancur.
Wu Chai dan Hong Liong yang mendengar suara keras ini, segera saja keduanya menuju ke sumber suara tersebut. Ternyata disana telah berdiri seorang wanita paruh baya dengan bertolak pinggang dan berdiri memunggungi.
"Maaf, siapakah gerangan yang datang ke tempat kami?" tanya Hong Liong dengan sopan.
"Apakah ini tempat sekte Bukit Halilintar?" tanya wanita itu tak mempedulikan pertanyaan Hong Liong sebelumnya.
"Benar, ini tempatnya. Lalu, nona pendekar siapa dan ada keperluan apa?" tanya balik Hong Liong.
"Cepat panggilkan yang bernama Shin Shui. Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua. Panggilkan sekarang sebelum kesabaranku habis. Atau kalau tidak … maka kalian akan bernasib sama seperti keempat penjaga gerbang itu," tegasnya.
Wu Chai dan Hong Liong pun lalu memandang berkeliling karena ucapan wanita paruh baya itu. Pandangan mereka terhenti ketika melihat empat penjaga gerbang sudah tewas. Marahlah keduanya ini melihat hal tersebut.
"Sebenarnya kau ini siapa? Cepat katakan sebelum kami bertindak kasar. Dan apakah kesalahan penjaga gerbang hingga kau tega membunuhnya," kata Wu Chai dengan nada sedikit tinggi karena amarahnya sudah terpancing.
"Apakah kau tahu siapa aku?" tanya wanita paruh baya itu sambil membalikkan badannya.
"De-Dewi Pedang Kembar?" ucap Wu Chai dan Hong Liong dengan mata terbelalak.
__ADS_1