
"Aku akan keluar sebentar untuk memesan makanan, apakah kau mau makan juga?" tanya Shin Shui kepada Yun Mei.
Dia berniat untuk memesan makanan lalu disantap di kamarnya, bagaimanapun juga Shin Shui harus menjaga Yun Mei, terlebih gadis itu dalam keadaan terluka saat ini.
Yun Mei menanggukkan kepalanya, dia hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Sebab dirinya memang sudah merasa lapar semenjak dimulai pertarungannya dengan perampok Iblis Merah.
Shin Shui segera pergi meninggalkan kamarnya, pemuda itu lalu menuju ke sebuah meja kosong untuk memesan makanan yang ada. "Pelayan …" kata Shin Shui sembari melambaikan tangannya kepada seorang pelayan.
"Iya tuan muda, mau pesan apa?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Aku pesan dua porsi makanan yang paling enak, tapi aku minta makanannya diantar ke kamar atas, apakah boleh?" tanya Shin Shui.
"Boleh tuan muda," jawab pelayan tersebut.
Setelah selesai memesan makanan, pemuda itu segera kembali ke kamarnya. Sebab dibawah sangat ramai orang-orang yang sedang makan, terlebih dia juga sedikit khawatir dengan Yun Mei.
"Makanannya mana? Bukankah tadi kau bilang ingin mencari makan?" tanya Yun Mei.
Gadis itu cukup heran kepada Shin Shui, bukankah tadi dia bilang ingin mencari makanan? Lalu jika tidak membawa makanan, untuk apa segera kembali?
"Tenanglah, aku sudah memesannya. Nanti akan ada yang mengantarkannya kesini," jawab Shin Shui sembari duduk didekat Yun Mei.
Selang berapa menit, pintu kamar Shin Shui ada yang mengetuk dari luar. "Masuk." kata Shin Shui.
__ADS_1
Ternyata makanan yang dipesan Shin Shui sudah jadi, dua orang pelayan muda dan cantik memasuki kamarnya sembari membawa dua porsi makanan. "Silahkan tuan dan nona muda. Selamat menikmati." kata salah satu pelayan tersebut.
"Terimakasih, ini buat kalian." ucap Shin Shui sembari memberikan satu keping emas kepada masing-masing pelayan itu.
"Ahhh … terimakasih tuan muda." pelayan tersebut sangat berterimakasih kepada Shin Shui, sebab bagi mereka satu keping emas sama dengan jatah makan selama satu minggu.
"Maaf kalau boleh tahu, apakah kalian mengetahui Desa Awan Putih? Dimana tempat Bukit Awan berada?" tanya Shin Shui.
Pemuda itu bertanya kepada para pelayan tak lain karena mereka adalah orang-orang asli desa tersebut. Menurut perhitungan Shin Shui, posisinya saat ini sudah dekat dengan Desa Awan Putih, tapi karena merasa ragu akhirnya pemuda itu memilih untuk bertanya.
"Ohhh … tuan dan nona muda akan kesana? Jaraknya sudah cukup dekat tuan muda, kalau berjalan biasa mungkin membutuhkan waktu tiga hari, tapi kalau menggunakan kuda atau sebagainya, aku rasa satu setengah hari juga bisa sampai kesana." jawab pelayan tersebut.
"Baiklah terimakasih informasinya, kalian boleh keluar sekarang." kata Shin Shui lembut.
"Ayo kita makan," ajak Shin Shui.
"Aku tidak bisa makan. Aku masih lemas, suapin," kata Yun Mei sembari memegangi tangan Shin Shui.
"Baiklah ayo … ehhh … tu-tunggu. Ka-kau mau aku menyuapimu?" Shin Shui mulai gugup, pasalnya dia baru menyadari bahwa gadis yang saat ini bersamanya meminta disuapin makanan.
"Hehehe … aku masih lemas, ayolah, mau ya … mau," Yun Mei mengerek-rengek kepada Shin Shui. Gadis itu mendadak berubah seperti anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya.
"Hahhh …" Shin Shui menghela nafas perlahan. "Manja sekali, ba-baiklah, tapi kali ini saja. Aku tidak biasa seperti ini kepada seorang wanita, apalagi dia masih gadis sepertimu. Bahkan ini pertama kalinya." kata Shin Shui.
__ADS_1
Meskipun bagi orang lain ini adalah hal lumrah, tapi bagi Shin Shui adalah yang pertama kalinya. Bahkan dia baru pertama kali bisa berdekatan dengan wanita seperti ini, mau tidak mau akhirnya pemuda itu menyuapi Yun Mei secara perlahan. Karena baginya 'seorang pria sejati adalah dia yang tidak mengingkari ucapannya'.
Shin Shui mulai menyuapi Yun Mei, karena belum pernah sebelumnya, dia menyuapi Yun Mei dengan sedikir kasar. Sampai-sampai Yun Mei dibuat tidak nyaman karenanya.
"Pelan-pelan, jangan terlau kasar terhadap wanita. Jika kau seperti ini, bagaimana kalau kau disuruh menyuapi istrimu suatu hari nanti. " kata Yun Mei dengan cemberut.
"Ma-maafkan aku … sungguh, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Shin Shui mendadak gugup kembali.
'Ternyata wanita itu seperti ini ya. Hahhh …' Shin Shui membatin diiringi dengan helaan nafas berat.
###
Waktu terasa cepat berlalu, malam sudah berganti menjadi siang kembali. Semalam Shin Shui sedikit susah tidur disaat memikirkan sulitnya memahami wanita. Bahkan saat semalam menyuapi Yun Mei, dia beberapa kali mencubit tangan Shin Shui karena selalu melakukan kesalahan.
Saat ini keduanya sudah bersiap akan melanjutkan perjalanan kembali setelah sebelumnya sudah membersihkan diri dan sarapan.
"Apakah kamu sudah bisa berlari dengan cepat?" tanya Shin Shui kepada Yun Mei.
"Sudah, terimakasih karena kau mau menyuapiku semalam," kata Yun Mei sembari melemparkan senyuman yang bisa membuat siapapun melayang kepada Shin Shui.
Shin Shui hanya mengangguk perlahan sembari membalas senyuman Yun Mei, pipinya mendadak merah tomat. "Baiklah, ayo segera kita pergi," ajak Shin Shui.
Keduanya segera berlari dengan cepat, mereka tidak ingin berlama-lama lagi karena mengingat tempat tujuan mereka sudah dekat.
__ADS_1