Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Shin Shui Vs Siluman Ikan


__ADS_3

"Mungkin saja karena siluman itu memang hanya doyan manusia. Memangnya kau siapa sehingga mau mengambil resiko untuk membunuh siluman itu. Apakah kau pikir dirimu itu kuat?" kata wanita cantik itu kepada Shin Shui.


"Tetap saja apa yang dilakukan oleh siluman itu salah. Aku sudah bilang bukan siapa-siapa, aku hanyalah orang yang ingin melihat manusia bisa hidup dalam kedamaian dan ketenangan. Bukan dalam sebuah bayang-bayang ketakutan seperti sekarang ini. Sudahlah, jangan kau halangi aku, aku akan membunuh siluman tidak tahu diri itu," kata Shin Shui dengan tegas.


Pemuda biru itu sengaja berkata demikian supaya memancing emosi wanita yang kini berada dihadapannya. Benar, wanita itu tak lain memanglah jelmaan siluman ikan tadi. Shin Shui pun sudah menyadarinya, namun dia pura-pura tidak tahu.


"Lancang, aku sudah memperingatkan dirimu baik-baik tapi malah berlagak sombong. Akulah siluman yang kau cari itu manusia hina," bentak wanita cantik itu dan langsung mengakui bahwa dia memang siluman ikan penunggu Danau Yang-He.


Wanita cantik itu maju menyerang Shin Shui dengan jurus-jurus pedang yang dia miliki. Gerakannya lincah mirip ekor ikan mengibas-ngibaskan air. Meliuk-liuk kesana kemari hingga terlihat indah, padahal sebenarnya berbahaya.


Sinar-sinar terang dari setiap ayunan pedang wanita itu mulai terlihat dibawah gelapnya malam. Dia terus berusaha untuk memojokkan Shin Shui. Tapi hal tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan.


Meskipun Shin Shui sejauh ini hanya menghindar, tapi dia sama sekali belum terpojok. Shin Shui masih bingung apakah dia akan melukai siluman itu atau tidak.


Jika tidak dilukai, maka pasti siluman itu sendiri yang akan malukai dirinya. Jika dilukai, sayang juga dan tidak tega pula setelah melihat kecantikan dan bentuk tubuhnya yang indah.


Shin Shui masih bimbang. Dia sedang menimbang-nimbang apakah akan membunuh atau melukai, atau hanya membuat siluman itu kehilangan kekuatannya?


Tapi disaat dia berfikir sambil menghindari serangan, tiba-tiba sosok siluman ikan yang kini berubah jadi wanita cantik pun berteriak.


"Awas kepala …"


"Utsss …"


Shin Shui menekuk tubuhnya ke belakang supaya terhindar dari sabetan pedang yang begitu kuat. Hampir saja, kalau tidak cepat-cepat menguasai diri, bisa dipastikan saat ini kepalanya sudah tidak berada pada tempatnya.


"Kenapa kau melamun? Kau takut?" tanya siluman itu sambil tersenyum mengejek ke arahnya.

__ADS_1


"Cihhh … aku tidak pernah takut kepadamu seujung kuku sekalipun. Aku hanya berfikir untuk tidak melukaimu, tapi setelah melihat barusan bahwa kau benar-benar akan membunuhku, maka aku sudah mengambil tindakan … aku akan membunuhmu lebih dahulu," ucap Shin Shui sambil mengeluarkan Pedang Halilintar.


"Hahaha … dasar manusia bodoh," kata siluman yang kini sudah menjelma jadi seorang wanita cantik.


Pertarungan pun kembali dilanjut. Tapi kali ini Shin Shui tidak lagi menghindar, dia mulai menangkis setiap serangan yang datang lalu balas menyerang.


Sinar pedang yang menggulung-gulung terlihat indah. Kedua pendekar itu lenyap ditelan sinar pedang yang diciptakan oleh mereka sendiri. Kedua pusaka beradu terdengar nyaring dam sedikit ngilu.


Wanita cantik jelmaan siluman ikan itu mundur dua tombak. Ia berniat untuk mengeluarkan jurus pedang yang lebih kuat yang dia miliki setelah mengetahui bahwa kepandaian lawan tidak bisa dipandang remeh lagi.


"Kibasan Ekor Penghancur …"


"WUSHH …"


Siluman itu kini sudah kembali menyerang Shin Shui, tapi gerakannya berbeda dengan yang tadi. Sekarang gerakannya begitu cepat dan tajam. Tentunya juga mengandung tenaga dalam yang kuat dalam setiap ayunan pedangnya.


Wanita siluman ikan tersebut terus memberikan sabetan-sabetan pedang yang di fokuskan ke arah leher lawan lalu turun ke bagian dada, lalu naik dan turun lagi, begitu seterusnya hingga tiada henti.


Tapi disisi lain Shin Shui belum terluka, hanya saja sedikit kewalahan karena wanita siluman itu menyerang tiada hentinya. Pemuda biru itu mulai kesal karena lawan tetap tidak berhenti menyerang dirinya.


"Tarian Ekor Naga …"


"WUSHH …"


Sekarang Shin Shui mulai membalas serangan wanita siluman itu. Dia mengeluarkan jurus pedang yang diajarkan oleh Cun Fei dahulu, gerakannya kadang cepat kadang lambat.


Seiring berjalannya waktu, wanita siluman itu sedikit demi sedikit mulai terpojok karena serangan pedang Shin Shui yang sulit ditebak kemana arahnya. Hingga beberapa jurus kemudia sebuah sayatan terlihat di tangan kirinya.

__ADS_1


Wanita siluman itu meringis menahan sakit. Bukannya menyerah, yang ada siluman itu malah semakin menjadi menyerang Shin Shui.


Tentu saja Pendekar Halilintar itu bisa mengimbanginya sekarang, apalagi sudah mengeluarkan jurus Tarian Ekor Naga. Bukan perkara sulit untuk mengimbangi lawan yang jelas berada dibawahnya.


Hingga kurang lebih tiga jurus kemudian, Shin Shui berhasil membuat wanita siluman itu semakin terdesak hingga akhirnya …


"Ahhh …" mati.


Wanita jelmaan dari siluman ikan tewas ditangan seorang pemuda asing dengan jantung tertusuk. Dia hanya bisa melotot tak percaya ke arah Shin Shui hingga pada akhirnya tercebur ke dalam Danau Yang-He.


Sorak-sorai dari para warga yang melihat jalannya pertarungan antara Shin Shui dan siluman ikan kembali terdengar meriah. Mereka begitu bahagia karena akhirnya kota Siam-Yang, terlebih yang rumahnya didekat Danau Yang-He sudah bebas dari bahaya.


Kini penduduk kota bisa aman tenteram kembali seperti dahulu lagi. Siluman yang selama ini menjadi ketakutan bagi para penduduk kota akhirnya bisa dibunuh oleh seorang pendekar muda yang tidak mereka sangka.


Setelah berhasil membunuh siluman itu, Shin Shui segera kembali ke tepi danau. Kedatangannya pun disambut meriah. Mereka meneriakkan ucapan terimakasih kepada pemuda biru itu.


"Terimakasih pendekar muda. Karena jasamu, kini para penduduk kota Siam-Yang bisa hidup aman dan damai kembali. Semoga langit selalu melindungimu," kata walikota itu sambil memberi hormat kepada Shin Shui.


"Tidak perlu di sungkan, sudah menjadi kewajiban bagi yang mampu untuk membantu. Dan sudah menjadi kewajiban pula kita sebagai manusia untuk saling tolong-menolong," ucap Shin Shui membalas hormat walikota itu.


"Setelah dari sini, hendak kemanakah kedua pendekar muda ini akan melanjutkan perjalanan?" tanya walikota.


"Entahlah. Yang jelas tujuan kami melakukan pengembaraan karena ingin melenyapkan aliran hitan dan menciptakan perdamaian. Seperti yang aku bicarakan kemarin, mungkin besok pagi kami akan kembali melanjutkan perjalanan" ucap Shin Shui.


"Ah baiklah kalau begitu. Semoga cita-cita mulia itu bisa tercapai. Kalau begitu, menginap lah dirumahku malam ini. Biarkan aku menjamu kalian sebagai rasa terimkasih," kata walikota membujuk Shin Shui supaya mau menginap dirumahnya.


Setelah berpikir beberapa saat, pemuda itu mengangguk setuju. Walikota pun segera menyuruh para warganya untuk membubarkan diri lagi dan besok pagi-pagi diminta untuk ke rumahnya supaya bisa mengantarkan kepergian pendekar muda yang sudah berjasa besar.

__ADS_1


###


Jangan lupa juga untuk baca Cakra Buana ya, kisah seorang pendekar berlatar nusantara, khususnya tatar Pasundan. Jika memang sesuai selera, mohon bantu supaya menjadi banyak pembacanya😁🙏jika suka berikan juga dukungan terhadap karya author yang tidak seberapa ini🙏 37 chapter sudah menanti☕


__ADS_2