Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sekte Macan Ompong, Eh … Maksudku Macan Kumbang


__ADS_3

Burung phoenix biru milik Shin Shui melaju dengan sangat cepat ke satu arah. Kilatan halilintar di kedua sayapnya terlihat nampak indah dan membawa kesan mengerikan tersendiri. Benar, phoenix biru itu menuju tempat dimana penyusup aliran hitam berdiam.


Di sisi lain, penyusup dari aliran hitam itu nampak terkejut dengan kejadian ini. Bagaimana bisa keberadaannya diketahui? Padahal kekuatan sudah disembunyikan, bahkan menyamar pun sudah maksimal. Rekannya yang lain pun tidak bisa mengenali penyamaran itu, tapi ini? Ah sudahlah, sulit dijelaskan dengan ucapan, mungkin begitu pikirannya.


Mau tidak mau kedua penyusup tersebut harus membuka penyamaran yang sudah susah payah dibuat. Sekarang terlihat jelas siapa penyusup itu. Mereka adalah seorang kepala tetua sekte bersama bawahannya.


Dia adalah Lin Jun sang kepala tetua sekte Macan Kumbang bersama salahsatu bawahannya. Memang, pada kenyataannya sekte Macan Kumbang mempunyai urusan disini, terutama dengan Shin Shui dan Yashou.


Dimana beberapa tahun lalu Yashou membunuh Pendekar Lima Serangkai, sedangkan Shin Shui membunuh para tetua sekte Macan Kumbang. Jadi agak masuk akal jika dia menyusup pada acara ini.


Mungkin tujuannya untuk mengamati keadaan lalu memikirkan langkah apa yang harus dilakukan supaya dendamnya terbayar. Bisa jadi dia akan memberitahukan hasil pengamatan ini ke sekte aliran hitam lainnya supaya sekte Bukit Halilintar di teror. Tapi entahlah, itu hanya Lin Jun sendiri yang tahu.

__ADS_1


Yang jelas kini keduanya sedang sangat panik. Mereka hendak melarikan diri. Ah tidak. Bahkan keduanya sudah melarikan diri, tapi sebelum jauh, tiba-tiba burung phoenix biru menukik dengan tajam ke arah Lin Jun.


Tanpa basa-basi lagi, burung phoenix biru itu langsung membawanya terbang dan kembali ke arah Shin Shui. Cengkraman yang sangat kuat membuat kepala tetua sekte Macan Kumbang itu tidak bisa berkutik. Berkutik saja tidak bisa, apalagi lari. Sedangkan bawahannya kini sudah melarikan diri cukup jauh.


Hanya beberapa saat saja, burung phoenix biru sudah sampai di tempat arena pertandingan. Dimana saat ini sedang berkumpul orang-orang dari aliran putih, termasuk Shin Shui sendiri. Burung phoenix biru menjatuhkan Lin Jun dengan keras, lalu dia terbang kembali dan hinggap di bahu kanan Shin Shui.


Lin Jun ternyata agak gentar juga. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Tentu saja, karena dia faham bahwa saat ini nyawanya sudah diujung tanduk. Semua rencana dan penyamaran yang sudah disusun susah payah akhirnya kandas ditengah jalan.


Pendekar Halilintar itu langsung mengeluarkan aura pembunuh yang sangat pekat, bahkan semua orang-orang disana cukup merasa tertekan. Ternyata sifat gilanya semakin bertambah lagi. Dia mulai membunyikan tulang leher dan juga tulang jarinya.


"Ayo bangun, kita tuntaskan dendam diantara kita. Jangan takut, tidak akan ada yang ikut campur dalam pertarungan kita nanti. Aku tahu kau kesini salahsatu alasannya karena tetua sekte Macan Ompong. Ehhh … maksudku Macan Kumbang, tewas ditanganku. Benarkan?" tanya Shin Shui dengan nada tinggi.

__ADS_1


Lin Jun yang mendengar perkataan Shin Shui bahwa dia tahu niat sebenarnya apa merasa sangat kaget. Bagaimana ada orang yang bisa menebak dengan tepat? Lin Jun kini bergelut dengan pikirannya.


Kepala tetua sekte Macan Kumbang itu masih terdiam. Dia belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Shin Shui kepadanya. Orang tua itu baru menyadari bahwa dirinya sudah membuat masalah dengan orang yang salah.


Lin Jun hanya mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Shin Shui. Dua pasang mata pendekar berilmu tinggi kini saling bertatapan. Raut wajah Lin Jun menggambarkan kekesalan yang sangat dalam ke Shin Shui.


Bagaimana tidak? Sekte yang sudah dia bangun dimulai dari kelas bawah hingga kelas menengah, secara tidak langsung dihina oleh pemuda biru itu dengan sebutan Macan Ompong. Siapapun pastinya akan merasakan hal yang sama dengan Lin Jun, mungkin kau pun akaj bertindak demikian bukan?.


Rasa takutnya karena di kelilingi musuh sekarang sudah berhenti menjadi rasa kesal. Matanya terus menatap tajam kepada Shin Shui, tapi disisi lain pemuda biru itu masih terlihat tenang dan santai.


Memang, ini merupakan sifat Shin Shui, dia sangat suka jika memancing emosi musuhnya. Tapi sifat sebenarnya adalah lembut terhadap kawan tapi kejam terhadap lawan. Orang sepertinya tidak jauh berbeda seperti pembunuh berdarah dingin.

__ADS_1


"Sekalipun kau menatapku dengan tajam seperti itu seharian penuh, aku tidak akan takut. Bahkan aku merasa geli dengan tatapanmu itu kepala tetua Macan Ompong …" kata Shin Shui sembari membalas tatapan tajam Lin Jun.


__ADS_2