Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Pengeroyokan


__ADS_3

Kesepuluh pendekar yang tersisa menjadi ketakutan, hatinya bergetar, kakinya menjadi lemas, wajahnya pun mendadak pucat. Tak terkecuali mereka yang berada pada tingkatan Pendekar Dewa, mereka sedikit terkejut atas apa yang dilakukan oleh bocah yang dianggap gila itu.


Reaksi orang-orang yang melihat kejadian ini pun beragam, ada yang tepuk tangan karena saking senangnya, ada juga yang tertawa karena melihat pendekar yang biasanya berlaku seenak 'jidat' kini merasa ketakutan oleh seorang pemuda.


Melihat musuh-musuhnya ketakutan, Shin Shui semakin tersenyum lebar. Senyuman yang menyeringai penuh makna, dia perlahan berjalan semakin dekat ke arah musuh-musuhnya.


"Bagaimana para orang tua? Masih mau bermain-main atau kabur? Hmmm … tapi sepertinya aku tidak akan membiarkan satu dari kalian lepas. Melihat reaksi orang-orang yang bahagia atas kematian teman-teman kalian, itu berarti kematian kalian memang diharapkan," kata Shin Shui sembari terus menatap tajam mereka semua.


Melihat pemuda itu berjalan semakin mendekat ke arahnya, mereka yang berada dibawah Pendekar Dewa mulai panik. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.


Sedangkan yang berada pada tingkatan Pendekar Dewa, mereka sedikit kehilangan kepercayaan setelah melihat betapa mudahnya Shin Shui membunuh Pendekar Surgawi.


"Kau hebat juga anak muda. Aku mengakui kehebatanmu yang dengan mudah membunuh Pendekar Surgawi. Tapi apakah kau masih mampu jika kami semua bekerjasama untuk menyerangmu?" tanya salah satu Pendekar Dewa. Dia cukup yakin akan mengalahkan Shin Shui jika dapat bekerja sama dengan baik.


"Hemmm … kau mau mengeroyokku? Apa tidak malu dengan pencapaian kalian? Apakah kalian sudah putus asa dan tidak siap menyambut datangnya kematian, hingga kalian berniat menghajarku secara bersaman? Tapi baiklah, mari kita coba saja. Mungkin akan menjadi permainan yang lebih menarik," kata Shin Shui.


Sebenrnya dia sendiri tidak yakin, tapi ketika mengingat apa yang dia lakukan saat perang kemarin, dia optimis bisa melawan mereka semua sekaligus. Shin Shui mundur untuk mengambil jarak, pendekar suruhan walikota Huan Xi sudah bersiap-siap untuk menyerangnya.


"Hati-hati pendekar muda."


"Kau pasti bisa anak muda."


"Semangat pendekar tampan, aku mencintaimu." seorang gadis berusia sekitar 16 tahun berteriak. Teriakannya itu membuat orang-orang disana menolehnya, termasuk Shin Shui sendiri. Shin Shui membalas ucapan itu dengan senyuman yang manis, membuat wanita itu pingsan sesaat. 'Senyumannya bagaikan dewa cinta' gumamnya sebelum pingsan.

__ADS_1


"Bisa kita mulai permainan ini? Tanganku rasanya gatal senior," ucap Shin Shui diiringi dengan raut wajah yang serius.


"Sombong sekali kau bocah."


"Arogan …"


"Besar mulut, akan ku robek mulutmu itu bocah."


Para Pendekar Dewa memaki Shin Shui satu persatu sesaat sebelum melesat menyerangnya. Sedangkan orang-orang disana tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Shin Shui yang berhasil menyulut amarah para pendekar itu.


Kini mereka semua sedang mengeroyok Shin Shui, mereka menyerang silih berganti. Serengan mereka semua tidaklah sama, ada yang lambat tapi mematikan, ada juga yang cepat dan lebih tajam.


Shin Shui terus melayani mereka sekaligus, suara senjata yang beradu begitu nyaring ditelinga. Mereka yang menyerang Shin Shui sudah dikuasi oleh amarahnya sendiri.


'TRANG …'


'TRANG*** …'


Suara senjata yang beradu terus bersahut-sahutan, melihat pemuda gila itu tidak juga merasakan kewalahan membuat salah seorang Pendekar Dewa yang merupakan terkuat diantara semua melesat menyerang Shin Shui.


"Tarian Pedang Raja Ular". Pendekar Dewa itu menyerang Shin Shui dengan kecepatan tinggi, gerakannya penuh dengan tipuan yang membingungkan lawannya. Para pendekar yang lain tidak tinggal diam, mereka mulai mengeluarkan jurus-jurus mereka.


"Kapak Harimau Putih".

__ADS_1


"Pukulan Naga Bumi"


"Tombak Rajawali".


"Jurus Pedang Bangau Kembar".


Satu-persatu dari mereka melesat menyerang Shin Shui yang mulai kewalahan. Shin Shui semakin terpojok akibat jurus dari lawannya menyerang secara beruntun.


"Ahhhh …" Shin Shui memekik lumayan keras ketika tiga buah pedang berhasil menggores dibagian perut, paha, dan bahunya. Dia melompat ke belakang sambil menahan sakit. Efek akibat pedang itu sangat perih dan mengandung racun.


"Pusaran Debu Kehancuran". Salah satu Pendekar Dewa mengeluarkan jurusnya, tak lama pusaran debu yang menyerupai angin topan mulai terbentuk, angin itu menyerang Shin Shui dengan kecepatan tinggi.


"Shui'er, biarkan aku mengambil alih tubuhmu. Kau jangan memperlihatkan kemampuan aslimu saat ini, ini bukan waktu yang tepat. Tenang saja, setelah serangga itu mati, kau bisa mengambil alih tubuhmu lagi." ucap Cun Fei sang jelmaan naga emas kepada Shin Shui.


"Baiklah senior. Aku akan menuruti perkataanmu," jawab Shin Shui.


"Baik Shui'er, aku tidak akan mengecewakanmu."


Sementara itu, para pendekar yang menyerang Shin Shui terlihat sangat gembira ketika pusaran debu itu akan mengenai Shin Shui tanpa perlawanan.


"Wushhhh … DUARR …' pusaran itu menghantam telak tubuh Shun Shui, debu-debu mengepul disekitar tempat itu.


"Hahahahaha … dasar bocah gila. Bisanya hanya besar mulut saja, baru merasakan sedikit kekuatanku saja sudah mati konyol." salah seorang Pendekar Dewa tertawa lantang saat melihat Shin Shui berhasil diserang oleh pusaran debu miliknya.

__ADS_1


Sebenarnya, tenaga dalamnya tersisa tidak lebih dari 20% akibat dari awal pertarungan dia sudah mengerahkan jurus-jurus tingkat tinggi miliknya. Sedangkan pusaran debu itu adalah sisa dari tenaga dalamnya, dia berkata seperti itu sudah jelas tujuannya. Dia ingin dikatakan kuat oleh orang-orang disana.


__ADS_2