Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Serangga Kecil


__ADS_3

Kini yang tersisa di hutan itu hanyalah Shin Shui. Senior dan gurunya sudah kembali ke tempat mereka masing-masing. Sekarang Shin Shui akan melanjutkan perjalanannya menuju Kota Matahari Terbenam setelah selesai menyembuhkan lukanya akibat Cun Fei dengan bantuan beberpa pil dan sumber daya.


Dia tidak lagi bersantai, dia mulai berlari di dalam rimbunnya pepohonan di hutan. Sekilas dia hanya terlihat seperti bayangan saja. Kadang dia melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya.


Tak perlu waktu lama, setengah jam kemudian Shin Shui sudah tiba di pinggiran kota Matahari Terbenam. Dia segera berjalan untuk menuju ke pusat kota itu.


Saat tiba di sana, suasana di kota itu memang lebih ramai daripada kota Bunga Perak, terlihat ada banyak para pedagang di sepanjang jalan yang Shin Shui telusuri. Mereka terus menawarkan barang dagangannya ke setiap orang yang lewat.


Shin Shui tiba di kota ini ketika hari sudah sore. Sekitar satu jam lagi matahari akan terbenam. Dia berniat untuk mencari restoran terlebih dahulu sebelum menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam karena dia sudah merasa lapar berat.


"Hemmm … benar kata pelayan itu, tempat ini jauh lebih ramai. Aku rasa tidak sulit untuk menemukan sebuah restoran disini." gumamnya sembari mengamati kota.


Shin Shui tiba di depan sebuah restoran yang cukup besar, restoran itu sangat ramai. Orang-orang yang makan di sana adalah para pedagang lain, kadang ada juga beberapa pendekar. Selain tempat makan, di sana juga menyedikan sebuah penginapan yang lumayan bagus dengan harga terjangkau.


"Selamat datang tuan, silahkan masuk. Kami memiliki hidangan yang bisa memanjakan lidah dan sebuah penginapan dengan harga terjangkau," seorang wanita yang baru berumur sekitar dua puluh tujuh tahun menyambut Shin Shui didepan pintu.


"Baiklah, berikan aku makanan enak dan aku juga pesan satu kamar," kata Shin Shui sambil melangkah memasuki restoran.


"Baik tuan," jawab pelayan itu.


Dia duduk disebuah meja yang berada di pojok bagian belakang, matanya mengamati seluruh ruangan itu. Shin Shui melihat ada beberapa pendekar dengan tingkatan Pendekar Bumi dan Langit, bahkan ada juga Pendekar Surgawi.


Ketika Shin Shui sedang menunggu makanannya tiba, terdengar keributan kecil di kasir. Kasir itu terlihat mengomel kepada seorang pemuda yang akan pergi sebelum memberikan bayaran.


"Ma-maaf tuan muda, tapi kau harus membayar dulu," ucap sang kasir sedikit ketakutan.


"Hemm …" pemuda itu memicingkan matanya. "Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah anak dari Walikota Huan Xi, aku Huan Zi," kata pemuda yang mengaku bernama Huan Zi itu. Dia mengaku sebagai anak seorang Walikota di kota ini.

__ADS_1


"Ta-tapi tuan muda," jawab kasir dengan sedikit gemetar. "Tu-tuan telah menyewa kamar selama beberapa hari dan memesan makanan yang cukup banyak. Kami akan rugi besar."


"Apa kau memaksaku untuk membayar?" ucapanya itu disertai tatapan tajam diiringi senyum kesombongan.


"Pengawal, hancurkan tempat ini!" kata Huan Zi.


Tak berselang lama, lima dari sepuluh orang yang sepertinya pengawal dari anak Walikota itu langsung menghancurkan meja dan kursi di dalam restoran itu.


Para pendekar yang berada di tahapan Pendekar Bumi langsung pergi. Mereka tidak mau berurusan dengan Walikota Huan Xi yang dikenal kejam jika ada yang berani kepadanya.


Mereka terus menghancurkan barang-barang disana. Kasir nampak bingung, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Hampir semua orang mulai pergi satu-persatu meninggalkan restoran setelah membayar dan melihat kejadian ini, mereka tidak mau terlibat masalah.


"Hei anak muda, kenapa kau tidak pergi? Pergi sekarang juga, restoran ini akan kami hancurkan," kata seorang bawahan Huan Zi, dia merupakan Pendekar Langit tahap tiga.


"Maaf paman, aku sedang menunggu makananku. Biarkan aku makan terlebih dahulu," jawab Shin Shui dengan santai.


Shin Shui masih tetap berdiam tanpa melakukan perlawanan kepada mereka. Dia sengaja memancing amarah orang-orang ini.


"Aku hanya pengembara paman, aku ingin makan di sini. Dan aku tidak kenal siapa Walikota Huan Xi," jawabnya dengan sedikit senyuman.


Mendengar jawaban pemuda itu, Huan Zi terlihat marah. Matanya melihat tajam ke arah Shin Shui, siapa yang tidak tahu Walikota Huan Xi? Seorang Walikota yang memiliki banyak pendekar Surgawi dan Pendekar Dewa yang siap untuk membunuh siapa saja yang berani mengganggu keluarganya.


"Kau …" Huan Zi geram. "Berikan pelajaran pada bocah itu!" Huan Zi langsung menyuruh beberapa pengawalnya.


Melihat keadaan semakin keruh, kasir dan pemilik restoran semakin takut. Dia tidak ingin berurusan dengan Walikota, dia juga khawatir dengan pemuda yang sedang di kerumuni orang-orang Huan Zi.


"Apa kau mau mati?" seorang Pendekar Surgawi menghunuskan pedangnya ke leher Shin Shui.

__ADS_1


Shin Shui mulai geram melihat tingkah laku dari anak walikota yang semena-mena. Dia langsung berdiri dan mengapit pedang itu, tak lama pedang itu patah menjadi dua.


"KRAKK …!"


"Hanya serangga kecil, tapi berlaga bagaikan singa," tatapan Shin Shui langsung dingin. Dia lalu mengibaskan tangannya ke arah mereka. Seketika itu juga, pasukan Huan Zi yang berada pada tingkatkan Pendekar Bumi langsung terpental terbawa angin yang dikeluarkan oleh kibasan tangan Shin Shui.


"Kauu …" Huan Zi semakin geram. "Habisi bocah itu."


Tak berselang lama, ada sekitar sepuluh orang yang melesat menyerang Shin Shui. Bukannya takut, pemuda itu malah tersenyum penuh makna kepada mereka.


"Haaa …" Shin Shui menghentakkan kakinya. Mereka yang akan menyerang mendadak terpental ke belakang. Namun mereka langsung bangun dan berlari menyerang Shin Shui kembali, pedang sudah dihunuskan oleh masing-masing dari mereka.


Sabetan demi sabetan pedang terus mengarah kepada Shin Shui, tapi tidak ada yang bisa mengenainya sama sekali. Mereka semakin prustasi sekaligus mulai sedikit gentar.


Tidak mau membuang waktu dan merusak restoran, Shin Shui mengeluarkan mereka semua dengan kibasan tangan yang lebih kuat. Orang-orang yang sedang berada diluar tampak kaget, apalagi mereka tau bahwa pemuda yang asing itu sedang berurusan dengan orang-orang walikota. Siapa orang yang cukup bodoh untuk berurusan dengan Walikota, pikir mereka.


Tak menunggu lama, Shin Shui langsung menyerang mereka semua dengan tapak tangannya.


"Ahhh … "


"Ahhh … "


Satu persatu dari mereka mulai ambruk, dadanya terlihat gosong. Mereka yang berada di tingkat Pendekar Bumi dan Langit tewas, dan mereka yang ada pada tingkat Pendekar Surgawi terluka parah hanya dengan serangan tapak. Orang-orang di sana nampak tidak percaya dengan semua ini.


Shin Shui lalu kembali masuk dan menyeret keluar anak Walikota, dia melemparkan Huan Zi ke tembok. Dia juga memukul wajahnya dengan keras hingga memar.


"Kau itu anak Walikota, kau harusnya memiliki sifat layaknya pemimpin. Jangan seenaknya seperti ini," kata Shin Shui dingin. Lalu dia kembali memukul anak Walikota itu, kali ini dibagian perutnya.

__ADS_1


"Uhukk …" Darah segar mulai keluar. Huan Zi berusaha untuk bangun, dia langsung berlari untuk memberitahu ayahnya, dia sudah tidak peduli dengan tatapan orang-orang.


__ADS_2