
Pertarungan Shin Shui dan Dewa Es Sesat mampu membius orang-orang yang hadir dan melihatnya. Bagaimana tidak, sampai sejauh ini bahkan pemuda biru itu bisa mengimbangi setiap serangan yang dilancarkan oleh Dewa Es Sesat.
Lima puluh jurus sudah berlalu, tapi Dewa Es Sesat belum mampu juga untuk mengalahkan Shin Shui. Jangankan mengalahkan, membuatnya terluka pun belum.
Padahal, maha guru Perguruan Tapak Es itu sudah mengeluarkan jurus-jurus silatnya yang dia ciptakan. Tapi tetap saja tidak ada yang berhasil menembus pertahanan Shin Shui.
Sebaliknya, Shin Shui yang dari tadi bertahan dan terus menangkis setiap serangan, kini perlahan dia mulai berbalik menyerang.
Gerakannya yang begitu cepat tak mampu dilihat oleh orang-orang yang berasal dari kalangan biasa. Bahkan, para pendekar yang hadir pun tak mampu melihat gerakannya secara jelas. Mereka hanya bisa melihat bayangan biru yang berkelebat kesana-kemari.
Rasanya, pertarungan dahsyat ini lebih tepat disebut pertarungan antar bayangan daripada disebut pertarungan antar pendekar tingkat tinggi.
Shin Shui terus melancarkan pukulan-pukulan maut yang dia miliki dengan dorongan tenaga dalam yang dahsyat. Bahkan, pemuda biru itu sudah menyalurkan tenaga sejati ke seluruh tubuhnya.
Karena menghadapi Dewa Es Sesat bukanlah perkara mudah. Mengingat bahwa tingkat pelatihan berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap enam akhir. Setengah langkah lagi akan mencapai tahap tujuh.
Jadi, bukanlah hal mudah untuk merobohkan pendekar tua yang memiliki perawakan tubuh tinggi tegap tersebut. Mau tidak mau Shin Shui pun harus mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Hujan pukulan terus dia berikan tanpa henti kepada lawannya tersebut. Setiap pukulan bahkan bisa dengan mudah menghancurkan batu karang besar sekalipun. Tapi kali ini, dihadapan Dewa Es Sesat, pukulannya itu terlihat tidak berarti sama sekali.
Seratus jurus lebih sudah terlewati, tapi keduanya belum memperlihatkan kelelahan sedikitpun. Bahkan keduanya malah semakin ganas bagaikan dua ekor singa terluka yang sedang bertarung.
__ADS_1
Suatu ketika, saat Shin Shui terus memberikan pukulan beruntun kepada Dewa Es Sesat, pendekar tua itu mencoba untuk menahan pukulannya. Dan sesuatu diluar dugaan pun terjadi.
Keduanya terpental beberapa tombak ketika kedua tangan mereka beradu. Shin Shui dan Dewa Es Sesat merasakan hal yang sama, yaitu keduanya merasa tangan mereka bergetar dan panas.
Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing dari pendekar itu benar-benar memiliki tenaga dalam yang berjumlah besar.
Dewa Es Sesat sendiri dibuat sangat kaget, karena sungguh, ini pertama kalinya dia melihat seorang pendekar muda yang begitu kuat seperti Shin Shui. Harus dia akui bahwa hatinya sedikit gentar.
Karena memang, julukan 'bocah gila' bukanlah omong kosong belaka. Dewa Es Sesat bisa merasakan bahwa pemuda biru itu benar-benar gila. Gila karena memiliki tenaga dalam yang mengerikan dalam usia yang masih sangat muda.
"Harus aku akui, bahwa kau memang sangat tangguh. Tapi bukan berarti bahwa aku takut padamu," kata Dewa Es Sesat sambil menyalurkan hawa murni kepada kedua telapak tanganya.
"Akupun kagum kepadamu orang tua. Aku sungguh tak menyangka bahwa di kota ini ada pendekar tua yang berkepandaian tinggi. Tapi itu juga bukan berarti bahwa aku tidak bisa membunuhmu," kata Shin Shui dengan dingin.
Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang membuat orang tertegun. Hawa dingin mulai dirasakan semua orang itu. Bahkan angin yang mulai berderu pun tak kalah dinginnya.
Sehingga orang-orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang kuat, akan dibuat mengigil karenanya. Terpaksa mereka harus mundur lebih jauh dan mengambil jarak supaya tidak terlalu terkena efeknya.
Dewa Es Sesat mulai mengalami perubahan. Perlahan dan secara tiba-tiba, sembilan bola es yang berukuran sebesar kepala muncul mengelilingi dirinya.
Dimana kesembilan bola es itu memancarkan hawa yang sangat dingin dan mengeluarkan aura yang menekan semua orang, kecuali Shin Shui.
__ADS_1
Inilah jurus yang ditakuti oleh para pendekar diluar sana yang dimiliki oleh Dewa Es Sesat. Jurus itu bernama "Sembilan Bola Dewa Es". Dimana masing-masing dari bola tersebut bisa digerakan sesuai perintahnya sendiri.
Shin Shui pun tak mau kalah, pemuda biru itu mengalirkan seluruh tenaga sejatinya ke seluruh tubuh dalam jumlah yang lebih besar lagi. Kalung Kristal Halilintar tiba-tiba bercahaya semakin terang.
Energi berwarna biru mulai menyelimuti seluruh tubuhnya. Bahkan sekarang, penampilannya bukan lagi seperti manusia. Melainkan lebih mirip sebagai Dewa Halilintar, karena seluruh tubuhnya selalu mengeluarkan kilatan. Tak lupa juga sepasang sayap halilintar keluar dan menambah kesan kegagahannya.
Langit mendadak gelap. Gemuruh halilintar mulai menggema menghiasi cakrawala. Angin berderu kencang membawa hawa kematian.
"Mari kita mulai. Aku yang kalah, atau kau yang tewas …" kata Shin Shui dengan suara yang sangat berwibawa. Suara gemuruh halilintar mengiringi setiap perkataannya.
Kali ini Shin Shui menyerang lebih dulu dan tanpa menunggu jawaban dari lawannya. Hanya satu tarikan nafas, Shin Shui sudah tiba dihadapan Dewa Es Sesat dan sudah siap untuk memberikan serangan lagi.
Pendekar tua itu sedikit kaget, tapi secepat kilat dia menguasi diri. Sehingga ketika Shin Shui memberikan serangan pukulan, secara refleks bola-bola es itu melindungi dirinya dari bahaya.
Karena pukulannya yang teramat cepat, Shin Shui tidak bisa lagi membatalkannya. Sehingga tangannya memukul bola es itu. Dan betapa kagetnya ketika dia merasa seperti memukul sebuah baja yang sangat kuat. Bahkan dari pukulannya menimbulkan suara yang sangat nyaring bagaikan dua baja beradu.
Shin Shui melompat mundur ke belakang dan mengambil jarak. Pemuda biru itu merasakan betapa tangannya seperti sangat ngilu dan mati rasa karena ada hawa dingin yang menyerangnya dari dalam.
"Hahaha … kau kaget? Tidak ada yang bisa dengan mudah untuk mengalahkan jurus Sembilan Bola Dewa Es ini. Yang bisa mengalahkannya hanyalah mereka yang berada diatasku. Sedangkan kau, jangan bermimpi … hahaha …" kata Dewa Es Sesat sambil tertawa mengejek. Dari suara tawanya saja mengandung hawa yang dingin menusuk tulang.
Shin Shui tidak menjawab, dia kembali menyerang dengan ganas. Pukulan tangan kanan dan kirinya sudah kembali siap menghancurkan lawan, bahkan kali ini kedua kakinya pun turut andil.
__ADS_1
Setiap serangannya mengandung hawa yang panas dan mencekam, tapi semua itu masih bisa ditahan oleh Dewa Es Sesat. Bahkan dengan setia bola es itu terus melindungi pemiliknya.
Meskipun kekuatan Shin Shui mengerikan, tetap saja dia merasa kesulitan untuk mengalahkan Dewa Es Sesat itu. Bukan hanya karena pelatihan yang sedikit lebih unggul, melainkan karena banyaknya pengalaman yang sudah dilalui oleh pendekar tua tersebut.