Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Mata Malaikat Pencabut Nyawa


__ADS_3

Orang yang dipanggil kepala tetua itu dengan tenang menghindari serangan yang datang. Kedua orang yang diduga petinggi dari masing-masing kubu sudah bertarung kembali.


Melihat pemimpin mereka bertarung, serempak anggota yang lain pun bertarung kembali dengan lawannya masing-masing.


Pertarungan sudah dilanjut kembali dan berjalan semakin seru. Jurus demi jurus sudah dikeluarkan oleh masing-masing mereka.


Tapi sampai saat ini belum ada juga yang terluka, karena kedua jurus mereka pun terlihat sama. Yang membedakan hanyalah dari kekuatan tenaga yang keluar.


Jika orang yang disebut kepala tetua tadi agak lemah, sedangkan orang yang membentak tadi terlihat sedikit lebih unggul.


Bunga kembang api nampak berpijar ketika senjata mereka beradu. Suara yang cukup ramai itu memecah keheningan malam. Semakin lama, pertarungan mereka semakin ganas dan sepertinya akan mencapai puncak.


Shin Shui belum bertindak, dia masih berusaha untuk mengamati situasi. Pemuda biru itu tidak mau gegabah, apalagi menurut penilaiannya ia yakin bahwa ini adalah pertarungan antar sesama anggota sekte.


Jika benar, pastilah sudah terjadi sesuatu diantara mereka sehingga melakukan pertarungan seperti ini. Tapi masalahnya entah apa.


Udara disana terasa sedikit sesak. Ternyata benar lagi dugaan Shin Shui, pertarungan sudah mencapai puncak. Khususnya merka yang memimpin masing-masing kubu.


Kedua orang itu saling serang dengan jurus pedang yang mereka kuasai. Gerakan pedangnya amat lihai dan cepat. Setiap serangan mengandung tenaga dalam cukup tinggi.


"Pedang Membelah Daun …"


"Pedang Menebas Batu Karang …"


"WUSHH …"

__ADS_1


Keduanya lalu melesat dan beradu jurus ditengah-tengah hingga menimbulkan suara cukup keras. Untuk beberapa saat, keduanya terkurung dalam kurungan sinar pedang. Hingga akhirnya orang yang dipanggil kepala tetua tadi terpental ke belakang dengan sebuah luka dipundaknya.


"Hahaha … dengan kemampuan seperti ini kau ingin memimpin sebuah sekte? Sungguh tidak tahu malu," kata orang tadi sambil mengejek.


"Li Bai, kau sungguh keterlaluan. Daripada aku harus menyerahkan sekte Daun Hijau kepada manusia busuk sepertimu, lebih baik aku mati membela sekte leluhurku ini," kata kepala tetua itu sambil memegangi pundak sebelah kanan yang terluka.


"Hahaha … baik, baik. Kau yang memaksaku, sepertinya aku memang harus membunuhmu lebih dulu," kata orang yang dipanggil Li Bai sambil tertawa dan siap menyerang.


"Bersiaplah untuk bertemu Raja Akhirat …"


"WUSHH …"


Li Bai kembali melesat dengan pedang yang sudah siap menebas leher lawan. Dia sudah yakin bahwa kepala tetua itu tidak akan bisa menghindari serangannya ini.


"TRANGG …"


Pedang orang bernama Li Bai beradu dengan benda yang lebih keras. Dia lalu mundur ke belakang. Ternyata benar dugaannya, sesuatu yang lebih keras itu merupakan sebatang pedang. Pedang yang mengeluarkan cahaya biru.


Seperti pemiliknya, sekarang didepan Li Bai sudah berdiri seorang pendekar yang masih muda dengan pakaian serba biru dan ada burung phoenix biru dipundaknya. Shin Shui, tak lain pendekar yang dimaksud adalah dirinya.


Melihat kedatangan orang luar, mendadak pertarungan para anggota lainnya terhenti. Mereka lalu kembali ke tempatnya masing-masing sambil bersiap siaga.


"Siapa kau bocah? Jangan ikut campur urusanku, pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu," kata Li Bai memandang remeh kepada Shin Shui.


"Namaku tidak pantas diketahui olehmu. Aku tidak akan ikut campur jika kau bertindak jantan. Seorang pendekar pedang tidak akan melempar jarum rahasia ketika bertarung dengan lawannya," kata Shin Shui.

__ADS_1


Li Bai tertegun. Bagaimana ada orang yang bisa melihat bahwa dirinya melempar jarum disela pertarungannya? Rasanya sunggu tidak dapat dipercaya.


"Kau jangan menuduhku bocah. Apa kau juga komplotan kepala tetua pengecut itu? Sungguh, memalukan," katanya.


"Tidak usah pura-pura bodoh. Apa kau pikir aku tidak bisa melihat kecurangan itu? Maaf, mataku seperti mata burung phoenix ini," balas Shin Shui sambil mengelus-elus kepala phoenix biru.


"Keparat!!! Serang bocah sombong ini," kepada Li Bai menyuruh sembilan belas anak buahnya untuk menyerang Shin Shui secara bersamaan.


Kesembilan belas anak buah Li Bai sudah bersiap untuk menyerang Shin Shui. Menurut pandangan matanya, kesemua bawahan itu hanyalah berada pada tingkatan Pendekar Surgawi tahap satu.


Tentu bukanlah hal sulit bagi Shin Shui untuk membunuh mereka. Karena itulah, dia berniat untuk mencoba menggunakan jurus barunya yang diberikan oleh Lao Yi ketika dia berada di Hutan Kematian.


Kesembilan belas anak buah Li Bai sudah maju menyerang dengan mengacungkan pedang. Tapi dengan santainya Shin Shui memasukan Pedang Halilintar lagi, lalu dia mulai tersenyum kepada para penyerangnya.


Shin Shui mulai memejamkan matanya lalu dibuka dengan sedikit hentakan. Dan ketika sudah dekat …


"Mata Malaikat Pencabut Nyawa …"


"SRINGG …"


Semua penyerang mendadak terhenti seketika itu juga. Mereka sama sekali tidak bergerak, seperti halnya sebuah patung.


Lalu tiba-tiba, satu-persatu dari mereka mengigil tubuhnya dan memucat wajahnya. Tak lama kemudian mereka roboh satu-persatu dengan mata terbelalak. Mati.


Li Bai yang melihat hal ini, tanpa basa-basi lagi dia segera lari dari sana. Dia tidak memikirkan apa-apa lagi kecuali keselamatan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2