Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Perang Besar III: Pertarungan Empat Petinggi


__ADS_3

Pendekar Halilintar itu bergerak bagaikan gelombang kesana-kemari. Gerakannya yang begitu cepat sangat berbahaya bagi pasukan musuh. Terbukti sekarang, entah sudah berapa banyak nyawa yang dia ambil.


Saat ini Shin Shui sudah lebih menyeramkan daripada pembunuh bayaran sekalipun. Rasanya, dia lebih pantas disebut sebagai 'Malaikat Kematian'.


Karena kemanapun dirinya bergerak dan pedangnya diayunkan, maka selama itu akan terdengar jeritan kematian dari pasukan musuh.


Perang terus berlanjut tanpa henti. Dua jam sudah berlalu, korban yang gugur dari kedua belah pihak sudah mencapai ribuan banyaknya.


Agaknya memang jalan yang paling tepat adalah menyingkirkan para pasukan terlemah lebih dahulu supaya tidak menjadi pengganggu ketika Pendekar tingkat tinggi bertarung nanti.


Begitupun dengan ketua utama seluruh aliansi tiga sekte besar aliran hitam, yaitu Raja Iblis Merah. Sekarang dia sedang mengobrak-abrik pasukan aliansi aliran putih dengan jurus-jurus energi yang dia keluarkan.


Energi yang hitam pekat dan dahsyat itu menyambar kesana-kemari tiada henti. Hawa di arena perang semakin tidak karuan. Bau busuk dari racun dan bau amis sudah menyengat hidung mereka.


Di sisi lain, tiga pemimpin aliansi aliran putih yaitu Yuan Shi, Li Xu dan Ying Mengtian yang merupakan kepala tetua dari masing-masing sebuah sekte besar sedang bertarung dengan sengit melawan wakil kepala tetua dan seorang tetua dari sekte Elang Hitam Merah.


Pertarungan mereka berjalan dengan seru dan menegangkan. Li Xu dan Yuan Shi melawan wakil kepala tetua sekte Elang Merah, sedangkan Ying Mengtian melawan seorang kepala tetua lagi.


Meskipun tingkat pelatihan wakil kepala tetua sekte Elang Merah setara dengan Li Xu dan Yuan Shi, tapi dari segi kekuatan jelas berada diatasnya.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, setiap kepala tetua dan wakil kepala tetua dari tiga sekte besar aliran hitam, selalu memiliki jurus rahasia yang mengerikan.


Karena selain memang alirannya hitam, mereka juga bersekutu dengan para iblis. Tentu saja kekuatannya bisa berkali lipat lebih dahsyat dari mereka yang tingkatannya setara.


Sekarang Li Xu dan Yuan Shi sudah beradu serangan dan menyerang dari dua sisi. Keduanya sama-sama memakai pedang pusaka. Begitupun dengan musuh mereka.


Ketiga benda pusaka itu bertemu hingga menimbulkan percikan api, suara pedang beradu membuat bising telinga. Serangan demi serangan sudah dilancarkan oleh Li Xu dan Yuan Shi.


Tapi hingga sekarang musuh mereka belum juga terdesak. Bahkan secara perlahan keadaan mulai berbalik, musuh mereka yang menggunakan dua buah pedang berwarna hijau itu menyerangnya dengan ganas.


Gerakan pedang itu sungguh sangat cepat, sehingga yang terlihat hanya sinar hijau yang berkelebat sana-sini. Jika lawannya bukan kedua kepala tetua, tentu daritadi pun keduanya sudah menemui ajal.

__ADS_1


Li Xu dan Yuan Shi semakin lama semakin terdesak. Goresan pedang sudah mengoyak baju dan tubuhnya. Darah sudah keluar perlahan-lahan dari luka itu. Seiring bertambahnya waktu, kedua kepala tetua itu semakin merasa lemas dan pusing.


Ternyata benar dugaan mereka, dua buah pedang pusaka itu mengandung racun. Sehingga setiap kali pedangnya menggores keduanya, maka racun yang sangat berbahaya akan memasuki tubuh.


Karena merasa tubuhnya semakin lama semakin lemas, Li Xu dan Yuan Shi pun akhirnya mundur beberapa langkah ke belakang. Keduanya lalu menyalurkan tenaga sejati ke seluruh tubuh mereka untuk menekan racun yang mulai menjalar.


Tiga petinggi dari masing-masing sekte itu sudah mempunyai lukisan pedang di tubuhnya, tapi tetap, yang paling parah menerima luka adalah Li Xu dan juga Yuan Shi.


"Kepala tetua Li Xu, lebih baik kita pergunakan jurus pamungkas yang kita miliki. Jika diperlama, maka nyawa kita akan dalam bahaya," kata Yaun Shi kepada Li Xu.


"Kau benar, baiklah … mari kita lakukan hal itu," jawab Yuan Shi.


Kedua kepala tetua itu lalu memejamkan mata mereka sambil menghimpun tenaga sejati dan tenaga dalam lebih banyak lagi. Tak perlu waktu lama, hanya sepersekian detik saja sudah terkumpul pada titik pusat.


"Pedang Dewa Emas Pembelah Cakrawala …"


"Badai Es Kesengsaraan …"


"WUSHH …"


Tak lama tiba-tiba muncul badai es yang menyerang ke arah wakil kepala tetua Elang Merah dengan secepat kilat. Karena dia tahu ini jurus pamungkas, maka diapun tidak bisa memandang remeh lagi.


"Raja Elang Mencengkram Gunung …"


"WUSHH …"


"KEAKKK …"


Sebuah energi berwarna merah darah dan membentuk elang besar memakai mahkota muncul dengan tiba-tiba dari langit. Ketiga jurus tingkat tinggi mulai melesat. Lalu tak lama setelah itu …


"DUARR …"

__ADS_1


Ledakan dahsyat terdengar diarena pertarungan ketiganya. Ketiga petinggi itu terpental jauh ke belakang, semuanya terluka parah. Tapi Li Xu dan Yuan Shi masih mampu berdiri meskipun darah semakin banyak keluar.


Sedangkan wakil kepala tetua sekte Elang Merah, dia hanya membelalakan mata sesaat sebelum akhirnya tewas dengan sekujur tubuh tertusuk es yang tajam serta ada sebuah luka pedang yang membelah lurus. Sehingga dari ujung kepala kebawah terlihat terbelah sedikit dalam.


Di sisi lain, pertarungan antara Ying Mengtian melawan tetua sekte Elang Merah pun begitu seru. Keduanya sudah bertarung hingga dua puluh jurus lebih.


Seluruh tubuh kedua tetua itu sudah dipenuhi luka yang cukup parah. Tapi keduanya masih sama-sama bersemangat untuk melanjutkan pertarungan.


Agaknya mereka sudah tidak mempedulikan rasa sakit yang saat ini sedang melanda tubuh mereka. Yang terpenting dihati mereka saat ini hanyalah satu, yaitu harus bisa membunuh lawannya.


Ying Mengtian bertarung dengan menggunakan sebuah baja pilihan berbentuk cakar, sedangkan lawannya menggunakan tombak dengan batang berwarna merah darah.


Serangan demi serangan sudah diberikan masing-masing dari keduanya, setiap serangan mereka begitu berbahaya karena selain mengandung tenaga dalam tinggi, juga diselipkan jurus-jurus yang bahaya pula.


Tiga puluh jurus lewat, tapi kedua tetua itu masih tetap bersikeras untuk terus bertarung. Padahal keduanya sudah menderita luka yang serius, tapi semua luka bisa kalah oleh rasa semangat.


Tepat ketika pertarungan mencapai jurus ketiga puluh enam, Ying Mengtian mundur sepuluh langkah ke belakang untuk mengambil ancang-ancang.


Lalu dengan segera dia menyerang kembali dengan gerakan yang lebih hebat.


"Auman Serigala Putih … Cakar Menggores Langit …"


"WUSHH …"


Suara angin menderu kencang berbarengan dengan suara serigala yang menggetarkan hati. Para pasukan yang disekitar tak kuat menahan gelombang suara itu, sehingga ada beberapa pasukan yang tewas dengan darah keluar dari telinga.


Tetua sekte Elang Merah panik dengan kejadian ini, tubuhnya seperti dipaku dan sulit digerakan. Dia berniat mengeluarkan jurus, tapi sayangnya terlambat.


"Ahhh …"


Tahu-tahu Ying Mengtian tiba-tiba muncul didepannya dan langsung memberikan dua cakaran sehingga merobek dada tetua itu. Matanya terbelalak, lidahnya terjulur lalu diam untuk selamanya. Mati.

__ADS_1


__ADS_2