
Pertarungan jurus pedang terkuat semakin sengit. Sejauh ini belum ada yang nampak kewalahan, begitu pun Shin Shui. Pemuda itu terlihat bisa mengimbangi gerakan dan serangan lawannya.
Ratusan jurus sudah terlewat, semakin lama gerakan Shin Shui semakin bertambah cepat dan lebih cepat. Keempat tetua itu kaget bukan main ketika pemuda yang menjadi lawannya bisa bertahan sampai sejauh ini, bahkan tanpa terluka.
Keempat tetua sekte Macan Kumbang mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Nafas mereka sedikit memburu, keringat mulai membasahi kelima para pendekar itu.
'Sungguh, pemuda ini sudah menguasi teknik pedang tingkat tinggi. Aku tidak menyangka bahwa dia adalah monster, isu yang beredar ternyata bukan bualan belaka.' batin salah satu tetua.
Dia sungguh kaget karena melihat kelincahan dan kecepatan Shin Shui dalam bermain pedang. Menurut asumsinya, hanya pendekar yang sudah melewati ribuan pertarungan saja yang bisa melakukan hal seperti itu.
"Kita ubah strategi, percuma saja jika kita menyerangnya hanya mengandalkan permainan pedang. Kepiawaiannya dalam bermain pedang tidak bisa dianggap enteng, selama ini aku hanya melihat dua orang yang bisa melakukannya. Yang pertama adalah sang legenda, Lao Yi si Pendekar Guntur, dan yang kedua adalah bocah ini." gumam salah satu ketua.
Mereka sedikit kebingungan, karena setahu mereka hanyalah Pendekar Guntur, Lao Yi yang bisa melakukan gerakan seperti apa yang diperagakan Shin Shui.
"Tunggu … apa mungkin bocah itu murid dari Pendekar Guntur? Bukankah gelar keduanya memiliki arti yang sama?" timpal salah satu diantara mereka.
"Tidak ada waktu untuk berfikir seperti itu. Semuanya sudah terlambat, yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bisa mengalahkan dan membunuhnya." timpal rekan tetua tersebut.
Keempat tetua langsung berhenti menyerang menggunakan pedang, mereka menyarungkan pedangnya kembali. Saat ini tetua dari sekte Macan Kumbang tersebut berniat untuk menyerang Shin Shui menggunakan jurus-jurus terkuat yang mereka miliki.
Tetua tersebut yakin jika dengan menggunakan jurus terkuat dan menyerang Shin Shui secara bersamaan, maka kemenangan akan berpihak kepada mereka. Saat ini, belum ada pergerakan diantara kelima pendekar tersebut.
Semuanya nampak sedang mengukur kekuatan lawan dan melihat dimana titik kelemahannya, begitupun Shun Shui. Dia juga sedang menganalisa langkah apa yang akan dilakukan oleh musuhnya.
"Sampai kapan kalian akan berdiam seperti ini tua bangka? Apa kalian takut padaku yang hanya seorang diri?" kata Shin Shui memecah keheningan.
Dia sungguh kesal karena sudah cukup lama para tetua itu berdiam diri. Shin Shui sudah tidak sabar ingin mencabik-cabik iblis berkedok manusia tersebut.
"Sombong sekali kau. Baik … kita akan mulai pertarungan ini lagi hingga titik terakhir," balas tetua sekte Macan Kumbang.
"Aku terima tantanganmu. Jadi maaf, sekarang aku tidak akan bermain-main lagi. Jangan menyesal karena sudah mengganggu ketengan Pendekar Halilintar," kata Shin Shui.
Matanya perlahan mulai mengeluarkan kilatan halilintar. Aura pembunuh yang lebih pekat dari sebelumnya sudah keluar. Seperti biasa, aura pembunuh berwarna hitam itu bercampur dengan aura halilintar yang berwarna biru.
Kali ini mereka menyerang Shin Shui dengan jurus-jurus yang mereka miliki. Shin Shui sedikit kerepotan sekarang, tapi untungnya kecepatan pemuda itu tidak bisa dianggap remeh. Jadi Shin Shui terkadang bisa menghindar dari jurus mematikan milik para tetua sekte Macan Kumbang.
Serangan gabungan dari para tetua sekte Macan Kumbang semakin menggebu ke arah Shin Shui. Suara tumbangnya pepohonan di hutan tersebut mulai terdengar secara beruntun.
__ADS_1
"KRAKK … KRAKK … BOMM …"
"WUSHH …"
Shin Shui terus menghindar sembari menunggu waktu yang tepat untuk membalas serangan para musuhnya. Setelah cukup lama menghindar dan menemukan celah. Pwmuda biru itu langsung mengeluarkan jurus-jurus miliknya.
"Tubuh Halilintar …"
"DUARR …"
Sambaran halilintar menghantam tubuh Shin Shui. Halilintar itu menyambar dengan sangat telak, para tetua yang menyaksikan peristiwa tersebut sedikit kaget. Sebab, kondisi langit saat ini sedng cerah, tapi entah kenapa ada sebuah halilintar yang menyambar.
Kepulan debu akibat sambaran halilintar mulai menipis, dibalik debu tersebut para tetua melihat cahaya biru yang menyilaukan. Beberapa saat kemudian … tubuh pemuda Shin Shui telah dibungkus rapi oleh halilintar.
"Sekarang giliranku orang tua." kata Shin Shui geram. Dia langsung melakukan sebuah gerakan yang tidak dimengerti oleh kepala tetua sekte Macan Kumbang.
"Langkah Kilat … Halilintar Bayangan …"
"WUSHH …"
Shin Shui mendadak menghilang dari pandangan musuh. Belum sempat rasa kebingungannya hilang, para tetua dibuat menjadi lebih kaget ketika Shin Shui sudah berada di depan musuh.
"Halilintar Mengincar Nyawa."
"WUSHH …"
Gerakan Shin Shui mendadak berubah dari sebelumnya, saat ini gerakan pedang pemuda itu sedikit melambat tapi sangat tajam dan membahayakan. Dia terus mengarah ke bagian rawan, pedangnya diayunkan kesana kemari. Kilatan biru membungkus pedang pusaka miliknya.
"WUSHH …"
"TRANG …"
Suara deru angin dan pedang mulai kembali terdengar. Keempat tetua itu sedikit kerepotan, akhirnya salah satu dari mereka yerkena sayatan pedang Shin Shui.
"Ahhh …"
Shin Shui berhasil memberikan luka sayatan yang cukup dalam pada punggung sebelah kiri dari salah satu tetua sekte Macan Kumbang.
__ADS_1
"Kurang ajar …" tetua itu sangat marah ketika pinggangnya mengeluarkan darah yang cukup deras. Dia lalu mundur beberapa jarak untuk menghentikan pendarahan. Setelah berhasil menghentikan pendarahan, dia langsung lebih ganas lagi.
"Ayo kita serang bersama lagi …"
Keempat tetua itu kembali mengelilingi Shin Shui, mereka mulai memperagakan gerakan yang aneh. Cahaya berwarna-warni mulai keluar dari tubuh para tetua itu.
Hawa disana menjadi lebih mencekam, Shin Shui meningkatkan kewaspadaan. Dia merasa seseuatu akan segera terjadi.
"Auman Macan Kumbang …"
"Tendangan Langkah Bayangan"
"Pukulan Tanpa Wujud …"
"Amarah Macan Kumbang …"
Keempat tetua itu menyerang Shin Shui dengan jurus-jurus kuat yang tersisa. Suara dan hembusan angin serasa membawa hawa kematian, Shin Shui terdiam sembari memikirkan langkah apa yang akan diambil.
Saat jurus mereka sudah hampir sampai ke pemuda biru itu, dia langsung merentangkan tangannya. "Perisai Halilintar …"
"DUARR …"
Sebuah perisai yang terbuat dari halilintar dengan bentuk seperti gerbang muncul dan membungkus dirinya. Shin Shui berusaha menahan serangan mematikan itu dengan Perisai Halilintar.
Shin Shui sengaja melakukannya, karena jika buru-buru membalas serangan musuhnya dia tidak akan mampu, apalagi serangan tersebut datang dari berbagai arah, pikirnya.
"BOMM …"
"WUSHH …"
Dentuman keras dan angin menyapu pohon-pohon disekitar tempat tersebut. Bahkan angin yang tercipta karena peraduan jurus itu menghempaskan batu-batu besar. Cahaya menyilaukan memancar dan menerangi hutan, Shin Shui yang berada didalamnya berteriak dengan sangat keras.
"Ahhh …"
Cahaya itu perlahan meredup, angin pun mendadak hilang mengikuti jurus-jurus yang lenyap. Shin Shui yang tadi ada didalamnya kini terpental jauh ke belakang, pemuda itu menabrak beberapa puluh pohon.
Dadanya terasa remuk, tulang rusuk seperti patah, bahkan Shin Shui muntah darah cukup banyak. "Ughh … uhukk … uhukk …."
__ADS_1
"Siall … semua tubuhku terasa sakit," kata Shun Shui sembari menahn rasa sakit yang kini menerpa dirinya.