
"Benar, aku memang pemilik kitab itu. Maaf biksu, memangnya kenapa?" tanya Shin Shui penasaran.
"Bagus, kalau kau memang benar pemilik dari Kitab Halilintar. Secara tidak langsung berarti kau murid dari pemilik sebelumnya, dan karena kau memiliki perangai baik, maka aku yakin kau bisa mencapai tujuanmu," kata biksu Cian Lie Bun.
"Benar, aku muridnya. Lalu, maksud biksu itu apa ya? Aku belum faham," ucap Shin Shui yang masih belum tahu kemana arah bicara maha guru itu.
"Aku mendapatkan sebuah tanda, bahwa era kekacauan akan dimulai sebentar lagi. Aku juga merasakan bahwa kondisi tanah air kita ini begitu sangat kacau. Hanya saja semuanya belum nampak. Tapi sebentar lagi, perang besar dan perebutan kekuasaan akan segera dimulai. Semua orang-orang akan berperang dengan keyakinan dan tujuannya masing-masing."
"Dan aku yakin, yang mampu menghentikan era kekacauan hanyalah kau seorang Shui'er. Kau sudah terpilih menjadi penyelamat kekaisaran Wei. Karena itu aku menyuruhmu kesini, ada hal yang begitu penting yang ingin aku bicarakan padamu," ucapnya.
"Kiranya masalah apakah itu biksu?"
__ADS_1
"Seperti yang diceritakan muridku padamu. Aku memegang Kitab Bayangan, salahsatu kitab yang berada pada urutan kelima kitab tanpa tanding. Aku ingin kau mempelajari secara sempurna kitab itu dan juga sempurnakan Kitab Halilintar. Kau tidak akan bisa menghentikan era kekacauan jika hanya mengandalkan kekuatanmu yang sekarang," kata biksu Cian Lie Bun.
Apa yang dikatakan oleh biksu Cian Lie Bun memang ada benarnya. Dengan hanya mengandalkan kekuatan Shin Shui yang sekarang ini, dia sama sekali tidak akan bisa menghentikan era kekacauan.
Terlebih karena banyak pendekar-pendekar dengan kepandaian tinggi. Apalagi seperti yang kita ketahui bahwa beberapa tahun lalu, ada sebuah kabar tentang pendekar misterius yang membagi-bagikan kitab pusaka kepada sekte-sekte aliran hitam.
Belum lagi efek dari sekte Sumber Daya sehingga melahirkan Pendekar-pendekar Dewa yang baru. Sedangkan kekuatan Shin Shui saja sekarang baru mencapai Pendekar Dewa tahap enam. Meskipun mampu untuk menghadapi perang besar, tapi tidak akan ada jaminan untuk dia mampu melawan semua musuh-musuh yang lebih kuat lagi.
Apalagi jika kepala tetua dan tetua dari tiga sekte terbesar aliram hitam turun tangan, maka harapan untuk memenangkan perang besar dan menciptakan perdamaian tidak akan bisa tercapai.
Tapi tentu itu bukanlah hal yang mudah, meskipun hanya terpaut satu tingkatan jika dari Pendekar Dewa tahap enam, tapi semakin tinggi pelatihan maka semakin sulit juga untuk mencapainya. Meskipun memakai bantuan sumber daya.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus aku lakukan jika begitu kenyataannya biksu? Jika tidak bisa hentikan maka bisa dipastikan di negeri ini tak akan lagi yang namanya perdamaian," kata Shin Shui sedikit cemas.
"Karena itulah aku menyuruh dirimu untuk mempelajari Kitab Bayangan. Dengan adanya kitab itu, setidaknya kekuatanmu akan bertambah kuat beberapa kali lipat. Tinggal tunggu beberapa waktu lagi, aku yakin kau bisa memiliki Kitab Tapak Penghancur. Jika kau juga sudah berhasil memiliki Kitab Tapak Penghancur, maka era kekacauan sepenuhnya bisa kau kendalikan. Karena jika begitu, artinya kau sudah bisa mengalahkan Raja Iblis Merah. Dimana dia adalah dalang dari rencana keji ini," ucap biksu Cian Lie Bun menjelaskan.
"Jika itu adalah jalan satu-satunya, maka aku pasti akan mempelajari Kitab Bayangan dan juga menaikan pelatihanku secepat yang aku bisa," jawab Shin Shui dengan tegas.
Suasana disana mendadak tegang. Mereka yang hadir bergelut dengan pikirannya masing-masing. Dimana mereka berpikir dan juga membayangkan jika era kekacauan tidak bisa dihentikan, maka entah bagaimana kehidupan di kekaisaran Wei ini.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya membayangkan dan memikirkan keburukan. Saat ini lebih baik kita berusaha untuk mencegah era kekacauan itu. Kau harus bertaruh nyawa Shui'er. Aku sudah tua, aku tidak bisa membantu lebih kecuali memberikan Kitab Bayangan ini dengan harapan kau akan mempelajarinya dengan baik," kata biksu Cian Lie Bun sambil memberikan sebuah kitab kuno.
Kitab itu berwarna kuning lusuh. Shin Shui menerimanya dengan baik, lalu perlahan dia mencoba membuka lembar per lembar. Ternyata lembaran kertasnya juga sudah terasa kaku, mungkin karena sudah sekian lama tidak pernah dibaca.
__ADS_1
Bagi orang awam bisa saja mereka pusing akan kitab ini, tapi bagi Shui Shui sama sekali tidak. Justru dia malah senang bahwa kekuatannya akan bertambah kuat dan kuat lagi. Apalagi jika dia sudah berhasil menguasai seluruh ajaran Kitab Halilintar.
"Terimakasih karena biksu sudah mempercayaiku untuk mempelajari Kitab Tanpa Bayangan ini. Aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga dan tentunya aku akan bertaruh nyawa saat perang besar terjadi nantinya. Aku melakukan semua ini tak lain karena bakti kepada orang tua, guru, dam juga tanah air," kata Shin Shui, matanya sambil menatap tajam ke langit. Sinar matanya melambangkan bahwa pemuda itu memiliki tekad yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.