
Shin Shui dan Kwei Moi pun kini sudah melanjutkan perjalanannya lagi. Tapi tidak langsung berlari, mereka memilih untuk berjalan santai karena memang perutnya terasa masih kenyang.
Keduanya saling memandangi setiap sudut yang ada di desa itu. Kadang diselingi juga dengan candaan sebagai selingan supaya tidak sepi.
Setelah perutnya sudah merasa berhasil mencerna semua makanan tadi, barulah Shin Shui dan Kwei Moi kembali berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Sehingga hanya beberapa saat saja kedua pendekar muda tersebut sudah berada jauh dari desa tadi. Saat ini keduanya berada disebuah jalan yang agak sepi. Paling hanya satu dua orang saja yang lewat.
Shin Shui dan Kwei Moi pun kembali berjalan biasa, mereka lebih memilih ini karena tak lain pemandangan disekitar jalan sepi itu lumayan indah juga.
Dipinggir jalan itu banyak pohon-pohon yang agak tinggi. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Daun-daun kering yang jatuh dibawah pohonnya menjadikan keindahan tersendiri. Angin yang sepoi-sepoi pun seperti menambah kenyamanan akan keindahan seperti ini.
Cukup lama keduanya menikmati pemandangan yang terbilang indah ini. Sampai-sampai keduanya tidak menyadari bahwa mereka sedang dibuntuti oleh seseorang dari belakang dan jaraknya agak jauh.
"Apakah kita akan tetap seperti ini saja dan hanya membuntuti mereka? Bukankah itu adalah wanita yang diinginkan oleh guru Dewa Es Sesat?" tanya si tinggi kurus.
"Tenang saja, kita ikuti mereka dulu. Didepan sana mereka akan melewati jalan hutan yang sepi. Disitu kita akan mencegat mereka. Benar, itu adalah Kwei Moi, wanita yang diinginkan oleh guru. Bagaimanapun caranya kita harus bisa membawa dia ke Perguruan Tapak Es," balas si gendut.
"Tentunya sesudah kita berhasil membunuh pemuda yang kini bersamanya?"
"Tentu saja. Kau tenang saja, aku yakin kita bisa mengalahkan pemuda asing itu. Lagi pula dia memiliki kepandaian yang tidak tinggi, paling setara ataupun dibawah Kwei Moi," ucap si gendut.
Memang benar, sebelum Shin Shui melanjutkan perjalanannya beberapa waktu lalu, pemuda biru itu selalu menyembunyikan tingkat pelatihan aslinya. Bahkan dia memanipulasi tingkat pelatihannya menjadi Pendekar Dewa tahap tiga.
Dan tentang kedua pendekar agak tua yang meminta dibelikan arak kepada Shin Shui, sebenarnya mereka adalah orang-orang suruhan dari Dewa Es Sesat.
Lebih tepatnya lagi kedua pendekar yang sudah agak tua itu merupakan murid sekaligus pengajar di Perguruan Tapak Es. Beberapa waktu lalu saat mendengar bahwa Kwei Moi melarikan diri, Dewa Es Sesat menyuruh ketujuh murid atau lebih tepat anggota perguruan untuk mengejar Kwei Moi.
__ADS_1
Namun karena beberapa hari mereka tak kunjung juga pulang dan tak ada kabar, akhirnya Dewa Es Sesat menyuruh kedua murid intinya untuk menyusul dan mencari Kwei Moi.
Entah suatu kebetulan atau apa sehingga mereka bisa menemukan pendekar wanita yang menjadi buronan perguruannya itu di tempat makan tadi.
Karena alasan itulah kedua murid inti dari Dewa Es Sesat mengikuti Shin Shui dan Kwei Moi. Dengan pura-pura terlebih dahulu mendekati Shin Shui dan minta dibelikan arak sekaligus menanyakan kemana tujuanya.
Memang tepat dugaan kedua pendekar suruhan Dewa Es Sesat itu. Sekarang Shin Shui dan Kwei Moi sudah memasuki jalan hutan. Dimana keadaan disana lebih sepi daripada jalan tadi.
Tidak ada orang yang lewat. Hanya suara binatang saja yang terdengar bising. Jalan itu tidak besar, paling hanya selebar dua meter saja.
Shin Shui yang semua inderanya sudah terasah tajam, kini sudah bisa merasakan tentang adanya sesuatu yang ganjil. Dengan tiba-tiba pemuda biru itu menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Shin Shui?" tanya Kwei Moi yang sedikit heran karena melihat tiba-tiba Shin Shui berhenti dan pandangan matanya berkeliling.
"Aku merasakan ada sesuatu. Seperti ada yang mengikuti kita dari belakang," kata Shin Shui sambul memicingkan matanya.
Kwei Moi sedikit terkejut mendengarkan perkataan Shin Shui. Wanita itupun turut memandang berkeliling seperti halnya pemuda biru itu. Tapi tidak ada yang bisa dia temukan, bahkan merasakan apa yang dirasakan Shin Shui pun tidak.
Tepat setelah pemuda biru itu selesai berucap demikian, tiba-tiba saja dua orang pendekar keluar dari semak-semak dan jaraknya tak jauh dibelakang Shin Shui.
"Kalian? Mau apa kalian mengikuti kami?" tanya Shin Shui setelah mengetahui siapa yang mengikuti dirinya dan Kwei Moi.
Kedua pendekar yang tak lain suruhan Perguruan Tapak Es itu segara meloncat dan mendarat tepat didepan Shin Shui.
"Ahhh … tidak tuan muda. Kami tidak bermaksud apa-apa, kami hanya ingin meminta wanita cantik itu," ucap si gendut sambil memandangi wajah cantik Kwei Moi.
"Maksud kalian, Kwei Moi? Hemmm …" tiba-tiba Shin Shui memandangi mereka dengan sedikit tajam.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan dia? Disini tidak ada wanita lagi selain dirinya," kata si tinggi kurus sambil tersenyum menyeringai.
"Hehhh … kau pikir aku ini apa? Jaga ucapanmu pendekar tua. Lagi pula, kau pikir kau siapa?" tanya Kwei Moi yang sudah terpancing emosi.
"Tenang, tenang. Kita bicara baik-baik saja dulu," kata si gendut mendadak so bijak.
"Katakan yang sebenarnya, kalau aku tidak memberikan Kwei Moi kepada kalian, bagaimana?" tanya Shin Shui.
"Tuan muda harus mau,"
"Kalau aku tetap tidak mau?" tanya Shin Shui dan kecurigaannya kepada dua pendekar tua itu semakin besar.
"Kami akan memaksa," jawab si tinggi kurus.
"Hemm … memang kalian siapa berani memaksa kehendak? Lagi pula, apakah kalian kenal dengan Kwei Moi?"
"Tentu saja. Karena memang kami sedang mencarinya," tutur si pendekar gendut.
Kwei Moi sedikit tersentak kaget mendengar pernyataan si gendut itu.
"Mencariku? Jangan bilang bahwa kalian berasal dari Perguruan Tapak Es dan merupakan suruhan Dewa Ea Sesat," ucap Kwei Moi yang langsung khawatir.
"Hahaha … kau memang pandai Kwei Moi. Ternyata selain cantik, kau juga pintar. Pantas saja jika guru sangat menginginkan dirimu sampai-sampai kami harus turun tangan sendiri," kata si gendut tertawa lantang.
"Keparat!!! Sampai kapanpun aku tidak akan sudi diperistri guru kalian. Aku lebih memilih mati daripada menjadi istri iblis sepertinya," timpal Kwei Moi dengan tegas.
"Jangan sekali-kali kau menghina guru kami nona," kata si tinggi kurus sambil memandang tajam Kwei Moi.
__ADS_1
"Perduli setan. Yang jelas sampai kapanpun aku tidak akan sudi,"
"Baik kalau begitu. Jika kau masih bersikeras, maka terpaksa kami akan menggunakan cara kasar supaya kau mau menjadi istri guru," ucap si gendut dengan sedikit emosi.