Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Manusia Terkadang Tak Tahu Diri


__ADS_3

'Bocah ini … siapa dia sebenarnya? Di umur yang masih muda seperti ini pun kekuatannya sungguh mengerikan. Sungguh, ini kali pertama aku menemukan generasi muda sepertinya,' batin si gendut.


Memang benar apa yang dia ucapkan. Mungkin di kekaisaran Wei hanya Shin Shui saja yang bisa mencapai tingkat pelatihan setinggi itu dalam usia yang masih terbilang sangat muda.


Rupanya hal serupa bukan hanya si gendut saja yang merasakannya. Bahkan si tinggi kurus pun demikian, malah dia merasa bahwa hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya.


Kwei Moi tak jauh berbeda, bahkan pendekar wanita itu tak bisa berkata apa-apa ketika melihat Shin Shui bertarung dengan dua pendekar yang memiliki kepandaian tinggi sekaligus.


Di kejadian lalu ketika Shin Shui membantunya, dia hanya berpikir bahwa pemuda itu bisa mengalahkan kelima pendekar mungkin hanya karena mereka kelelahan karena sudah bertarung dengannya terlebih dahulu.


Tapi saat ini, pendekar wanita itu ahirnya bisa membuka matanya lebar-lebar. Ucapan Shin Shui yang akan membantu membebaskan ayahnya bukanlah suatu yang mustahil.


Sebab dia dapat melihat sendiri betapa Shin Shui dengan hebatnya langsung menghadapi dua murid Dewa Es Sesat berbarengan. Ilmu silatnya saja sudah demikian hebat, apalagi jurus-jurus yang mampu menggetarkan langit dan buminya?


Kedua murid Dewa Es Sesat berusaha untuk berdiri kembali. Meskipun rasa sakitnya belum hilang sempurna, tapi mereka tak mau kalah begitu saja.


Keduanya kini sudah berdiri, meskipun agak memaksakan. Nafasnya masih sedikit memburu. Wajahnya pucat. Tapi sorot matanya menggambarkan betapa marahnya mereka kepada pemuda bernama Shin Shui.


'Jika ilmu silat tak bisa melawannya, tak ada jalan lagi selain menggunakan jurus tingkat tinggi,' batin si gendut berkumis baplang.


"Kalian masih punya nyali untuk melawanku? Baiklah. Aku akan meladeni kalian sampai merasa puas. Sekaligus aku juga ingin tahu sampai dimana kekuatan murid langsung Dewa Es Sesat. Tak ada salahnya aku membunuh kalian terlebih dahulu sebelum membunuh gurunya … hahaha …" Shin Shui tertawa lantang ketika melihat dua musuhnya masih bertekad untuk melanjutkan pertarungan.


"Jaga bicaramu bocah. Jangan pernah kau menyebut nama guru kami. Kau boleh menang dalam ilmu silat, tapi belum tentu dengan jurus dan tenaga dalam," ucap si tinggi kurus berusaha untuk meyakinkan dirinya.


"Hahaha … baik, baik. Mari kita lanjutkan saja pertarungan ini sampai ada yang menemui ajal diantara kita," kata Shin Shui dengan 'sombong'.


Ternyata kedua murid Dewa Es Sesat itu sudah benar-benar dibutakan oleh nafsunya sendiri. Mereka tanpa sadar sudah mengantarkan nyawa kepada 'malaikat maut'.


Keduanya mulai mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah yang besar. Hawa dingin seperti di kutub mulai terasa. Bahkan daun-daun pun mendadak ada yang beku. Seketika terlihat butiran es disekitar arena pertarungan.

__ADS_1


Di sisi lain, Kwei Moi pun semakin menjaga jarak dari para pendekar itu. Tak lupa juga dia melindungi diri dengan tenaga dalam supaya mengurangi hawa dingin yang kini melanda area hutan.


Sedangkan Shin Shui sendiri, dia hanya berdiam tanpa bergerak sedikitpun. Tapi tanpa sepengetahuan kedua lawannya, Shin Shui pun menyalurkan tenaga sejatinya langsung. Pemuda biru itu sudah tidak ingin bermain-main lagi.


"Terimalah ajalmu bocah sombong. Kau tidak akan lari dari jurus kami," kata si tinggi kurus.


"Hahaha … manusia memang kadang tak tahu diri. Mereka terkadang dibutakan oleh nafsu sehingga tidak bisa membedakan mana harimau mana kucing. Dengan senang hati, aku sudah bersiap menemui ajal. Itupun jika kalian mampu," jawabnya dengan acuh tak acuh.


Keduanya benar-benar mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah yang besar. Sehingga hawa dingin semakin menjadi. Semakin menusuk tulang.


Tak berselang lama, mereka lalu melakukan sebuah gerakan aneh secara bersamaan. Entah apa yang mereka lakukan, Shin Shui masih memperhatikan keduanya.


"Badai Es Utara …"


"Hujan Pisau Es …"


"WUSHH …"


Tapi bukan hujan air, melainkan hujan es yang sangat tajam dan berbentuk pisau yang runcing. Kecepatan kedua jurus itu sangatlah cepat. Sehingga beberapa saat saja, dua jurus andalan sudah kian dekat jaraknya dengan Shin Shui.


Shin Shui tak tinggal diam. Tiba-tiba dari bawahnya sebuah energi berwarna biru keluar dan mulai menyelimuti dirinya. Sebagian awan menjadi hitam. Gemuruh halilintar mulai terdengar.


"Perisai Halilintar …"


"DUARR …"


Halilintar menyambar dirinya lalu membentuk sebuah perisai yang berdiameter cukup besar. Perisai itu membentuk sebuah kotak. Sehingga seluruh tubuh Shin Shui terlindung dari kedua jurus yang mematikan itu.


Tiba-tiba …

__ADS_1


"DUARR …"


Dua jurus milik murid Dewa Es Sesat menghantam perisai halilintar Shin Shui sehingga menimbulkan suara ledakan yang besar. Pohon-pohon doyong karena ledakan itu.


Kedua murid Dewa Es Sesat itu sudah berpikir bahwa mereka menang. Dan Shin Shui sendiri telah tewas tentunya. Tapi siapa sangka, disaat mereka merasa gembira, tiba-tiba ada sebuah cahaya biru yang melesat dengan cepat ke arah keduanya.


Tak ayal lagi, kedua murid Dewa Es Sesat itu tewas sebelum mereka menyelesaikan suara tawanya. Kepalanya menggelinding. Tepat. Cahaya biru tadi tak lain adalah Shin Shui.


Tadi setelah dua jurus milik lawannya menghantam Perisai Halilintar miliknya, dengan serta merta Shin Shui mengeluarkan jurus Langkah Kilat lalu melesat dengan sangat cepat. Sehingga musuhnya tidak menyadari bahwa itu adalah Shin Shui.


Akibatnya seperti sekarang ini, mereka tewas dengan rasa tak percaya sehingga matanya melotot dan memperlihatkan tatapan kebencian. Tapi semuanya sudah terlambat.


Pada akhirnya, mereka tewas karena nafsunya sendiri. Tewas karena ulahnya tadi. Itulah, umur tidak bisa menjamin bahwa yang tua lebih hebat daripada yang muda. Dalam segi apapun. Karena itulah, jangan merasa bangga sekalipun kau berada dihadapan orang yang usianya lebih muda darimu.


Asumsi mereka yang mengatakan bahwa Shin Shui lemah, ternyata sebaliknya. Merekalah yang lemah. Sehingga keduanya harus rela kehilangan nyawa.


Shin Shui segera menghampiri Kwei Moi setelah pertarungannya selesai. Dia melihat pendekar wanita itu sedikit membuka mulut karena mungkin tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.


"Kwei Moi, silahkan kau ambil harta yang mereka miliki. Mungkin akan berguna untukmu nanti," kata Shin Shui setelah tiba dihadapan wanita itu dan membuyarkan lamunannya.


"Ahhh … emmm … kenapa tidak kau saja Shin Shui? Kau kan yang bertarung melawan mereka. Jadi aku rasa, kau lebih pantas merampas hartanya," jawab Kwei Moi sedikit kaget.


"Tidak. Aku sudah memiliki banyak perbekalan. Kau saja," pinta Shin Shui.


Tanpa banyak berkata lagi, Kwei Moi pun lalu menghampiri kedua murid Dewa Es Sesar yang kini tewas mengenaskan itu. Kwei Moi lalu merampas harta keduanya. Tidak banyak kepingan emas yang dia dapatkan. Tapi setidaknya memang akan cukup membantu.


Setelah selesai, keduanya pun lalu kembali melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini tidak bersantai lagi. Mereka langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


###

__ADS_1


Mohon maaf agak telat upnya, tadi ada urusan harus keluar dan pulang kehujanan😁jadi sekarang masih kurang enak badan. Semoga difahami ya🙏satu lagi mungkin nanti bakal nyusul🙏


__ADS_2