
Pedang sang algojo sudah menempel pada leher ayah Kwei Moi. Orang-orang yang tidak sanggup melihat kekejaman ini menutup matanya kuat-kuat. Ada juga yang menutup mata dengan kedua tangannya.
Nafas mereka terasa sedikit sesak. Bukan tanpa alasan, hal ini tak lain karena mengingat betapa kejamnya Perguruan Tapak Es. Bagaimana mungkin hanya karena seorang wanita yang tidak mau dijadikan istrinya, sampai-sampai Dewa Es Sesat menyuruh untuk memenggal kepala ayah wanita yang diingankannya?
Konyol bukan? Tapi begitulah adanya. Padahal yang namanya cinta itu tidak dapat dipaksakan. Karena pada hakikatnya, cinta memanglah bukan paksaan. Cinta ada karena sendirinya.
Tapi apa mau dikata? Begitulah sifat manusia. Ketika dititipkan sebuah jabatan, maka manusia kadang lupa bahwa yang dia miliki saat ini hanyalah sementara.
Memang, sampai kapanpun hukum rimba akan tetap berlaku. Yang kuat yang menang. Yang berkuasa tak jarang melakukan sesuatu yang sewenang-wenang. Bukan hanya dulu, sekarang pun kita masih bisa menyaksikan semuanya.
Manusia adalah makhluk yang paling ambisius. Ketika mereka sudah sampai pada keinginan awal, maka akan keluar keinginan yang lainnya pula. Terus begitu sampai nyawa lepas dari raga.
Ketika manusia diberi sebongkah emas, pasti dia akan meminta emas tambahan lagi. Ketika manusia diberi kekuasaan, pasti dia akan berkeinginan untuk menambah lagi kekuasaannya dan memanfaatkannya sesuai kehendak. Meskipun tidak semua, tapi kebanyakan tanpa disadari memang seperti itu.
Di jajaran orang-orang yang hadir, Kwei Moi sudah tak bisa lagi menahan diri. Air matanya sudah membasahi pipi lembut pendekar wanita itu.
Kwei Moi sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Dia berniat untuk melesat ke depan dimana ayahnya akan dipenggal.
Tapi sayangnya niat Kwei Moi diketahui oleh Shin Shui, sehingga ketika gadis itu berniat melesat, dengan gerakan cepat Shin Shui segera menahannya dengan mencengkram tangan Kwei Moi kuat-kuat.
"Tenangkan dirimu Kwei Moi. Kita tidak bisa bertindak gegabah, apalagi jika kau yang maju langsung. Mereka pastinya akan mengincar dirimu, dan bukan tidak mungkin bahwa mereka bahkan mengincar nyawamu," kata Shin Shui mengingatkan.
__ADS_1
Ucapan pemuda biru itu memang ada benarnya. Jika Kwei Moi yang langsung maju, maka pastinya dia akan berada dalam posisi bahaya.
Apalagi dalam keadaan seperti ini. Dewa Es Sesat melakukan eksekusi ini juga karena tak lain sudah merasa sangat marah dan benci dengan wanita itu. Maka untuk melampiaskannya, Dewa Es Sesat memilih untuk memenggal kepala ayah Kwei Moi.
Jika wanita yang tidak diingankan tidak bisa hidup bersama, maka biarlah dia menderita selama hidupnya. Kira-kira seperti itu pemikiran sang Dewa Es Sesat.
Kwei Moi tak menjawab ketika Shin Shui berucap demikian. Pendekar wanita itu hanya bisa berlarut dalam kesedihannya sambil memandang wajah Shin Shui.
"Tenang saja. Aku tahu perasaanmu, karena itulah aku menyuruhmu untuk tidak bertindak bodoh. Biar aku saja yang turun tangan langsung untuk menyelamatkan ayahmu," kata Shin Shui yang mengerti makna dari pandangan Kwei Moi itu.
Tak berselang lama saat Shin Shui menyelesaikan ucapannya itu, tiba-tiba terdengar suara orang-orang yang menjerit.
Ternyata algojo itu sudah siap-siap untuk memenggal kepala ayah Kwei Moi. Pedang berbentuk bulan sabit sudah diangkat tinggi-tinggi.
Pedang yang teramat sangat tajam itu sudah diayunkan. Dan tepat ketika pedang berada dalam jarak sejengkal dengan batang leher, tiba-tiba saja sebuah cahaya biru melesat dengan kecepatan sangat tinggi.
Tidak ada yang tahu darimana arah datangnya cahaya itu. Yang jelas cahaya biru menyambar kepada pedang algojo sehingga membuat pedang itu patah menjadi dua bagian.
Tak lama, cahaya biru tadi berhenti ditengah-tengah mimbar yang dijadikan tempat eksekusi. Sekarang yang terlihat bukanlah cahaya biru, lebih tepatnya seorang pendekar muda memakai pakaian serba biru.
Jubahnya berkibar gagah. Rambutnya bergoyang-goyang. Matanya memicing tajam ke arah sang algojo. Semua orang menahan nafasnya. Mata mereka terbelalak. Bukan hanya orang-orang saja, bahkan Dewa Es Sesat dan sang algojo sendiri pun demikian.
__ADS_1
Mereka sungguh kaget, terlebih karena tidak menyadari datangnya cahaya biru tadi. Bahkan Dewa Es Sesat sendiri pun hanya bisa melihat dengan samar bahwa cahaya itu merupakan manusia.
Jadi dia tidak terlalu yakin tadinya. Tapi sekarang, ketika sudah melihat yang sebenarnya, barulah dia tak dapat menahan keterkejutannya.
Siapa dia? Dari mana asalnya? Dan siapa pula seorang pendekar muda yang berani menantang bahkan bisa dibilang menyerang ke sarang musuh? Sungguh perbuatan yang bodoh.
"Keparat, siapa kau? Berani sekali mencari masalah dengan Dewa Es Sesat. Apakah sudah bosan hidup?" tanyanya dengan amarah yang sudah memuncak.
"Siapa aku tidak penting. Yang penting sekarang, lepaskan orang tua itu atau kalian akan tahu akibatnya," kata pendekar berpakaian serba biru yang tak lain adalah Shin Shui.
Mendengar perkataan ini, orang-orang yang hadir sekali lagi menahan nafasnya. Apakah pendekar muda itu sungguh bodoh sehingga berani berkata demikian? Apakah dia tidak menyadari siapa yang sedang dia hadapi saat ini?
Pikiran orang-orang yang hadir baik dari kalangan pendekar maupun kalangan biasa memikirkan hal yang sama. Mereka sungguh penasaran dengan kedatangan pendekar muda yang secara tiba-tiba tersebut.
Tapi tak sedikit para pendekar yang merasa senang. Pada akhirnya ada juga yang berani mencari masalah dengan Dewa Es Sesat. Seperti beberapa hari lalu, jika ada yang berani menggagalkan eksekusi mati, maka para pendekar lain siap membantu jika terjadi sebuah pertarungan. Dan tampaknya hal itu bukanlah suatu yang mustahil. Karena sekarang, sang pahlawan sudah tiba.
###
Terimakasih sudah mengikuti LPH sejauh ini. Kekurangan LPH kira-kira apa ya? Jika ada silahkan sampaikan supaya author bisa memperbaikinya lagi.
Dan untuk jalannya cerita atau gaya penulisan, seperti yang author bicarakan dulu. Author mengikuti gaya penulis zaman dahulu yang menerangkan kejadian sepenuhnya. Supaya apa? Setidaknya supaya membuat pembaca masuk dalam kejadian itu sendiri.
__ADS_1
Terimakasih, salam manis😁☕
Jangan lupa like dan juga baca Cakra Buana ya🙏