
Orang-orang yang melihat kejadian itu menjadi tegang, wajah mereka mendadak murung. Mereka sudah menganggap bahwa pemuda itu benar-benar telah tewas di dalam pusaran debu.
"Ti-tidak … kau jangan kalah pendekar tampan. Ayo … aku dan orang-orang mendukungmu." teriak gadis yang sempat pingsan tadi. Dia berharap Shin Shui tidak tewas.
"Ayo … pendekar muda."
"Semangat …."
"Bangun anak muda … kalahkan tikus-tikus got itu."
Teriakan demi teriakan mulai terdengar. Orang-orang yang menyaksikan mulai memberikan semangat untuk Shin Shui. Hinga pada akhirnya, pendekar yang membuat pusaran debu menjadi geram kepada orang-orang.
"Diam …." matanya merah, dia melotot kearah orang-orang itu saking kesalnya. "Apa kalian buta … hah? Lihat, pendekar yang kalian harapkan sudah tewas. Biarkan aku sekarang membalas hinaan kalian manusia keparat." Pendekar Dewa itu nampak marah saat mengingat bagaimana dirinya dijadikan bahan cemoohan.
Tapi sebelum semuanya terjadi, keanehan mulai nampak dibalik debu yang sedikit memudar. Ada sesosok bayangan seperti orang sedang duduk menopang dagu disana. Saat ini, semua mata tertuju pada titik yang sama. Mereka semua memperhatikan bayangan itu dengan serius, semuanya penasaran, termasuk para pendekar walikota Huan Xi.
"Hemmm … apakah sudah selesai ocehan mulut kalian yang busuk itu para orang tua yang tidak tahu malu?" ucap bayangan itu sembari mengibaskan tangan dan menciptkan angin untuk membuat debu itu perlahan memudar.
Kini, semua mata yang tertuju kaget bukan kepalang. Mata mereka melotot tak percaya, mulut mereka terbuka lebar.
"Ti-tidak mungkin … ba-bagaimana mungkin kau bisa selamat?" salah seorang pendekar walikota Huan Xi berkata dengan nada gugup tidak percaya setelah tahu siapa sosok bayangan dibalik debu itu.
__ADS_1
"Hemmm … tentu saja bisa. Manusia rendahan … tidak punya moral … bukannya melindungi yang lemah, malah kalian akan menyerangnya."
"ROARRR …" sosok itu meraum dengan keras, suaranya begitu menggema di udara hampa. Ya benar … dia adalah Cuan Fei, jelmaan naga emas yang sedang merasuki tubuh Shin Shui.
Angin kencang menghempaskan para pendekar itu dengan keras, sebagian dari mereka menabrak pohon yang ada di belakangnya. Mereka terkejut bukan kepalang, termasuk orang-orang yang sedang menontonnya.
"Si-siapa kau sebenarnya? Kalau kau bertindak lebih jauh, kami akan melaporkan kejadian ini kepada walikota." ujar salahsatu pendekar. Jelas, mereka saat ini sudah benar-benar berada di ambang ketakutan.
Keringat dingin semakin membasahi punggung mereka, termasuk para Pendekar Dewa sekalipun. Hatinya mengutuk pemuda yang ada di hadapannya.
"Kau pikir Kesatria ini takut dengan walikota? Hahahaha …" Shin Shui atau lebih tepatnya Cun Fei tersenyum sinis kepada mereka. "Tidak ada kata takut bagi Kesatria Naga Emas ini. Kau pikir kalian siapa hah? Apa kalian berpikir bisa bebas dariku? Kau salah besar manusia rendahan."
Aura pembunuh yang besar mulai terasa oleh para pendekar itu. Cahaya emas yang berkilau mulai keluar dari tubuh Shin Shui. Sorot matanya tajam bagaikan pisau.
Kini Shin Shui sudah berada dalam jarak dekat dengan mereka. Mereka sudah benar-benar tidak bisa melakukan apapun, jangankan untuk melawan, untuk bergerak sedikitpun tidak bisa.
"Ampun … ampuni kami satria, ampuni kami yang tidak bisa menyadari kehebatan satria." kata salahsatu Pendekar itu. Dia memaksa bicara dengan susah payah, berharap pemuda yang sedang dirasuki itu memberikan pengampunan.
"Tadi kalian berlagak seperti penguasa, sekarang seperti orang hina. Dalam kamus pendekarku, tidak ada pengampunan bagi manusia rendahan seperti kalian." Shin Shui atau Cun Fei langsung bergerak menyerang mereka tanpa perlawanan. Satu-persatu dari mereka mulai meregang nyawanya.
"SLASHH."
__ADS_1
"Ahhh …"
"Ti-tidak …"
"Ahhh …"
Mati. Mereka semua tewas, tidak ada yang tersisa dari pendekar walikota Huan Xi. Mereka tewas dengan tusukan tepat di jantung masing-masing. Tidak ada yang menyadari bagaimana pemuda itu melakukannya.
Orang-orang yang melihatnya menjadi ketakutan, mereka khawatir akan menjadi korban selanjutnya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melukai kalian. Terimakasih sudah memberikan semangat untukku supaya membunuh manusia rendahan ini, hahaha …" Cun Fei tertawa lantang.
"Sampai jumpa lagi." ucapnya. Pemuda itu langsung pingsan setelah mengucapkan selamat tinggal.
Sorak sorai mulai terdengar bersahutan setelah pemuda itu membunuh para pendekar walikota Huan Xi. Walaupun mereka tahu bahwa pemuda itu sedang dirasuki roh sesaat sebelumnya, tapi mereka tidak ketakutan setelah apa yang dikatakan oleh roh yang sedang merasukinya.
Terimakasih untuk kakak-kakak yang sudah sudi membaca karya saya. Kalau tidak keberatan, jangan lupa like, vote dan jadikan favorite😁jangan lupa bacanya harus sambil ngopi😁
emmm … kalau buat group whatsapp untuk sekedar silaturahmi dan menambah teman ada banyak yang berminat? kalau lebih dari sepuluh orang mungkin bisa membuat group. Tinggalkan nomor kakak-kakak di kolom komentar. Atau kirim ke group chat Npveltoon.
Satu lagi😁mending up dua episode setiap hari tapi chapter agak sedikit dan malam Minggu crazy up. Atau mending setiap hari sati chapter panjang? Tapi malam Minggu tidak crazy up?
__ADS_1
Terimakasih😁🙏