Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kecemasan Kwei Moi


__ADS_3

Kini Shin Shui dan Kwei Moi sudah berada jauh dari hutan tempat Shin Shui bertarung tadi karena keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat.


Shin Shui sudah tidak ingin berlama-lama lagi kali ini. Selain memang harus menyelamatkan ayah Kwei Moi, pemuda biru itu juga harus menyelamatkan tanah airnya dari kehancuran era kekacauan.


Shin Shui dan Kwei Moi terus berlari tanpa henti kecuali hanya untuk sekedar makan, ataupun sesuatu yang penting bagi mereka.


Tapi untungnya, setelah kejadian melawan murid dari Dewa Es Sesat, tidak ada halangan lain lagi yang lebih berarti. Sehingga beberapa hari kemudian keduanya sudah tiba disebuah kota yang berdekatan dengan kota Qin-Dong, kota asal Kwei Moi.


Kota itu cukup besar dan juga ramai. Selain itu, kota tersebut juga terlihat sangat damai. Dimana penduduknya banyak yang menjadi pedagang.


Saat ini keduanya sudah memasuki kota tersebut dan sedang mencari rumah makan. Mereka sudah merasa lapar dan juga sedikit lelah. Sehingga Shin Shui dan Kwei Moi memilih untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan kembali.


Tidak sulit untuk mencari sebuah restoran disana, sehingga hanya beberapa saat saja mereka sudah menemukan sebuah restoran yang cukup ramai.


Keduanya pun lalu masuk ke restoran itu dan duduk disebuah meja yang tempatnya berada ditengah-tengah. Di pinggir mereka ada juga beberapa orang yang berpenampilan seperti pendekar. Mereka ini sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya penting.


"Hei apakah kau dengar tentang Perguruan Tapak Es? Katanya Dewa Es Sesat akan melakukan eksekusi mati kepada seseorang," kata salahsatu diantara mereka.


"Kau tahu darimana? Memangnya, siapa yang akan di eksekusi matinya dan dengan cara apa?"

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu, karena memang aku tinggal dikota Qin-Dong. Entahlah akupun tak tahu, tapi menurut informasi yang aku dapatkan, katanya seseorang itu merupakan ayah dari wanita yang diinginkan oleh Dewa Es Sesat untuk menjadi istrinya. Sayangnya si wanita ini kabur entah kemana dan sudah hampir sepuluh hari tak juga kembali. Awalnya Dewa Es Sesat hanya menjadikan ayah wanita itu sebagai tawanan saja dengan harapan si wanita kembali dan menyelamatkan ayahnya."


"Tapi karena lama tidak juga kembali. Akhirnya Dewa Es Sesat mengambil keputusan untuk mengeksekusinya dengan cara dipenggal kepalanya. Katanya si, eksekusi mati ini akan dihadiri orang-orang kota Qin-Dong. Tujuannya supaya mereka tahu bahwa siapa saja yang melawannya maka akan bernasib mengenaskan seperti halnya pria itu," ucapnya panjang lebar.


"Wahhh … malang sekali nasibnya ya. Memangnya selama Perguruan Tapak Es melakukan tindakan yang tidak berprikemanusiaan tidak ada yang berani menghalangi ataupun melawannya?"


"Tentu saja ada. Tapi semua pendekar yany berani menentangnya bernasib sama. Mereka tewas secara mengenaskan," katanya.


"Hemmm … jika seperti ini, tentunya kota Qin-Dong yang damai akan menjadi kacau karena si Dewa Es Sesat itu,"


"Memang begitu. Makanya aku berharap ada pendekar yang menjunjung tinggi keadilan mau membantu untuk mengalahkan dia,"


"Tentu saja aku yakin. Lagi pula memang semua orang tidak suka padanya. Aku yakin itu," katanya.


Shin Shui dan Kwei Moi hanya diam tak bicara mendengar perbincangan para pendekar itu. Keduanya lebih memilih diam seribu bahasa karena takut ketahuan siapa mereka.


Tapi meskipun diam, Kwei Moi sebenarnya merasa gelisah sekali. Apalagi ketika para pendekar itu membicarakan bahwa Dewa Es Sesat akan mengeksekusi mati ayahnya.


Anak mana yang akan tenang dan diam saja saat mendengar bahwa orang tuanya bagaikan telur diujung tanduk? Tentu saja siapapun akan merasa gelisah, cemas, sedih, dan tentunya ada perasaan lain yang hanya mereka sendiri yang mampu mengatakannya.

__ADS_1


Tapi meskipun demikian, Kwei Moi tidak membuka suara sama sekali. Saat ini dia memilih untuk diam dan menutup mulut rapat-rapat. Begitupun Shin Shui, pemuda biru itu seperti acuh tak acuh. Padahal dadanya sudah panas mendengar sekilas tentang Dewa Es Sesat itu.


Pesanan Shin Shui dan Kwei Moi sudah datang. Tanpa banyak bicara keduanya langsung menyantapnya. Setelah selesai, Shin Shui buru-buru membayar biaya makannya itu.


Kedua pendekar muda yang tadinya berniat untuk istirahat, sekejap saja sudah menghilangkan niat itu. Keduanya memilih untuk kembali melakukan perjalanan secepat yang mereka bisa.


Sepanjang perjalanan, tidak ada satu suarapun terucap dari mulut keduanya. Shin Shui dan Kwei Moi memilih diam sejauh ini. Hingga akhirnya Shin Shui sendirilah yang angkat bicara.


"Kwei Moi, apakah kau mendengar percakapan para pendekar tadi?" tanya Shin Shui memecah keheningan.


"Tentu saja. Bahkan sangat, sangat mendengar," jawabnya sedikit sedih.


"Apakah kau tahu maksud dari mereka semua?"


"Sangat tahu. Seseorang yang mereka maksud adalah ayah. Dan wanita yang mereka maksud adalah diriku sendiri," kata Kwei Moi.


"Tepat. Karena itulah aku tidak jadi untuk beristirahat. Kita harus sampai kesana secepat mungkin supaya bisa menyelamatkan ayahmu," kata Shin Shui lalu meningkatkan kecepatan larinya.


Tapi karena ternyata Kwei Moi tidak bisa menyusul dirinya, Shin Shui pun kembali mengurangi kecepatannya supaya Kwei Moi bisa menyusul.

__ADS_1


__ADS_2