
"Ka-kau … bagaimana bisa kau masih hidup? Padahal tadi kau sudah mati? Ka-kau bukan manusia …" pemimpin pria ketakutan ketika Shin Shui mulai berjalan perlahan ke arahnya.
"Hahaha … siapa bilang aku sudah mati? Jangan mimpi kau bisa membunuhku hanya dengan jurus murahan. Aku tadi hanya bermain-main saja," kata Shin Shui sambil tertawa mengejek.
Belum sempat mereka menjawab, tiba-tiba saja Shin Shui sudah ada didepan mereka. Tanpa banyak cakap lagi, pemuda biru itu langsung menyerang keempatnya dengan serangan tapak yang telak menghantam dada hingga keempatnya terpental sampai dua tombak.
Kedua ketua perampok langsung muntah darah, sedangkan dua pemimpinnya meringis kesakitan, karena memang diam-diam Shin Shui mengeluarkan jurus "Tapak Halilintar".
Kedua ketua itu berniat untuk bangun, tapi lagi-lagi secara tiba-tiba, Shin Shui sudah kembali berada dihadapan keduanya.
"Kau tadi mengejekku kan? Rupanya kalian belum kapok, baiklah. Biarkan aku patahkan kedua tangan dan kaki kalian, lalu aku akan mematahkan batang leher kalian …" kata Shin Shui dengan menatap tajam.
Tentu saja kedua ketua itu langsung ketakutan bukan main, wajahnya tiba-tiba pucat. Tubuhnya mengigil seperti kedinginan. Dannn …
"KRAKK …"
"KRAKK …"
"Ahhh …" patah.
Shin Shui berhasil mematahkan kedua kaki dan tangan mereka sehingga membuat keduanya merintih menahan sakit.
"Ampun pendekar muda, ampun," pinta si Pendekar Golok Merah.
"Ampun? Hahaha … apakah kalian juga memberi ampun saat warga desa tidak memberi jatah kepada kalian?" tanya Shin Shui dengan ekspresi wajah menyeramkan.
Kedua ketua itu tidak dapat membalas ucapan Shin Shui. Mereka hanya bisa menyesali dsn meratap pedih nasib yang akan diterima.
__ADS_1
Lalu kemudian Shin Shui menghantam kembali dada kedua ketua itu hingga mereka terpental lagi dan langsung pingsan. Darah terus keluar dari mulutnya, Shin Shui memang tidak membunuh kedua ketua itu, tapi dia membuatnya lumpuh untuk selamanya. Sebenarnya ini lebih menderita daripada kematian sekalipun.
Di sisi lain, para warga yang menyaksikan kejadian ini pun bergidik ngeri. Tak disangka oleh mereka bahwa pemuda yang amat ramah dan menyenangkan bisa berbuat sadis terhadap lawannya. Tapi memang begitulah sifat Shin Shui.
Siapa yang menanam pisang, maka orang itu pasti memanen pisang dan merasakan manisnya. Siapa yang menanam nanas, maka orang itu pula akan memanen nanas dan akan merasakan asamnya.
Sedangkan kedua pimpinan Perampok Ular Hitam atau Pendekar Sepasang Ular Pemangsa, kini mereka hanya bisa menyesal karena sudah menyinggung dan menganggap remeh Shin Shui.
Kedua pemimpin itu baru sadar bahwa mereka sudah mengusik monster yang tertidur.
"Sekarang giliran kalian, berapa banyak nyawa yang sudah kalian bunuh? Dan berapa banyak dosa yang sudah kalian lakukan terhadap manusia? Sekarang sudah saatnya bagi kalian untuk menanggung akibat dari semua perbuatan kalian," kata Shin Shui sambil berjalan ke arah keduanya.
Tapi meskipun merasa ketakutan, kedua pimpinan itu tidak mau jika mati tanpa perlawanan. Meskipun sudah terluka dalam karena serangan tapak Shin Shui, mereka masih berniat untuk menyerang kembali.
Keduanya lalu mencabut pedang yang daritadi tersarung rapi di pinggangnya. Dengan secepat kilat kedua pimpinan itu melesat ke arah Shin Shui dan langsung mengayunkan senjatanya.
Shin Shui pun tak mau kalah, dia langsung mengeluarkan Pedang Halilintar miliknya lalu melayani kedua pimpinan tersebut.
Suara beradunya senjata mulai terdengar. Percikan bunga api mulai terlihat, kedua pimpinan Perampok Ular Hitam itu menyerang dengan sekuat tenaga.
Sayang, kali ini Shin Shui melayani mereka dengan serius. Sehingga tak satupun serangan yang diberikan bisa melukainya.
"Tebasan Halilintar …"
"WUSHH …"
Tiba-tiba kilatan halilintar mendadak membesar pada pedang pusaka itu. Dengan segera Shin Shui menyerang balik dengan kecepatan bagai kilat. Hingga tak lama kemudian …
__ADS_1
"Ahhh …" mati.
Pada akhirnya kedua pimpinan Perampok Ular Hitam yang selama ini meresahkan para warga tewas oleh pemuda bernama Shin Shui. Keduanya tewas dengan tanpa kepala. Bahkan tak ada darah yang keluar dari bekas tebasannya. Yang ada hanyalah bekas hitam pada leher mereka, seperti halnya terbakar.
Para petinggi Perampok Ular Hitam tewas akibat perbuatannya sendiri. Biasanya mereka yang selalu membunuh, dan kini malah mereka yang terbunuh. Biasanya mereka yang memberikan rasa sakit, kini malah mereka yang merasakan sakit.
Begitulah hidup. Apa yang kita lakukan pasti akan kita rasakan. Inilah yang disebut sebab akibat perbuatan. Percaya atau tidak, tapi hal seperti ini akan selalu terjadi selama nyawa masih dikandung badan.
Para penduduk kembali merasakan kebahagiaan, sekarang mereka sudah benar-benar terbebas dari ancaman dan bisa hidup damai seperti sedia kala.
Sorak-sorai kembali terdengar, tapi tidak seramai tadi. Maklum, para warga desa Teratai Merah masih terbayang saat bagaimana pemuda biru itu menyiksa dan membunuh lawannya.
Kejam terhadap musuh, tapi tidak terhadap kawan. Benci terhadap setiap kejahatan, tapi amat menyukai perdamaian. Itulah Shin Shui, sang Pendekar Halilintar.
Setiap manusia pastilah memiliki ciri khas, termasuk Shin Shui pun begitu. Bahkan kalian pun pasti memikiki ciri khas tanpa kalian sadari, termasuk author dalam menyuguhkan karya ini.
Shin Shui lalu menghampiri para warga setelah urusannya selesai. Dia menghampiri kesemua warga dengan senyuman hangat yang memikat, sifat kejamnya benar-benar lenyap saat itu juga. Sehingga para warga kembali melupakan kekejaman yang sudah dia lakukan.
"Terimakasih tuan muda. Lagi-lagi kau menolong dan menyelamatkan kami dari semua ini," ucap salah seorang warga sambil memberi hormat lalu diikuti yang lainnya.
"Tidak perlu seperti ini. Semua ini sudah menjadi kewajibaku," balas Shin Shui sambil hormat pula.
"Sebaiknya kalian segera istirahat saja, hari sudah larut malam. Beristirahatlah dengan tenang, sekarang sudah tidak ada lagi setan-setan berbentuk manusia seperti sebelumnya," kata Shin Shui menyuruh para warga kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Para warga pun menurut, tanpa basa-basi merela segera kembali ke rumahnya masing-masing. Melihat hal ini, Shin Shui pun hanya bisa tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa membantu kembali orang-orang yang berada dalam kurungan ketakutan.
###
__ADS_1
Semoga terhibur ya🙏