Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Shushi, Cepatlah Pulang Aku Membutuhkan Bantuanmu


__ADS_3

Di tempat lain disebuah restoran, Shui Shui baru selesai mengisi perutnya. Sekarang dia sedang menikmati satu guci arak sambil melihat-lihat keadaan sekitar.


Jarak dirinya dan restoran yang ada di desa Perbatasan tidaklah jauh. Paling hanya terpaut satu desa saja dengan restoran yang dia kunjungi sekarang.


Hanya saja letak restoran itu sebelum desa Perbatasan. Jarak normal dari restoran itu ke sekte Bukit Halilintar paling hanya kurang lebih satu jam, karena jarak dari restoran Perbatasan ke sektenya sekitar setengah jam.


Shin Shui terus meneguk arak yang memiliki harum aroma yang khas itu. Terpaan angin sepoi-sepoi terasa memanjakan dirinya. Ramainya restoran tidak mengganggu khayalan Shin Shui.


Saat ini pemuda biru itu sedang berkhayal tentang bagaimana reaksi orang-orang yang ada di sekte Bukit Halilintar ketika mengetahui dirinya sudah pulang.


Ahhh … betapa indahnya berkhayal itu. Sesuatu yang tidak mungkin pun bisa jadi mungkin. Tapi tepat ketika dia membayangkan wajah cantik Yun Mei, tiba-tiba ada sebuah bisikan di kedua telinganya.


"Shushi, cepatlah pulang. Aku membutuhkan bantuanmu. Sekte kita diujung tanduk …" bunyi bisikan itu.


Dan bisikan itu juga terdengar sangat mirip dengan suara wanita yang dia sayangi, yaitu Yun Mei. Tapi perlahan suara itu semakin terdengar kecil lalu menghilang.


Tiba-tiba saja hati Shin Shui berfirasat buruk. Jantungnya berdetak tidak karuan. Nafasnya mendadak terengah-engah. Entah apa yang terjadi sebenarnya, dia tidak tahu pasti.


Tanpa basa-basi lagi, Shin Shui lalu membayar ke kasir untuk biaya makan dirinya lalu langsung pergi meninggalkan restoran itu.


Meskipun kondisi diluar tak kalah ramai, dia sudah masa bodo. Shin Shui langsung terbang dengan kecepatan tinggi bersama burung phoenix biru.


Dia bahkan terbang dengan kecepatan maksimal, sehingga jarak tempuhnya bisa dilipat beberapa kali lebih cepat. Dulu mungkin mustahil, tapi sekarang tidak.


Apalagi dalam keadaan kaget. Orang yang dalam keadaan kaget biasanya bisa melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan ketika keadaan normal.


Hanya beberapa saat saja, Shin Shui sudah melewati restoran Perbatasan tempat dimana kedua belas pendekar yang kini menghancurkan sektenya makan.


Shin Shui terus terbang tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang tertegun melihat sesuatu terbang yang begitu cepat. Gerbang sekte Bukit Halilintar sudah terlihat.

__ADS_1


Pemuda biru itu lalu meningkatkan kecepatannya lagi. Sehingga dia lebih pantas disebut bayangan saja karena saking cepatnya.


Sementara itu di sekte Bukit Halilintar, kini keadaan sungguh kacau balau tidak karuan. Para tetua termasuk Yashou dan Yun Mei sudah diikat ditiang dengan kondisi kaki dan tangan diborgol.


Luka pada masing-masing tubuh tetua sudah kering. Sehingga darah pun sudah melekat pada pakaian dan tubuh mereka. Bau amis sudah tercium dengan jelas.


Beberapa anggota murid ada yang tewas karena berusaha melawan ketika melihat tetua dan guru mereka diperlakukan secara tidak manusiawi.


"Sebelum kalian aku bunuh secara sadis, lebih baik kalian menyerah dan bergabung saja dengan kami. Dengan begitu, kami akan membebaskan kalian semua," kata Pangeran Iblis sambil memandang para tetua secara bergantian.


Kesebelas pendekar bawahan Pangeran Iblis sudah memegang senjata masing-masing. Tinggal menunggu intruksi dari Pangeran Iblis, maka para tetua itu akan tewas dengan kondisi mengenaskan.


"Sampai kapan pun kami tidak akan sudi bergabung dengan kalian. Kami lebih baik mati terhormat dengan membela sekte dan kebenaran daripada harus hidup sebagai pecundang dan bergabung dengan manusia iblis seperti kalian …" kata Yun Mei dengan tegas, nafasnya tak lama terengah-engah karena dia memaksa untuk bicara.


"Shushi, jika aku tidak bisa bertemu denganmu lagi, aku harap kau tidak akan pernah melupakanku," ucap Yun Mei lirih.


Tak terasa air mata pun mengalir membasahi kedua pipinya yang kini sudah kotor dan kusam karena debu. Bahkan wajah cantiknya sudah tidak terlihat akibat banyaknya debu.


Dia tidak menyadari bahwa saat ini, sekitar jarak seratus meter, seseorang sedang menuju ke tempat itu dengan amarah yang meluap.


Pangeran Iblis itu lalu menyuruh bawahannya untuk membuka ikat Yun Mei. Lalu kedua pendekar bawahannya membaringkan Yun Mei dan disuruh untuk memegangi tangan.


Nafsu bejad seperti iblis sudah menguasai dirinya. Perlahan dia membuka paksa pakaian pendekar wanita malang itu. Tapi baru membuka separuh saja, tiba-tiba tanah disekitar mereka bergetar hebat.


Lalu tak lama gerbang utama pun terdengar hancur. Semua orang yang ada disitu termasuk Pangeran Iblis sendiri pun kaget.


Tiba-tiba saja, sebuah angin menerpa seisi sekte Bukit Halilintar hingga debu mengepul. Hawa panas semakin terasa disekitar tempat tersebut.


Tepat ketika debu yang mengepul itu lenyap, tak jauh dari mereka berdiri, kira-kira jarak delapan tombak, nampak seorang pendekar yang memakai pakaian serba biru.

__ADS_1


Di samping kanan dan kirinya ada dua ekor kera berwarna putih yang memiliki ukuran tidak wajar, dikepalanya terlihat ada sebuah mahkota yang nampak indah.


Diatas pundak pendekar biru itu ada seekor burung phoenix berwarna biru, keempatnya sungguh memperlihatkan amarah yang meluap-luap.


"Keparat jahanam …" kata pendekar biru yang tak lain adalah Shin Shui.


Matanya sudah mengeluarkan kilatan biru halilintar. Bahkan ketiga hewan peliharaannya pun demikian.


Kedua siluman kera putih yang tak lain adalah San-ong dan Ong-san sudah mengeluarkan energi mereka yang mirip api dan sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.


Bahkan phoenix biru pun tak segan untuk mengeluarkan kekuatannya, seluruh tubuhnya sudah dipenuhi kilatan halilintar layaknya Shin Shui.


Keempatnya mengeluarkan kemampuan mereka hingga membuat orang-orang cukup kaget. Bahkan udara disana pun terasa sesak akibat besarnya energi yang dikeluarkan oleh Shin Shui dan tiga peliharaannya.


"Siapa kalian? Jangan berani ikut campur jika tidak ingin kehilangan nyawa …" kata Pangeran Iblis dengan sangat marah.


"Siapa aku itu tidak penting. Yang jelas, akulah malaikat kematian bagi kalian para manusia iblis …" kata Shin Shui dengan suara yang menyeramkan.


"Sombong, kau pikir dengan dirimu yang seorang diri dan juga tiga binatang bodoh ini bisa mengalahkan kami? Jangan mimpi … hahaha," kata si Pangeran Iblis sambil meremehkan.


"Hahaha … mari kita buktikan para pecundang … aku yang kalah, atau kalian yang tewas dengan menyedihkan …" kata Shin Shui dengan tegas.


Deru angin kembali menerpa dirinya sehingga membuat rambut dan zubah yang dia kenakan berkibar. Hingga membuat semakin gagah sang Pendekar Halilintar.


Mendengar jawaban Shin Shui, tentu kedua belas pendekar itupun semakin marah. Karena menurut penilaian mereka, pendekar yang tiba-tiba datang ini sama saja dengan meremehkannya.


Lalu kedua belas pendekar pun berkumpul di satu titik. Sehingga sekarang Shin Shui dan kelompok Pangeran Iblis sudah saling berhadapan.


###

__ADS_1


Satu lagi nanti yah. Masih ada kerjaan🙏


__ADS_2