Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Halilintar Menghancurkan Kegelapan


__ADS_3

Tidak berhenti sampai disitu, Liu Jang Liang kembali melesat ke arah Shin Shui dan terus menyerang. Shin Shui yang masih merasakan semua tulangnya remuk hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.


Di sisi lain, orang-orang Bukit Awan mendadak panik melihat Shin Shui tidak melakukan serangan balasan ataupun menahannya, mereka berniat ingin segera membantunya. Tapi dengan segera Yashou mencegah niat orang-orangnya tersebut.


"Jangan membantah apa yang diucapkan Shui'er. Aku yakin pemuda itu tidak akan kalah semudah ini," kata Yashou meyakinkan.


Akhirnya mau tidak mau mereka hanya bisa berharap bahwa Shin Shui bisa memenangkan pertarungan hidup dan mati itu. Yun Mei yang melihat kejadian ini mendadak meneteskan air matanya.


"Kau jangan kalah Shin Shui, kau bilang mau melindungiku kan? Jika kau kalah bagaimana bisa kau melindungiku nantinya? Ayooo berjuanglah … aku mohon, bangun," ucap Yun Mei.


Gadis itu berucap demikian sembari bersimpuh lemas. Matanya menatap nanar Shin Shui, hatinya terasa sangat sakit ketika pemuda itu terus disiksa tanpa melawan. Bahkan rasa sakitnya mirip ketika dia kehilangan keluarganya.


Liu Jang Liang masih terus menyiksa Shin Shui hingga sekarang, tidak sedikitpun terlihat rasa belas kasihan terlukis diwajahnya. Yanh terlihat hanyalah dendam, dendam atas kematian keluarganya.


Sedangkan Shin Shui, sekarang bahkan luka yang cukup parah sudah menyelimuti seluruh tubuhnya. Pakaiannya yang berwarna biru, perlahan berubah bercampur warna darahnya.


"Aku akan mengakhiri pertarungan ini. Aku akan membalaskan dendam kematian keluargaku …" kata Liu Janh Liang dengan sangat marah.


"Tangan Dewa Kegelapan …"


"Mati kauu bocahh …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba langit bertambah hitam lagi, tak lama setelah itu muncul dua buah tangan raksasa dari langit. Tangan itu diselubungi oleh asap hitam yang membawa hawa kematian. Dengan sangat cepat tangan itu menimpa Shin Shui yang kini terluka parah tak berdaya.

__ADS_1


"BRUGG … DUARR …"


Dua jurus berbentuk tangan itu menimpa tubuh Shin Shui dengan sangat telak sehingga menciptakan lubang yang berdiameter sekitar lima puluh meter.


"Ahhh …" Shin Shui berteriak kesakitan dengan sangat keras.


"Tidakk …"


"Shui'er …"


"Tuan muda …"


Suara teriakan orang-orang mulai terdengar bersahutan. Kesedihan benar-benar melanda mereka, Yun Mei menangis histeris melihat kejadian ini. Hampir semua orang meneteskan air matanya.


Liu Jang Liang yang melihat musuhnya tidak berkutik sangat gembira. Bahkan dia tertawa dengan keras, pemimpin keluarga Liu itu berfikir bahwa dirinya sudah menang. Liu Jang Liang berniat untuk segera pergi setelah menunggu tidak ada pergerakan dari Shin Shui, tapi tiba-tiba …


Suara seorang pemuda dari bawah lubang besar tadi yang tak lain adalah Shin Shui terdengar jelas ditelinga semua yang hadir disana. Orang-orang Bukit Awan langsung merasa lega, meskipun mereka belum yakin bahwa itu adalah suara Shin Shui. Hal itu terjadi karena suaranya terdengar sangat serak.


Tiba-tiba dari bawah lubang besar mulai keluar cahaya biru yang sangat menyilaukan mata. Langit gelap gulita yang terdiam kini mulai mengeluarkan suara halilintar tanpa berhenti.


Suara halilintar itu terus bersahutan, angin yang sangat kencang mendadak menerpa bebatuan yang ada disana hingga terbang ke segala arah. Cahaya biru itu perlahan semakin menyeruak, Shin Shui tiba-tiba keluar dari lubang besar.


Tubuhnya diselimuti kilatan halilintar yang lebih besar dan lebih kuat daripada sebelumnya, Kalung Kristal Halilintar miliknya menyala dengan terang. Sepasang sayap halilintar muncul dengan kilatan tanpa henti.


Kejadian ketika melawan Pendekar Rantai Hitam terulang lagi, kalung itu mengeluarkan kekuatannya. Tubuh Shin Shui mulai bergerak sendiri meski dal keadaan sadar.

__ADS_1


Tiba-tiba saja mulut pemuda itu seperti bicara sendiri, tangan dan kepalanya terangkat keatas melihat langit yang harus mengeluarkan halilintar tanpa henti.


"Halilintar Menghancurkan Kegelapan …"


"Huaaa …"


"GELEGAR … DUARR …"


Langit seolah sangat marah, langit itu mengirimkan halilintar dan menyambar Liu Jang Liang tanpa henti. Pohon-pohon hangus terbakar, orang-orang yang berada dalam radius lima puluh meter terpental karena angin kencang yang merupakan efek dari kemarahan langit.


"Ahhh …" mati.


Liu Jang Liang beteriak dengan sangat keras menahan rasa sakit, pendekar itu terus disambar halilintar meskipun dirinya sudah tewas dan tubuhnya menghitam legam.


Hanya dengan satu kali jurus, keadaan berubah total. Sebagian Perguruan Bukit Awan hancur separuhnya, mayat yang sedari tadi utuh kini telah bercerai berai. Bahkan Liu Jang Liang pun tewas dengan kondisi tubah menjadi beberapa bagian karena terus disambar halilintar.


Setelah beberapa saat, akhirnya Shin Shui kembali normal seperti semua. Bajunya mengalami robekan di seluruh bagian. Luka-luka yang diberikan oleh Liu Jang mulai terlihat kembali diseluruh Shin Shui.


Setelah semuanya berakhir, segera saja Yashou menghampiri pemuda biru itu dan membantunya berjalan kembali ke dalam Perguruan Bukit Awan.


Shin Shui dan yang lainnya kini telah riba di Perguruan Bukit Awan, mereka semua tidak ada yang melanjutkan kegiatannya untuk latihan. Terlebih karena perguruan mereka hancur lebih dari setengahnya akibat pertarungan Shin Shui tadi.


Sedangkan Shin Shui sendiri kini tengah beristirahat setelah sebelumnya dia mengobati luka yang diderita, Yun Mei dengan sabar mendampingi Shin Shui dan selalu berada didekatnya.


"Mei'er, bagaimana keadaan Shui'er sekarang?" tanya Yashou kepada Yun Mei.

__ADS_1


"Kondisinya semakin membaik senior. Luka ditubuhnya sudah hampir kering semua, mari kita keluar. Aku ingin membiarkan Shin Shui berisitirahat lebih nyaman," kata Yun Mei sembari berjalan keluar diikuti Yashou di belakangnya.


__ADS_2